12 Perubahan pada Tubuh saat Mengidap Hipertiroidisme

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
12 Perubahan pada Tubuh saat Mengidap Hipertiroidisme

Halodoc, Jakarta - Nama hipertiroidisme tentu sudah tidak asing lagi. Namun, tahukah kamu apa itu hipertiroidisme dan apa yang terjadi pada tubuh ketika mengalami penyakit ini? Ketahui lebih lanjut tentang penyakit yang menyerang salah satu hormon penting dalam tubuh ini dalam pembahasan berikut. 

Hipertiroidisme adalah kondisi ketika hormon tiroksin dalam tubuh kadarnya sangat tinggi. Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar tiroid, dan memiliki peran penting dalam proses metabolisme. Itulah sebabnya gangguan yang terjadi pada hormon ini dapat menyebabkan masalah dalam metabolisme tubuh.

Baca juga: Kenali Penyakit Hipertiroid dan Efek Sampingnya Bagi Tubuh

Perlu diketahui bahwa tiroid, sebagai penghasil hormon tiroksin, adalah kelenjar yang terletak di bagian depan leher. Kelenjar ini memiliki tugas mengendalikan metabolisme dan fungsi normal tubuh, seperti mengubah makanan menjadi energi, mengatur suhu tubuh, dan memengaruhi denyut jantung, otot, dan tulang. 

Ketika terjadi hipertiroidisme, proses metabolisme mengalami percepatan. Hal ini dapat menimbulkan berbagai macam gejala yang mengganggu pada tubuh. Gejala yang dialami oleh setiap pengidap hipotiroidisme dapat berbeda-beda. Begitu pula perihal tingkat keparahan, jangkauan, dan frekuensi gejala. 

Adapun gejala atau perubahan pada tubuh yang umum dialami oleh pengidap hipotiroidisme adalah:

  1. Berat badan turun tanpa alasan yang jelas.

  2. Hiperaktif. Pengidap menjadi tidak akan bisa diam dan dipenuhi perasaan cemas.

  3. Mudah marah dan emosional.

  4. Insomnia atau kesulitan untuk tidur pada malam hari.

  5. Konsentrasi menurun.

  6. Berkeringat secara berlebihan dan sensitif terhadap suhu panas.

  7. Libido menurun.

  8. Otot terasa lemas.

  9. Diare.

  10. Ketidaksuburan.

  11. Siklus menstruasi menjadi tidak teratur, jarang, atau berhenti sekaligus.

  12. Pada pengidap diabetes, hipertiroidisme bisa menyebabkan rasa haus dan lelah.

Baca juga: Kenali 5 Penyakit yang Mengintai Kelenjar Tiroid

Terdapat juga tanda klinis atau gejala lain yang mungkin dapat ditemukan pada pengidap hipertiroidisme, antara lain:

  • Pembesaran kelenjar tiroid yang menyebabkan terjadinya pembengkakan pada leher.

  • Palpitasi atau denyut jantung yang cepat dan/atau tidak beraturan.

  • Kulit yang hangat dan lembap.

  • Kedutan otot.

  • Tremor atau gemetaran.

  • Munculnya biduran (urtikaria) atau ruam.

  • Rambut rontok secara tidak merata.

  • Telapak tangan berwarna kemerahan.

  • Struktur kuku melonggar.

Apa Penyebabnya?

Meningkatnya kadar hormon tiroksin dalam tubuh dapat disebabkan oleh berbagai hal. Termasuk oleh kondisi medis tertentu. Berikut beberapa penyebab dari hipertiroidisme:

  • Penyakit Graves. Hipertiroidisme kebanyakan disebabkan oleh penyakit Graves, yaitu suatu kondisi yang terjadi akibat kelainan sistem autoimun yang menyerang tubuh dan meningkatkan produksi hormon tiroksin pada kelenjar tiroid. 

  • Tiroiditis. Adalah peradangan pada kelenjar tiroid yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau saat tubuh memproduksi antibodi yang dapat merusak kelenjar tiroid. Kerusakan ini dapat menyebabkan kebocoran hormon tiroksin yang pada akhirnya menyebabkan hipertiroidisme.

  • Nodul tiroid, yaitu gumpalan yang terbentuk di dalam kelenjar tiroid tanpa sebab yang jelas. Gumpalan ini berdampak kepada peningkatan produksi tiroksin dalam tubuh dan berakibat pada hipertiroidisme, khususnya pada orang berusia diatas 60 tahun.

  • Efek samping obat. Jika seseorang mengonsumsi suplemen atau obat yang memicu produksi hormon tiroksin, seperti amiodarone, risiko hipertiroidisme bisa saja meningkat. 

  • Kanker tiroid. Jika sel-sel kanker mulai menghasilkan banyak hormon tiroksin, seseorang bisa mengalami hipertiroidisme. 

  • Kehamilan. Saat hamil, wanita mengalami peningkatan kadar hormon human chorionic gonadotropin (hCG). Hormon ini dapat memicu terjadinya hipertiroidisme, khususnya pada kehamilan kembar dan pada kasus hamil anggur, di mana terdapat kadar hCG yang tinggi.

  • Tumor adenoma pada kelenjar hipofisis. Ini merupakan tumor jinak yang tumbuh pada kelenjar hipofisis atau pituitary, yaitu kelenjar yang terletak di dasar otak. Tumor tersebut dapat mempengaruhi tingkat produksi hormon tiroid.

Baca juga: Daftar Makanan yang Baik untuk Pengidap Penyakit Tiroid

Itulah sedikit penjelasan tentang hipertiroidisme. Jika kamu mengalami gejala atau perubahan pada tubuh seperti yang telah dipaparkan tadi, segeralah konsultasi ke dokter. Jika ingin melakukan pemeriksaan, kini kamu bisa langsung buat janji dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc, lho. Tunggu apa lagi? Yuk download aplikasinya sekarang!