Waspada, Divertikulitis Dapat Sebabkan Hematochezia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Waspada, Divertikulitis Dapat Sebabkan Hematochezia

Halodoc, Jakarta - Perdarahan yang terjadi pada saluran pencernaan bisa berdampak pada feses yang dikeluarkan tubuh. Seperti pada hematochezia, kondisi ketika feses mengeluarkan darah karena terjadi perdarahan pada saluran pencernaan bagian bawah. Meski begitu, perdarahan pada saluran cerna bagian atas pun bisa memicu terjadinya feses berdarah ini. Seringnya, kondisi ini menyerang lansia. 

Keluarnya darah segar bersama dengan feses ketika kamu buang air besar menjadi gejala hematochezia yang paling mudah dikenali. Kondisi lain yang menyertai seperti sakit perut, tubuh demam, mengalami diare, berat badan menurun, pola buang air besar berubah, dan anemia karena perdarahan yang terjadi. 

Benarkah Disebabkan karena Divertikulitis?

Lalu, apa penyebab seseorang mengalami hematochezia? Ternyata, salah satunya adalah divertikulitis, infeksi atau peradangan yang terjadi pada kantung yang berada di sepanjang saluran cerna, terutama pada kolon atau usus besar. Kantung yang disebut divertikula ini terbentuk pada orang-orang berusia 40 tahun ke atas karena kondisi usus yang semakin melemah. 

Baca juga: Sering Berdarah saat Buang Air Besar, Waspada Penyakit Hematochezia

Namun, kondisi yang sama menjadi ancaman untuk kamu yang tidak suka mengonsumsi makanan berserat, terutama sayur dan buah-buahan. Sayangnya, kelainan ini harus segera mendapatkan pertolongan, karena bisa memicu terjadinya anemia parah, syok, hingga kematian. Jadi, jangan ragu untuk langsung buat janji dengan dokter kalau kamu merasa mengalaminya. Penanganan segera bisa membantu kamu terhindar dari komplikasi serius yang lebih membahayakan nyawa. 

Terjadinya perdarahan pada bagian saluran pencernaan ini bukan tanpa alasan, lho. Kondisi ini dipicu oleh jenis penyakit tertentu selain divertikulitis, termasuk wasir, kanker usus besar, penyakit Crohn, polip usus, tumor pada saluran cerna, luka pada anus, kolitis ulseratif, dan peradangan pada usus besar. 

Baca juga: Pola Hidup Sehat untuk Cegah Hematochezia

Bagaimana Dokter Mendiagnosis Hematochezia?

Untuk memastikan apakah seseorang mengidap hematochezia, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan medis selain menanyakan riwayat kesehatan pengidap. Tes ini termasuk pemeriksaan darah, biopsi atau pengambilan sampel jaringan, kolonoskopi untuk melihat kondisi di dalam usus besar, dan angiografi untuk mengecek apakah terjadi kerusakan pada pembuluh darah. 

Lalu, untuk melihat kondisi saluran pencernaan secara keseluruhan, dokter akan melakukan pemeriksaan rontgen. Jika dibutuhkan, akan dilakukan pemeriksaan radionuclide scan dan laparotomi atau bedah perut untuk mengetahui apa yang menyebabkan terjadi hematochezia.

Tindakan Penanganan dan Pencegahan yang Bisa Dilakukan

Sementara untuk tindakan penanganannya, dilakukan endoskopi untuk menghentikan terjadinya perdarahan di dalam saluran cerna. Lalu, bisa juga dengan band ligation untuk mencegah perdarahan akut pada pembuluh darah yang pecah dengan memasang karet khusus. Terakhir adalah angiographic embolization yang dilakukan dengan menyuntikkan partikel tertentu pada pembuluh darah yang rusak. 

Baca juga: Sakit Perut, Diare, dan 7 Gejala Hematochezia Lainnya

Untuk mempercepat penyembuhan, pengidap akan dianjurkan untuk tidak mengonsumsi obat nonsteroid antiinflamasi. Sementara untuk pencegahan hematochezia, mengubah pola makan dengan memperbanyak makanan berserat supaya penyebab hematochezia seperti wasir dan divertikulitis yang dipicu oleh sembelit tidak terjadi. 

Tidak hanya itu, kamu pun lebih baik berhenti merokok dan minum alkohol. Lebih penting lagi, kamu tidak boleh sembarangan mengonsumsi obat, apalagi kalau jenisnya adalah obat antiinflamasi nonsteroid tanpa bertanya lebih dahulu pada dokter. Setiap gejala yang dialami tidak boleh kamu tarik kesimpulan sendiri, tanyakan selalu pada ahlinya yang lebih mengerti. 

Referensi: 
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Gastrointestinal Bleeding.
Medscape. Diakses pada 2019. Lower Gastrointestinal Bleeding.
MedicineNet. Diakses pada 2019. Blood in the Stool (Rectal Bleeding).