3 Tes untuk Deteksi Pheochromocytoma

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
3 Tes untuk Deteksi Pheochromocytoma

Halodoc, Jakarta - Dari banyaknya jenis tumor, beberapa dikategorikan dalam jenis yang terbilang langka. Salah satunya adalah pheochromocytoma, tumor yang tumbuh dan berkembang pada kelenjar adrenal. Pada keadaan normal, kelenjar ini mengeluarkan hormon yang dikenal dengan epinephrine atau zat sejenis yang membuat kamu mengalami tekanan darah tinggi, berkeringat, sakit kepala, dan takikardia. 

Pada seseorang dengan kondisi ini, kelenjar adrenal mengeluarkan hormon dalam jumlah yang berlebihan, dan menjadi penyebab utama dari terjadinya tekanan darah tinggi. Kelainan ini bisa terjadi pada semua jenis kelamin dan usia, tetapi sering menyerang kelompok orang berusia 30 hingga 50 tahun. 

Jenis Tes untuk Deteksi Pheochromocytoma

Oleh karena termasuk jenis kelainan langka, maka tentu saja orang-orang dengan riwayat keluarga dengan kondisi ini memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya. Maka, dokter melakukan pemeriksaan berikut ini untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. 

Baca juga: Pertolongan Pertama saat Tekanan Darah Melonjak

  • Pemeriksaan Genetik

Pemeriksaan ini penting, karena beberapa kelainan bawaan dapat memicu timbulnya beberapa kondisi khusus, dan hasil tes mungkin mengindikasikan perlunya skrining untuk mengidentifikasi masalah medis lainnya. Beberapa gangguan lebih cenderung bersifat kambuhan atau kanker ganas, sehingga hasil tes memengaruhi pilihan perawatan yang sesuai. Nantinya, hasil tes ini menunjukkan apakah anggota keluarga lain perlu melakukan skrining. 

  • Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan ini meliputi tes urine selama 24 jam. Jadi, kamu akan diminta untuk menampung sampel urin selama 24 jam. Lalu, tes darah yang diperlukan untuk memperkuat diagnosis. Kamu perlu membicarakan semua persiapannya pada dokter, bisa melalui fitur Tanya Dokter di aplikasi Halodoc atau langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit terdekat. 

  • Tes Pencitraan

Jika hasil laboratorium mengindikasikan kemungkinan kamu mengalami pheochromocytoma, dokter akan melanjutkan pemeriksaan dengan pencitraan. Tes ini termasuk CT scan, MRI (dengan menggunakan gelombang radio dan medan magnet untuk menghasilkan gambar yang lebih detail), MIBG (M-iodobenzylguanidine, teknologi pemindaian yang dapat mendeteksi sejumlah kecil senyawa radioaktif yang disuntikkan yang diambil dari tumor tertentu, dan PET (Positron Emission Tomography, teknologi pemindaian yang dapat mendeteksi adanya senyawa radioaktif yang diambil oleh tumor. 

Baca juga: 5 Penyakit Ini Lebih Mudah Diketahui dengan MRI

Pilihan Pengobatannya

Pada beberapa kasus, seluruh kelenjar adrenal yang terindikasi pheochromocytoma akan dihilangkan dengan pembedahan laparoskopi atau prosedur invasif  minimal. Kelenjar adrenal sehat yang tersisa bisa melakukan fungsinya seperti semula, dan biasanya tekanan darah menurun dengan sendirinya. Pada beberapa situasi yang tidak biasa, operasi mungkin hanya mengangkat tumor, menyisakan beberapa jaringan sehat. 

Jika tumor bersifat ganas, efektivitas operasi bergantung pada pengangkatan tumor dan semua jaringan kanker. Jika semua jaringan kanker tidak diangkat, operasi mungkin sebatas pada pembatasan produksi hormon dan memberikan kontrol pada tekanan darah. 

Oleh karena kanker jarang terjadi pada kasus pheochromocytoma, perawatan untuk tumor ganas dan kanker metastasis termasuk pengobatan radionuklida yang menggabungkan prosedur MIBG, senyawa yang menempel pada tumor adrenal, dan jenis iodium radioaktif. Tujuannya adalah memberikan terapi radiasi ke bagian tertentu dan membunuh sel kanker pada bagian tersebut. 

Pengobatan kemoterapi juga dibutuhkan untuk membunuh sel kanker yang tumbuh dengan cepat. Pun, terapi kanker yang ditargetkan, berupa obat-obatan yang berfungsi menghambat fungsi molekul yang terjadi secara alami yang mendorong pertumbuhan dan penyebaran sel kanker. 

Baca juga: Jalani Kemoterapi Bisa Sebabkan Neutropenia, Ini Alasannya

Referensi: 
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Pheochromocytoma. 
Medical News Today. Diakses pada 2019. Pheochromocytoma.
WebMD. Diakses pada 2019. What Is Pheochromocytoma?