04 March 2019

6 Gejala yang Dapat Menjadi Indikasi Myasthenia Gravis

myasthenia gravis, melemahnya otot

Halodoc, Jakarta - Gangguan myasthenia gravis ditandai dengan melemahnya otot. Kondisi tersebut biasanya akan semakin memburuk pada saat atau setelah melakukan aktivitas fisik. Kondisi ini akan membaik saat otot-otot tersebut diistirahatkan. Biasanya, gejala akan sering muncul saat malam hari saat kondisi tubuh mulai lelah setelah beraktivitas seharian.

Melemahnya otot memang menjadi gejala utama penyakit myasthenia gravis. Indikasi tersebut memiliki kecenderungan untuk menjadi semakin parah apabila otot yang lemah sering digunakan. Karena gejala myasthenia gravis biasanya akan membaik setelah otot diistirahatkan, kelemahan otot ini akan hilang dan muncul secara bergantian, tergantung pada aktivitas pengidap. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, penyakit ini akan semakin parah dan akan mencapai puncaknya beberapa tahun setelah gejala awal muncul.

Baca juga: Semua Bisa Kena Myasthenia Gravis, Hindari Faktor Risikonya

Sebenarnya, kelemahan otot ini tidak akan terasa sakit. Namun, terdapat sebagian pengidap yang merasa nyeri saat gejala kambuh, terutama ketika melakukan aktivitas fisik. Otot yang paling sering diserang penyakit adalah otot mata, otot wajah, dan otot yang mengendalikan proses menelan. Gejala-gejala myasthenia gravis yang mengindikasikan kondisi ini adalah:

  1. Salah satu atau kedua kelopak mata pengidap akan turun dan susah dibuka.
  2. Penglihatan ganda atau kabur.
  3. Perubahan kualitas suara, misalnya menjadi sengau atau pelan.
  4. Sulit menelan dan mengunyah. Gejala ini akan menyebabkan pengidap mudah tersedak.
  5. Sulit bernapas, terutama saat beraktivitas atau berbaring.
  6. Melemahnya otot tangan, kaki, dan leher. Gejala ini akan memicu gangguan mobilitas, seperti pincang atau kesulitan mengangkat barang.

Baca juga: 8 Cara Mendeteksi Penyakit Myasthenia Gravis pada Anak

Perlu kamu ketahui bahwa penyebab gangguan myasthenia gravis adalah adanya gangguan penghantaran sinyal saraf menuju otot. Gangguan hantaran sinyal ini diduga disebabkan oleh suatu kondisi autoimun.

Autoimun merupakan sebuah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami kelainan sehingga menyerang jaringan dan saraf yang sehat pada tubuh. Terdapat dua hal yang memengaruhi kondisi autoimun ini:

  1. Hantaran sinyal saraf. Sinyal saraf dihantarkan menuju ujung-ujung persarafan untuk menghasilkan sebuah senyawa kimia yang disebut dengan asetilkolin. Asetilkolin ini kemudian ditangkap oleh reseptor-reseptor di otot, sehingga menghasilkan kontraksi otot. Pada kondisi autoimun, sistem kekebalan tubuh akan menghasilkan protein-protein yang menghancurkan reseptor di otot. Hal ini mengakibatkan asetilkolin tidak dapat ditangkap oleh otot, sehingga otot akan melemah karena tidak mampu berkontraksi.
  2. Kelenjar timus merupakan salah satu organ yang berfungsi menghasilkan antibodi. Para pakar juga menduga bahwa kelenjar timus berperan dalam munculnya penyakit autoimun ini. Pada kondisi normal, ukuran kelenjar timus pada seseorang akan membesar selama masa kanak-kanak dan menyusut menjelang dewasa. Meski begitu, pengidap myasthenia gravis dewasa biasanya mengalami keabnormalan dengan memiliki kelenjar timus yang berukuran besar. Sekitar 1 dari 10 pengidap myasthenia gravis memiliki tumor jinak pada kelenjar timus.

Baca juga: Mengenal Miastenia Gravis yang Menyerang Otot Tubuh

Gangguan ini memang tidak dapat dicegah sepenuhnya, karena sifatnya yang autoimun. Namun, terdapat beberapa langkah sederhana bagi pengidap myasthenia gravis supaya terhindar dari kambuhnya gejala. Misalnya berhenti beraktivitas sebelum kelelahan, menjaga kebersihan untuk mencegah infeksi, menangani infeksi yang dialami secara seksama, menghindari suhu tubuh yang terlalu dingin atau panas, serta menangani stres dengan efektif.

Itulah yang perlu kamu ketahui mengenai gejala yang mengindikasikan penyakit myasthenia gravis. Apabila kamu mengalami salah satu gejala di atas sebaiknya segera komunikasikan pada dokter melalui aplikasi Halodoc untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.