5 Faktor Risiko yang Bisa Sebabkan Sindrom Sheehan

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
5 Faktor Risiko yang Bisa Sebabkan Sindrom Sheehan

Halodoc, Jakarta - Sebagai komplikasi persalinan, sindrom Sheehan adalah kondisi ketika kelenjar pituitari atau hipofisis mengalami kerusakan saat proses melahirkan. Kelenjar tersebut berbentuk kecil dan terletak di bawah otak. Fungsinya cukup penting, yaitu menghasilkan hormon yang berfungsi sebagai pengendali hormon pertumbuhan, produksi ASI, siklus menstruasi, dan reproduksi. Lalu, apa saja penyebab dan faktor risiko sindrom Sheehan?

Penyebab sindrom Sheehan adalah perdarahan hebat atau rendahnya tekanan darah, selama atau setelah melahirkan. Hal ini bisa merusak kelenjar hipofisis yang membesar selama masa kehamilan, sehingga kelenjar tak bisa lagi berfungsi normal dan tidak menghasilkan hormon yang seharusnya diproduksi.

Baca juga: Kenali Jenis Hormon Kehamilan dan Fungsinya untuk Wanita Hamil

Risiko terjadinya sindrom Sheehan dapat ditingkatkan oleh setiap kondisi yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya perdarahan hebat atau tekanan darah rendah selama kehamilan. Kondisi tersebut adalah:

  1. Solusio plasenta atau lepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum bayi lahir.

  2. Placenta previa, yaitu kondisi sebagian atau seluruh plasenta menutupi mulut rahim.

  3. Melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 4 kilogram atau bayi kembar.

  4. Preeklamsia selama masa kehamilan.

  5. Penggunaan alat bantu persalinan, seperti forcep atau vakum.

Jika memiliki faktor-faktor risiko yang telah disebutkan tadi, ibu hamil perlu waspada. Segera diskusikan kondisi dengan dokter, supaya pencegahan sindrom Sheehan bisa dilakukan. Sekarang, diskusi dengan dokter spesialis kandungan juga bisa dilakukan di aplikasi Halodoc, melalui Chat atau Voice/Video Call, lho.

Waspadai Juga Gejalanya

Gejala sindrom Sheehan biasanya muncul secara perlahan selama beberapa bulan atau tahun, sehingga sulit diketahui. Namun pada beberapa kasus, gejala bisa muncul seketika, seperti misalnya gangguan dalam menyusui. Adapun berbagai gejala umum dari sindrom Sheehan adalah:

  • Gangguan menstruasi, seperti amenorrhea atau oligomenorrhea.

  • Tekanan darah rendah.

  • Rambut yang dicukur tidak tumbuh lagi.

  • Kadar gula darah rendah.

  • Tidak mengeluarkan ASI.

  • Tubuh mudah lelah.

  • Aritmia.

  • Payudara menyusut.

  • Berat badan bertambah.

  • Mudah kedinginan.

  • Kondisi mental menurun.

  • Kulit kering.

  • Menurunnya libido.

  • Nyeri sendi.

  • Kerutan di sekitar mata dan bibir.

Baca Juga: 11 Tanda Ibu Menyusui Alami Sindrom Sheehan

Pada beberapa wanita, gejala sindrom Sheehan bisa muncul karena hal lain. Misalnya, tubuh mudah lelah yang diduga normal pada wanita yang baru melahirkan. Sementara pada beberapa kasus lainnya, gejala juga bisa sama sekali tidak muncul. Itulah sebabnya banyak pengidap sindrom Sheehan yang bertahun-tahun tidak menyadari ada gangguan pada kelenjar hipofisis mereka.

Bagaimana Diagnosis dan Pengobatan untuk Sindrom Sheehan?

Dalam memastikan diagnosis, sebelum menjalankan pemeriksaan dokter biasanya akan bertanya tentang riwayat kesehatan pengidap. Jadi, disarankan untuk memberi tahu dokter jika pernah mengalami komplikasi kehamilan sebelumnya, tidak dapat memproduksi ASI, atau tidak mengalami menstruasi setelah melahirkan.

Selanjutnya, untuk membantu memastikan diagnosis, dokter akan melakukan tes darah untuk memeriksa kadar hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisis. Lalu, dokter juga akan melakukan tes stimulasi hormon, dengan menyuntikkan hormon, serta mengambil lagi sampel darah untuk melihat respon kelenjar hipofisis. 

Jika diperlukan, dokter juga akan melakukan serangkaian tes penunjang seperti CT scan atau MRI. Prosedur ini dilakukan untuk melihat ukuran kelenjar hipofisis dan memeriksa kemungkinan lain, seperti tumor hipofisis. Jadi, jika mengalami gejala sindrom Sheehan, segera periksakan diri ke dokter untuk memastikan diagnosisnya, ya. Untuk melakukan pemeriksaan, kini kamu bisa langsung buat janji dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc.

Baca Juga: Inilah 8 Tips Mengejan Saat Persalinan

Kemudian setelah diagnosis dipastikan, langkah pengobatan akan dilakukan. Pengobatan sindrom Sheehan biasanya dilakukan dengan terapi pengganti hormon yang hilang, seperti:

  • Kortikosteroid. Digunakan sebagai pengganti hormon adrenal, yang tidak diproduksi akibat kekurangan hormon adrenokortikotropik. Contoh obat ini adalah dexametason dan prednisone.

  • Levotiroksin. Untuk meningkatkan kadar hormon tiroid yang kekurangan akibat rendahnya produksi TSH (thyroid-stimulating hormone) oleh kelenjar hipofisis.

  • Estrogen. Hormon yang produksinya diatur oleh kelenjar hipofisis.

  • Hormon pertumbuhan. Terapi pengganti hormon pertumbuhan pada wanita dengan sindrom Sheehan dapat menjaga rasio normal otot dan lemak tubuh, menurunkan kadar kolesterol, mempertahankan massa tulang, dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Referensi:

Mayo Clinic (Diakses pada 2019). Sheehan's syndrome

Healthline (Diakses pada 2019). Sheehan syndrome

MedlinePlus (Diakses pada 2019). Sheehan syndrome