Viral Aksi Teror di New Zealand, Bisa Sebabkan Gangguan Psikologis

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Viral Aksi Teror di New Zealand, Bisa Sebabkan Gangguan Psikologis

Halodoc, Jakarta – Dunia kembali dihebohkan dengan aksi teror. Kali ini terjadi di Masjid Al Noor Christchurch, New Zealand, negara yang sempat dinobatkan sebagai tempat teraman di dunia pada tahun 2007 dan 2008. Hal ini mengindikasikan aksi teror bisa terjadi di mana saja, termasuk di negara yang tergolong aman sekalipun.

Baca Juga: Stop Sebar Foto Korban Aksi teror! Inilah Dampak Psikologisnya

Aksi teror di Christchurch menjadi ramai diperbincangkan karena pelaku menyiarkannya secara langsung. Alhasil banyak orang yang melihat aksi tersebut menjadi marah, kemudian tergerak untuk menyebarkan. Tujuannya mungkin baik, memberitahu orang lain adanya aksi teror. Namun sebaiknya, kamu tidak ikut menyebarkan video aksi teror. Ini alasannya.

Pelaku Teror Ingin Menciptakan Rasa Takut

Dengan menyebarkan video aksi teror, secara tidak langsung, kamu ikut menciptakan rasa takut yang diharapkan oleh para pelaku teror. Mereka ingin semua orang selalu waspada dan menganggap bahwa aksi teror bisa terjadi sewaktu-waktu padanya. Kondisi ini dikenal dengan “perang psikologis”.

Misalnya pada kasus pengeboman di Brussels, Belgia pada tahun 2016. Semua orang berteriak ketakutan saat bom pertama meledak. Namun saat bom kedua diledakkan kembali, mereka diam dan situasi menjadi hening. Kejadian ini membuktikan bahwa perang psikologis akibat aksi teror berpotensi melumpuhkan respons seseorang ketika menghadapi situasi berulang.

Baca Juga: Serangan Bom Bisa Sebabkan Gangguan Gendang Telinga

Dampak Rasa Takut Berlebihan Akibat Aksi teror

Rasa takut memicu perubahan suasana hati dan perilaku, sebuah respons alamiah manusia saat menghadapi bahaya. Misalnya ketika kamu mendengar teriakan, sistem saraf otonom langsung mengirimkan sinyal ke pusat rasa takut otak (bagian amigdala). Kemudian tubuh memproduksi hormon stres, memicu jantung berdetak lebih cepat, dan tubuh berkeringat lebih banyak. Respons ini dikenal dengan “fight” atau “flight”. Beberapa waktu kemudian, otak memastikan kebenaran ancaman yang muncul. Setelah diputuskan dan ancaman berakhir, pikiran menjadi tenang.

Namun ketika rasa takut terus muncul, tekanan psikologis ini berpotensi menyebabkan gangguan fisik dan mental. Seseorang menjadi sulit berpikir jernih dan mengaktifkan bagian otak lain. Misalnya bagian otak fronto-striatal-thalamus yang memicu pemikiran obsesif dan korteks-cingulate-anterior yang membuat seseorang terus waspada.

Kabar baiknya adalah, sebuah studi menyebutkan bahwa setelah kejadian traumatis akibat aksi teror, para korban dan keluarga bisa kembali hidup normal tanpa dihantui rasa takut berlebihan. Apalagi jika mendapatkan dukungan dari masyarakat sekitar. Salah satunya melalui aksi menyalakan lilin untuk mengenang para korban serangan terorisme di Christchurch.

Jadi, apa yang harus dilakukan saat mendengar aksi teror? Mendoakan adalah langkah terbaik. Kemudian tahan keinginan untuk ikut menyebarkan video aksi teror. Hindari rasa dendam karena pembalasan tidak akan menyelesaikan masalah. Lebih baik kamu berfokus pada korban dibandingkan pelaku yang memang sengaja ingin menciptakan rasa takut. Kamu juga bisa ikut aksi sosial untuk menciptakan kedamaian di dunia.

Baca Juga: Ketakutan yang Berlebihan, Ini Fakta di Balik Fobia

Itulah alasan mengapa kamu nggak boleh menyebarkan video aksi teror. Kalau kamu sedang mengalami rasa takut tanpa alasan yang jelas, sebaiknya bicara pada psikolog atau psikiater Halodoc. Kamu bisa menggunakan fitur Talk to A Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!