01 December 2018

Ketakutan yang Berlebihan, Ini Fakta di Balik Fobia

Ketakutan yang Berlebihan, Ini Fakta di Balik Fobia

Halodoc, Jakarta – Pernahkah kamu memiliki ketakutan yang teramat sangat pada suatu hal, misalnya takut ketinggian, ruang yang sempit dan gelap, atau takut pada jenis hewan tertentu? Kondisi ini dinamakan fobia.

Fobia adalah rasa takut berlebihan pada sesuatu. Kondisi ini membuat pengidapnya cemas dan lebih memilih menghindari objek yang ditakuti dibanding harus menahan rasa takutnya. Pemicunya bisa beragam, tapi secara umum, fobia terjadi karena adanya trauma di masa lalu. Misalnya orang yang pernah terjepit lift takut menaikinya di kemudian hari, sehingga lebih memilih naik tangga dibanding lift yang membuatnya keringat dingin.

Fobia dan Rasa Takut Adalah Dua Hal Berbeda

Rasa takut akibat ketakutan biasa dan fobia sama-sama berasal dari respons respons fight or flight, tapi dengan cara kerja yang berbeda. Pada rasa takut biasa, semua informasi yang dianggap "ancaman" akan diproses oleh otak dan diteruskan ke hippocampus untuk mencari tahu penyebabnya. Artinya, seseorang yang mengalami ketakutan tetap bisa berpikir jernih untuk mencari tahu penyebab munculnya rasa takutnya. Setelah diketahui bahwa penyebabnya bukan hal yang berbahaya, hippocampus mengirimkan pesan ke amigdala bahwa tidak ada bahaya dan memintanya untuk menghentikan respons fight or flight.

Sementara pada pengidap fobia, korteks prefrontal medial ikut terlibat dalam merangsang munculnya rasa takut dan fobia. Sebuah studi menyebut korteks tersebut menghasilkan rasa takut dengan membangkitkan kenangan mengerikan. Ketika amigdala mengaitkan rangsangan tersebut dengan ingatan negatif, otak menciptakan reaksi penghindaran ekstrem. Itu sebabnya pengidap fobia menunjukkan gejala fisik saat menghadapi objek yang ditakuti, seperti gelisah, mual, jantung berdebar, dada sesak, panik, gugup, menggigil, diare, kesemutan, bingung, hingga merasa ingin pingsan.

Fobia Disebabkan oleh Banyak Faktor

Faktor penyebab fobia yaitu faktor genetik, lingkungan, dan trauma psikologis di masa lalu. Fobia bisa terjadi akibat trauma otak yang mengubah struktur zat kimia tertentu dalam otak. Faktor ini yang memicu rasa takut, sehingga merangsang amigdala memberikan respons fight or flight. Pengidap fobia umumnya menerjemahkan rasa takut tersebut sebagai “ancaman”, sehingga membuat otak memerintahkan kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon adrenalin dalam jumlah banyak. Akibatnya, tubuh mengalami berbagai perubahan fisik dan emosional, seperti jantung berdebar kencang, napas terburu-buru, keringat dingin, hingga jeritan keras.

Fobia Berdampak Negatif pada Kondisi Psikologis Pengidapnya

Fobia ditandai rasa takut berlebihan pada objek tertentu, termasuk objek yang berada di dekatnya sehari-hari. Jika dibiarkan tanpa penanganan, fobia bisa berdampak negatif pada kondisi psikologis seseorang, baik secara fisik maupun mental. Fobia bisa menurunkan rasa percaya diri dan harga diri seseorang, mengganggu hubungan dengan orang sekitar dan menghambat produktivitas di sekolah atau teman kerja. Pada kasus yang parah, fobia bisa memicu depresi, gangguan kecemasan, dan isolasi sosial.

Fobia Tidak Bisa Diobati, Tapi Bisa Dikendalikan

Yakni dengan terapi perilaku kognitif untuk menghentikan kecemasan dan pola pikir, serta mengonsumsi obat-obatan tertentu (seperti antidepresan, beta-blocker atau anti-kecemasan) maupun kombinasi keduanya. Hipnoterapi dan Neuro-Linguistic Programming (NLP) bisa dijadikan sebagai terapi penunjang mengendalikan gejala fobia.

Itulah fakta di balik fobia yang perlu diketahui. Kalau kamu memiliki rasa takut yang tak beralasan pada suatu objek dan berpengaruh pada aktivitas, segera bicara pada dokter Halodoc untuk mencari tahu penyebab dan mendapat penanganan yang tepat. Kamu bisa menggunakan fitur Contact Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk bertanya pada dokter via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga!

Baca Juga: