3 Faktor yang Tingkatkan Risiko Demam Rematik

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
3-faktor-yang-tingkatkan-risiko-demam-rematik-halodoc

Halodoc, Jakarta – Radang tenggorokan adalah penyakit umum yang sering dialami oleh banyak orang. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri bernama Streptococcus. Meski biasanya bisa sembuh sendiri tanpa pengobatan, tetapi radang tenggorokan sebaiknya jangan disepelekan karena juga bisa menyebabkan komplikasi. Demam rematik adalah komplikasi yang bisa terjadi akibat radang tenggorokan. Jenis demam ini sebenarnya bisa dialami oleh siapa saja, tetapi ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang untuk terkena demam rematik. Yuk, ketahui faktor risiko demam rematik di sini.

Mengenal Demam Rematik

Demam rematik adalah penyakit peradangan yang terjadi sebagai komplikasi akibat radang tenggorokan yang disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus. Selain akibat radang tenggorokan, demam rematik juga bisa terjadi sebagai komplikasi dari penyakit demam scarlet yang disebabkan oleh bakteri yang sama. Meskipun penyebabnya adalah infeksi bakteri, tetapi demam rematik tidak bisa menular ke orang lain. Namun, pengidap bisa menularkan bakteri penyebab radang tenggorokan melalui percikan liur saat ia batuk atau bersin.

Demam rematik perlu pengobatan segera. Pasalnya, jenis demam tersebut bisa menyebabkan kerusakan permanen pada katup jantung sampai gagal jantung bila tidak segera diobati. Tujuan pengobatan yang dilakukan adalah untuk meredakan gejala, meminimalisir komplikasi, serta mencegah demam rematik kambuh kembali.

Baca juga: Minum Es Sebabkan Radang Tenggorokan, Benarkah?

Ketahui Penyebab Demam Rematik

Demam rematik bisa terjadi bila radang tenggorokan dibiarkan saja tanpa penanganan yang baik. Namun, hanya radang tenggorokan yang disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus tipe A saja yang bisa menyebabkan demam rematik. 

Ketika tubuh terinfeksi bakteri, normalnya, sistem kekebalan tubuh akan memproduksi antibodi untuk melawan bakteri yang masuk. Namun, pada pengidap demam rematik, antibodi tersebut malah berbalik menyerang jaringan tubuh yang sehat, terutama pada jantung, sendi, kulit, otak, dan tulang belakang. 

Belum diketahui secara pasti, apa penyebab sistem kekebalan tubuh pengidap demam rematik menyerang tubuh sendiri. Namun, kondisi tersebut diduga terjadi karena adanya kemiripan antara protein pada bakteri Streptococcus dengan protein pada jaringan tubuh. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh salah mengira jaringan tubuh sebagai organisme berbahaya.

Faktor Risiko Demam Rematik

Selain dipicu oleh infeksi bakteri penyebab radang tenggorokan, beberapa faktor berikut ini juga diduga turut berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya demam rematik:

  1. Berusia 5 sampai 15 tahun;

  2. Mewarisi kelainan genetik dari orang tua; dan

  3. Tinggal di lingkungan padat penduduk dengan kebersihan yang buruk.

Baca juga: Faktor Lingkungan Juga Dapat Sebabkan Demam Rematik

Waspadai Gejalanya

Gejala demam rematik biasanya muncul 2-4 minggu setelah radang tenggorokan akibat infeksi bakteri Streptococcus tidak ditangani dengan baik. Pengidap demam rematik biasanya mengeluhkan beberapa gejala, seperti: 

  • Demam;

  • Badan terasa lemas dan mudah lelah;

  • Nyeri sendi yang bisa menyebar ke sendi yang lain;

  • Tidak hanya nyeri, sendi juga bisa memerah dan membengkak, terutama pada siku, lutut, serta pergelangan tangan dan kaki;

  • Nyeri dada;

  • Jantung berdebar;

  • Sesak napas;

  • Muncul gerakan tubuh yang tidak terkendali di wajah, tangan, dan kaki; dan

  • Gangguan mental, seperti tiba-tiba menangis atau tertawa.

Baca juga: Begini Cara Mengobati Radang Kerongkongan

Karena itu, bila kamu mengalami radang tenggorokan, sebaiknya segera obati dengan baik agar tidak berkembang menjadi demam rematik. Namun, bila kamu mengalami gejala-gejala demam rematik di atas, coba bicarakan saja kepada dokter Halodoc. Kamu bisa menghubungi dokter melalui fitur Talk to A Doctor dan minta saran kesehatan melalui Video/Voice Call dan Chat kapan saja dan di mana saja. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
Mayo Clinic (Diakses pada 2019). Rheumatic Fever.
Medical News Today (Diakses pada 2019). Rheumatic fever: What you need to know.