4 Cara Mencegah Gangguan Kecemasan Sosial

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
4 Cara Mencegah Gangguan Kecemasan Sosial

Halodoc, Jakarta – Gangguan kecemasan sosial atau fobia sosial merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan rasa takut berlebihan akan diawasi, dihakimi, atau dipermalukan oleh orang lain di sekitar. Berbeda dengan pemalu, orang yang mengidap gangguan kecemasan sosial ini akan mengalami rasa takut yang berlebihan, tidak logis, dan bersifat menetap, sehingga memengaruhi hubungannya dengan orang lain, produktivitas, dan prestasi.

Jika kamu mulai merasakan gejala ketakutan berlebihan pada orang lain tanpa alasan yang jelas, sebaiknya segera lakukan beberapa hal ini sebagai upaya pencegahan, agar gangguan kecemasan sosial tidak berkembang dan menjadi parah:

  1. Cobalah mengenal lebih jauh tentang kecemasan.
  2. Ubahlah kepercayaan yang tidak realistis dengan yang rasional.
  3. Jangan terlalu berpikir tentang pendapat orang lain.
  4. Cobalah melakukan aktivitas yang biasanya hindari.

Baca juga: Gangguan Kecemasan Jadi Mimpi Buruk, Ini Penyebabnya

Lebih jelasnya, kamu juga bisa melakukan konsultasi dengan psikolog di aplikasi Halodoc, lewat Chat atau Voice/Video Call. Bicarakanlah berbagai hal yang kamu rasakan dan mintalah saran agar hal itu tidak berkembang menjadi gangguan kecemasan sosial atau gangguan mental lainnya. Jadi, pastikan kamu sudah download dan install aplikasinya di ponselmu, ya.

Kenali Gejala Gangguan Kecemasan Sosial

Gejala gangguan kecemasan sosial umumnya dapat muncul dalam beberapa situasi yang mengharuskan pengidapnya untuk melakukan interaksi dengan orang lain, seperti berkencan, bertatapan mata dengan orang lain, bekerja, bersekolah, memasuki ruangan ramai, atau menghadiri pesta. Itulah sebabnya pengidap gangguan kecemasan sosial biasanya cenderung menghindari berbagai situasi tersebut.

Rasa takut yang dirasakan pengidap gangguan kecemasan sosial tidak hanya berlangsung sebentar, melainkan menetap dan biasanya disertai berbagai gejala fisik seperti:

  • Wajah memerah.
  • Bicara terlalu pelan.
  • Postur tubuh yang kaku.
  • Otot menjadi tegang.
  • Keringat berlebih.
  • Mual.
  • Pusing.
  • Jantung berdebar.
  • Sesak napas.

Baca juga: Punya Kecemasan Sosial? Coba Siasati dengan Ini

Risiko Komplikasi Jika Gangguan Kecemasan Sosial Tidak Ditangani

Jika tidak segera ditangani, gangguan kecemasan sosial akan berkembang menjadi parah dan membuat pengidapnya mengalami berbagai hal serius, seperti:

  • Merasa rendah diri.
  • Tidak dapat berinteraksi dengan orang lain.
  • Tidak mampu bersikap tegas.
  • Sangat sensitif pada kritikan.

Berbagai hal tersebut tentunya akan mengganggu produktivitas dan prestasi pengidap, baik di sekolah, tempat kerja, atau lingkungan tempat tinggal. Bukan hal yang mustahil pula jika gangguan ini membuat pengidap jatuh ke kondisi kecanduan alkohol, penyalahgunaan obat-obatan, hingga percobaan bunuh diri.

Baca juga: 5 Tanda Anxiety Disorder yang Perlu Diketahui

Apa yang Menyebabkan Gangguan Kecemasan Sosial?

Penyebab pasti dari gangguan kecemasan sosial belum diketahui. Gangguan ini dapat dipicu oleh situasi yang baru atau hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya, seperti presentasi atau berpidato di depan umum, serta beberapa faktor berikut:

  • Peristiwa traumatis di masa lalu. Gangguan kecemasan sosial bisa muncul karena pengidapnya pernah mengalami peristiwa memalukan atau tidak menyenangkan sebelumnya, yang disaksikan oleh orang lain.
  • Keturunan atau pola asuh. Gangguan kecemasan sosial cenderung diturunkan dalam keluarga. Namun tidak dapat dipastikan apakah hal ini karena faktor genetik, pola asuh orangtua yang salah, seperti misalnya terlalu mengekang, atau meniru sikap orangtua yang kerap merasa cemas dan takut ketika berhadapan dengan orang lain.
  • Struktur otak. Perasaan takut yang dimiliki manusia sangat dipengaruhi oleh bagian otak yang bernama amygdala. Ketika bagian otak ini terlalu aktif, seseorang akan mengalami rasa takut yang lebih kuat. Akibatnya, risiko munculnya kecemasan berlebihan saat berinteraksi dengan orang lain pun meningkat. 

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2019. Social Anxiety Disorder (Social Phobia).
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. Social Anxiety Disorder (Social Phobia).