5 Penyakit Akibat Kerusakan Saraf

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
5 Penyakit Akibat Kerusakan Saraf

Halodoc, Jakarta – Sistem saraf terlibat dalam segala hal yang dilakukan oleh tubuh mulai dari mengatur pernapasan, hingga mengendalikan kerja otot untuk merasakan panas dan dingin. Ada tiga jenis saraf dalam tubuh, pertama adalah saraf otonom. Saraf ini mengontrol aktivitas sukarela atau sebagian aktivitas tubuh, termasuk detak jantung, tekanan darah, pencernaan, dan pengaturan suhu.

Kedua adalah saraf motorik. Saraf-saraf ini mengontrol gerakan dan tindakan dengan memberikan informasi dari otak dan sumsum tulang belakang ke otot-otot. Ketiga adalah saraf sensorik yang berfungsi untuk menyampaikan informasi dari kulit dan otot kembali ke sumsum tulang belakang dan otak. Informasi tersebut, kemudian diproses untuk membiarkan kamu merasakan sakit dan sensasi lainnya.

Oleh karena saraf sangat penting untuk semua yang kamu lakukan, nyeri dan kerusakan saraf dapat sangat memengaruhi kualitas hidup. Gejala dan nyeri akibat kerusakan saraf tergantung dari lokasi dan jenis saraf yang mengalami kerusakan.

Kerusakan dapat terjadi dalam saraf di otak dan sumsum tulang belakang. Ini juga dapat terjadi di saraf perifer yang terletak di seluruh tubuh. Kerusakan saraf otonom dapat menghasilkan gejala yang akhirnya berujung pada penyakit sebagai berikut:

  1. Angina dan Serangan Jantung

Sebagai akibat dari ketidakmampuan untuk merasakan nyeri di dada

  1. Hiperhidrosis

Ini dikarenakan kulit tidak bisa merasakan sensasi perubahan suhu yang biasanya diawali dengan gejala awal. Oleh karena kehilangan merasakan sensasi maka muncullah hyperhidrosis di mana tubuh terlalu banyak mengeluarkan keringat.

  1. Disfungsi Kandung Kemih

Ketika saraf tidak berhasil memberikan sinyal untuk berkemih, sehingga membuat seseorang yang mengalami kerusakan saraf kehilangan kemampuan untuk berkemih secara normal. Menahan hasrat buang air kecil bisa menyebabkan disfungsi kandung kemih.

  1. Sembelit

Sama halnya seperti disfungsi kandung kemih, penyakit saraf dapat membuat orang yang mengalaminya kehilangan sinyal awal keinginan untuk buang air besar. Makanya, sembelit bisa sampai terjadi.

  1. Akalasia

Akalasia dapat terjadi karena berbagai alasan. Bisa jadi karena turun-temurun atau mungkin hasil dari kondisi autoimun. Dengan kondisi seperti ini, sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang sel-sel sehat di tubuhmu. Penurunan fungsi saraf di esofagus juga sering berkontribusi pada gejala lanjutan dari akalasia.

Kerusakan saraf motorik dapat menghasilkan gejala, seperti kelemahan otot, berkedut atau juga dikenal sebagai fasikulasi, mengalami kelumpuhan. Sedangkan kerusakan saraf sensorik, dapat menghasilkan gejala, seperti rasa sakit, kepekaan yang berlebihan, kebas, sensasi kesemutan dan sensasi terbakar.

Dalam beberapa kasus, orang dengan kerusakan saraf akan memiliki gejala yang menunjukkan kerusakan pada dua atau bahkan tiga, berbagai jenis saraf. Misalnya, pengidapnya sangat mungkin mengalami sensasi kelemahan sekaligus kaki terasa terbakar pada saat yang bersamaan.

Kerusakan saraf tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, ada berbagai perawatan yang dapat mengurangi gejala. Oleh karena kerusakan saraf sering progresif, penting untuk berkonsultasi dengan dokter ketika seseorang pertama kali melihat gejala. Dengan begitu, pengidapnya bisa mengurangi kemungkinan kerusakan permanen.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai penyakit akibat kerusakan saraf, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Baca juga: