3 Penyebab SVT yang Perlu Diketahui

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia
3 Penyebab SVT yang Perlu Diketahui

Halodoc, Jakarta – Supraventricular tachycardia (SVT) alias takikardia supraventrikular merupakan kondisi yang terjadi karena ada gangguan irama pada jantung. Penyakit ini menyebabkan jantung berdetak lebih cepat dibanding saat normal. Meningkatnya detak jantung disebut berasal dari impuls listrik di serambi jantung atau nodus AV, yaitu ruang di atas bilik jantung atau ventrikel. Kondisi ini terjadi saat impuls listrik yang bertugas mengatur detak jantung tidak dapat bekerja secara normal. 

Gangguan ini menyebabkan detak jantung menjadi begitu cepat sehingga otot jantung tidak dapat mengendur di sela-sela kontraksi. Kondisi tersebut kemudian menyebabkan ventrikel jantung tidak dapat berkontraksi dengan kuat dan tidak bisa memenuhi kebutuhan pasokan darah yang dibutuhkan tubuh. Salah satu organ yang berdampak dan mungkin kekurangan pasokan darah adalah otak. Kalau ini yang terjadi, seseorang berisiko mengalami pusing atau pingsan. Lantas, apa sebenarnya penyebab SVT bisa menyerang? 

Baca juga: 6 Tanda SVT pada Anak yang perlu Dipahami

Beda Jenis SVT, Beda Penyebabnya 

Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, di usia berapa saja. Pada umumnya, SVT hanya akan terjadi satu kali seumur hidup dan selebihnya pengidap penyakit ini bisa hidup normal. Namun, dalam beberapa kondisi gejala penyakit ini bisa berlangsung terus-menerus dan sangat mengganggu. Risiko SVT jangka panjang meningkat pada orang yang sebelumnya memiliki riwayat penyakit atau masalah dengan organ jantung. 

Penyakit ini memiliki ciri berupa gejala detak jantung cepat terjadi secara tiba-tiba dan berakhir dengan tiba-tiba pula. Peningkatan detak jantung biasanya akan berlangsung selama beberapa menit, bahkan terkadang bertahan hingga beberapa jam. Meski bisa menyerang siapa saja, tetapi sebagian besar pengidap penyakit ini mulai mengalami gejala SVT pada usia sekitar 25 hingga 40 tahun. Selain itu, penyakit ini juga bisa menyebabkan seseorang mengalami pusing, berkeringat, nadi berdenyut kencang terutama di leher, serta kehilangan kesadaran alias pingsan. 

Orang yang mengidap gangguan SVT bisa mengalami detak jantung yang terlalu cepat, mencapai 140 hingga 250 kali per menit. Dalam kondisi normal, detak jantung manusia adalah sekitar 60–100 kali per menit. Penyakit ini juga bisa menyerang anak-anak, dan sering ditandai dengan gejala berupa kulit pucat, denyut jantung lebih dari 200 kali per menit, serta sering berkeringat.

Baca juga: Kenali 9 Gejala Supraventricular Tachycardia yang Perlu Diwaspadai

Irama jantung diatur oleh pacu jantung alami bernama nodus sinus, yang berada di atrium bagian kanan. Bagian ini memproduksi impuls listrik yang bertugas memulai setiap detak jantung. Selain itu, ada juga nodus atrioventricular (AV) yang bertugas memperlambat sinyal listrik dari nodus sinus. 

Pada beberapa kondisi, ada kemungkinan kinerja nodus AV mengalami gangguan, sehingga menyebabkan jantung berdetak sangat cepat. Hal ini kemudian menyebabkan jantung tidak sempat terisi darah yang cukup sebelum kembali berkontraksi. Alhasil, pasokan darah ke organ lain, seperti otak tidak dapat terpenuhi. Jika dilihat dari penyebabnya, ada beberapa jenis SVT yang bisa terjadi. Namun, 3 jenis SVT ini yang paling sering menyerang: 

1. AVNRT 

Atrioventricular nodal reentrant tachycardia (AVNRT), yaitu jenis SVT yang terjadi karena sel dekat nodus AV ini tidak mengirimkan sinyal listrik dengan benar, melainkan membuat sinyal yang melingkar, sehingga menimbulkan detak tambahan. Kabar buruknya, kondisi ini paling banyak dialami wanita. 

2. AVRT

Atrioventricular reciprocating tachycardia (AVRT) paling banyak ditemui pada remaja. Kondisi ini terjadi saat sinyal yang dikirim nodus sinus memutar kembali ke nodus AV setelah melewati ventrikel sehingga menimbulkan detak tambahan. Dalam proses yang normal, sinyal yang dikirim nodus sinus seharusnya berakhir setelah melewati semua ruang di jantung. 

3. Takikardia Atrial

Takikardia atrial terjadi saat ada nodus sinus tambahan di dalam tubuh. Dalam kondisi ini, terdapat nodus lain yang mengirimkan impuls listrik, sehingga menimbulkan detak tambahan. Orang dengan penyakit jantung atau paru-paru lebih rentan mengalami kondisi ini. 

Baca juga: Begini Cara Penanganan Penyakit Takikardi atau Palpitasi di Rumah

Cari tahu lebih lanjut seputar penyakit SVT dengan bertanya kepada dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Mayoclinic (Diakses pada 2019). Tachycardia
Emedicinehealth (Diakses pada 2019). SVT (Supraventricular Tachycardia) vs Heart Attack