20 December 2018

Waspada Japanese Encephalitis (Radang Otak) pada Anak

Waspada Japanese Encephalitis (Radang Otak) pada Anak

Halodoc, Jakarta - Japanese encephalitis, atau yang juga disebut dengan radang otak adalah jenis infeksi yang terjadi karena virus dan menyebar melalui gigitan nyamuk. Virus ini paling banyak ditemukan pada babi dan burung, dan dibawa oleh nyamuk yang menggigit hewan yang sudah terinfeksi.

Hingga kini, tidak ada obat yang tepat untuk mengatasi penyakit radang otak ini. Tindakan hanya bertujuan untuk mengurangi gejala dan meminimalkan dampaknya pada tubuh. Biasanya, dilakukan perawatan intensif yang mendukung fungsi tubuh ketika sedang melawan infeksi.

Japanese Encephalitis disebabkan oleh flavivirus yang memengaruhi manusia dan hewan. Penularannya adalah dari hewan ke manusia melalui perantara gigitan nyamuk yang sebelumnya telah terinfeksi virus tersebut. Inilah daerah yang memiliki sawah dan peternakan babi lebih bersifat endemik, karena penularan penyakit ini bukan dari manusia ke manusia.

Pasalnya, nyamuk yang membawa virus ini lebih banyak ditemukan di daerah pedesaan yang didominasi oleh sawah dan rawa, meski kini tak sedikit pula ditemukan di area perkotaan. Risiko infeksi tertinggi dari radang otak adalah saat dan setelah musim hujan. Bukan tanpa alasan, karena selama musim hujan, populasi nyamuk mengalami peningkatan. Oleh karenanya, hindari mengunjungi kawasan endemik ketika musim hujan sedang berlangsung di daerah tersebut.

Gejala Radang Otak

Sebagian besar orang yang terinfeksi oleh virus Japanese Encephalitis tidak menunjukkan gejala, atau gejala yang tampak sifatnya ringan dan pendek dan mirip dengan flu. Inilah yang membuat banyak orang keliru mengidentifikasinya.

Namun, sekitar 1 dari 250 orang yang terinfeksi penyakit ini akan menunjukkan gejala yang sangat parah, karena infeksi ini melakukan penyebaran hingga ke otak. Ini biasanya terjadi antara 5 hingga 15 hari setelah infeksi, dengan gejala berupa:

  • Demam tinggi.

  • Kejang.

  • Leher kaku.

  • Ketidakmampuan bicara.

  • Tremor yang tidak terkendali.

  • Lemah otot yang bisa memburuk menjadi kelumpuhan.

Setidaknya, 1 dari 3 orang dengan gejala ini akan mengalami kematian sebagai komplikasi terburuk dari penyakit radang otak. Namun, untuk pengidap yang berhasil bertahan, gejala akan cenderung membaik, meski membutuhkan waktu yang cenderung lama. Beberapa orang yang bertahan hidup ditakutkan mengalami kerusakan otak permanen.

Kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi jangka panjang seperti tremor, otot berkedut, perubahan kepribadian, lemah otot, kesulitan belajar, hingga kelumpuhan yang bisa terjadi pada beberapa anggota tubuh sekaligus.

Ketahui Pencegahannya

Cara terbaik untuk mencegah radang otak, terutama pada anak, adalah melakukan vaksinasi sebelum tubuh terinfeksi. Hindari berkunjung ke daerah-daerah endemik yang memungkinkan terjadinya penularan. Meski sudah divaksin, penularan tetap bisa terjadi. Oleh karena itu, pastikan kamu melakukan tindakan pencegahan, seperti menempelkan kasa pada ventilasi jendela dan pintu.

Jika kamu tidur di luar kamar, kenakan selimut, dan gunakan losion antinyamuk. Kamu bisa juga menyemprotkan antinyamuk dan memakai kaos kaki agar risiko nyamuk menggigit bisa diminimalkan.

Kalau kamu memiliki pertanyaan seputar radang otak, jangan ragu untuk langsung bertanya pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Kamu bisa download aplikasi ini melalui App Store dan Play Store. Yuk, pakai Halodoc!

Baca juga: