4 Cara Mencegah Retensi Plasenta

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
4 Cara Mencegah Retensi Plasenta

Halodoc, Jakarta - Pernah dengar soal retensi plasenta? Kondisi ini terjadi ketika plasenta atau ari-ari tertahan di dalam rahim pasca melahirkan. Retensi plasenta sangat berbahaya, karena dapat menyebabkan infeksi dan pendarahan yang mengakibatkan kematian.

Sebelum membahas mengenai retensi plasenta, perlu diketahui bahwa persalinan terbagi atas 3 tahap. Pada tahap pertama, ibu hamil akan mengalami kontraksi, yang memicu pembukaan pada leher rahim. Kemudian, ibu hamil memasuki tahap kedua atau proses persalinan. Pada tahap ini, ibu mulai mendorong bayi keluar.

Setelah bayi lahir, plasenta akan keluar beberapa menit setelah bayi dilahirkan. Proses keluarnya plasenta ini adalah tahap ketiga atau tahap terakhir. Umumnya, persalinan normal akan melalui 3 tahapan tersebut. Namun, pada ibu dengan retensi plasenta, plasenta tidak keluar dari dalam rahim, bahkan hingga lewat dari 30 menit.

Kondisi Serius yang Ditimbulkan

Tertahannya sebagian atau seluruh plasenta di dalam tubuh hingga satu jam setelah proses persalinan usai, dapat menyebabkan berbagai kondisi serius, yaitu:

  • Perdarahan hebat.

  • Nyeri yang berlangsung lama.

  • Demam.

  • Keluar cairan dan jaringan berbau tidak sedap dari Miss V.

Jenis-Jenis Retensi Plasenta

Berdasarkan penyebabnya, retensi plasenta dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

1. Plasenta Adherens

Plasenta adherens terjadi ketika rahim tidak cukup kuat berkontraksi dan mengeluarkan ari-ari. Kondisi ini disebabkan perlekatan sebagian atau seluruh plasenta pada dinding rahim. Plasenta adherens adalah jenis retensi plasenta yang paling umum terjadi.

2. Plasenta Akreta

Plasenta akreta terjadi ketika plasenta tumbuh terlalu dalam di dinding rahim. Umumnya, kondisi ini disebabkan oleh kelainan pada lapisan rahim, akibat menjalani operasi caesar atau operasi rahim.

3. Trapped Placenta

Trapped placenta adalah kondisi ketika ari-ari sudah terlepas dari dinding rahim, tetapi belum keluar dari rahim. Kondisi ini terjadi akibat menutupnya leher rahim (serviks) sebelum plasenta keluar.

Pencegahan yang Dapat Dilakukan

Meski retensi plasenta merupakan kondisi serius yang dapat disebabkan dan dipicu oleh berbagai hal, beberapa cara berikut dapat dilakukan untuk mencegah ataupun mengantisipasi komplikasi yang mungkin ditimbulkan.

1. Menghindari Faktor Risiko

Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mencegah retensi plasenta adalah sebisa mungkin menghindari faktor-faktor risiko yang dapat memicunya. Beberapa hal terkait kehamilan yang dapat menjadi faktor risiko retensi plasenta adalah sebagai berikut:

  • Hamil saat berusia di atas 30 tahun.

  • Melahirkan di bawah usia kehamilan 34 minggu (kelahiran prematur).

  • Mengalami proses persalinan kala 1 atau kala 2 yang terlalu lama.

  • Persalinan dengan janin mati dalam kandungan

2. Pemberian Obat-Obatan

Obat-obatan seperti oksitosin diperlukan untuk merangsang kontraksi rahim dan mengeluarkan plasenta. Pemberian obat-obatan ini dilakukan dokter sebagai tindakan antisipasi selama tahap atau kala 3 persalinan.

3. Menjalankan Prosedur Controlled Cord Traction (CCT)

Prosedur yang dilakukan setelah ari-ari berhasil terlepas dari rahim ini dilakukan dengan menjepit, kemudian menarik tali pusar bayi sambil menekan perut ibu.

4. Melakukan Pijatan Ringan di Area Rahim Sesudah Bayi Lahir

Hal ini dilakukan untuk mengembalikan ukuran rahim, merangsang kontraksi, dan membantu menghentikan perdarahan.

Itulah sedikit penjelasan tentang retensi plasenta dan pencegahan yang dapat dilakukan. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut soal hal ini atau gangguan kesehatan lainnya, jangan ragu untuk mendiskusikannya dengan dokter pada aplikasi Halodoc, lewat fitur Contact Doctor, ya. Mudah kok, diskusi dengan dokter spesialis yang kamu inginkan pun dapat dilakukan melalui Chat atau Voice/Video Call. Dapatkan juga kemudahan membeli obat menggunakan aplikasi Halodoc, kapan dan di mana saja, obatmu akan langsung diantar ke rumah dalam waktu satu jam. Yuk, download sekarang di Apps Store atau Google Play Store!

Baca juga: