7 Ciri Tingginya Jumlah Trombosit Dalam Darah

7 Ciri Tingginya Jumlah Trombosit Dalam Darah

Halodoc, Jakarta - Sebagai komponen dalam darah, trombosit adalah sel darah yang memiliki peran penting dalam proses pembekuan darah saat terjadi luka agar darah segera berhenti keluar. Namun, kadar trombosit yang terlalu tinggi bukan kondisi yang menguntungkan. Trombosit yang tinggi atau trombositosis bisa membahayakan kesehatan karena menyebabkan terjadinya kerusakan sel darah merah, hingga terbentuknya gumpalan darah.

Terbentuknya gumpalan darah bukan kondisi yang bisa disepelekan, karena kondisi ini bisa saja menghambat aliran darah ke otak, jantung, hati dan organ vital lain, sehingga kemungkinan seseorang terserang stroke atau penyakit jantung juga jadi meningkat. Jumlah trombosit dalam sel darah yang termasuk normal pada manusia adalah 150.000-450.000 per mikroliter darah. Jika lebih dari angka itu, maka kondisi ini disebut sebagai trombositosis. 

Baca Juga: Jika Tidak Ditangani, Trombositosis Bisa Sebabkan TIA

Bagaimana Ciri Jika Seseorang Mengalami Trombositosis?

Memang diperlukan pemeriksaan dahulu untuk memastikan apakah seseorang terkena trombositosis atau tidak. Namun, terdapat beberapa gejala yang dikenali jika hal ini terjadi. Cirinya antara lain: 

  • Sakit kepala.

  • Dada terasa nyeri.

  • Tubuh lemas.

  • Gangguan penglihatan sementara.

  • Kesemutan pada lengan atau tungkai.

  • Memar pada kulit.

  • Perdarahan dari hidung, mulut, gusi, dan saluran pencernaan.

Baca Juga: Ketahui Komplikasi yang Disebabkan Trombositosis

Apa yang Menjadi Penyebab Seseorang Mengalami Trombositosis?

Terdapat dua jenis penyebab trombositosis bisa terjadi pada seseorang. Jenis penyebab tersebut antara lain:

  • Trombositosis Primer. Kenaikan jumlah trombosit yang terjadi karena gangguan pada sumsum tulang, sehingga trombosit diproduksi tubuh secara berlebihan.

  • Trombositosis Sekunder. Kenaikan jumlah trombosit akibat adanya penyakit lain yang mengakibatkan tubuh bereaksi dengan menghasilkan trombosit lebih banyak. Penyakit tersebut, antara lain: 

  • Perdarahan.

  • Operasi pengangkatan limpa.

  • Infeksi.

  • Beberapa jenis kanker, termasuk leukemia.

  • Defisiensi zat besi.

  • Peradangan usus.

  • Hemolisis atau kerusakan sel darah merah secara prematur.

  • Penggunaan obat-obatan, seperti epinephrine,  vincristine, atau heparin sodium.

Pengobatan Trombositosis

Langkah pengobatan trombositosis akan dilakukan sesuai jenisnya. Pengidap trombositosis yang tidak mengalami gejala dan kondisinya stabil hanya memerlukan pemeriksaan secara rutin. Langkah trombositosis sekunder yang harus dilakukan dengan mengatasi penyebab utamanya. Dengan begini, maka jumlah trombosit dapat kembali normal.

Apabila penyebabnya adalah cedera atau pasca operasi yang menyebabkan perdarahan yang banyak, maka kenaikan jumlah trombosit tidak akan bertahan lama dan dapat kembali normal dengan sendirinya. Sedangkan trombositosis sekunder karena infeksi kronis atau penyakit peradangan, maka jumlah trombosit tetap tinggi sampai penyebab kondisi dapat dikendalikan.

Di sisi lain, operasi pengangkatan limpa (splenektomi) menimbulkan trombositosis sepanjang hidup, meski biasanya tidak diperlukan pengobatan khusus untuk menurunkan jumlah trombosit. Sementara itu, pengobatan untuk trombositosis primer dianjurkan bagi pengidap dengan kondisi:

  • Berusia di atas 60 tahun.

  • Memiliki riwayat perdarahan atau penggumpalan darah.

  • Mengidap diabetes, atau penyakit jantung dan pembuluh darah.

Pengobatan dapat dilakukan dengan:

  • Pemberian aspirin.

  • Obat penurun jumlah trombosit. 

  • Plateletpheresis. Prosedur ini dilakukan jika produksi trombosit tidak dapat secara cepat dikurangi dengan obat penurun jumlah trombosit. Pelaksanaan prosedur ini biasanya dalam kondisi darurat pasca serangan stroke atau pembekuan darah serius lain. Dalam prosedur ini, trombosit akan dipisahkan dari aliran darah dan dibuang.

  • Transplantasi sumsum tulang. Prosedur ini dilakukan jika pengobatan lain tidak dapat mengatasi gejala. Transplantasi sumsum tulang dapat disarankan jika pengidapnya masih dalam usia muda dan memiliki donor yang cocok.

Baca Juga: 5 Makanan yang Sebaiknya Dikonsumsi Ketika Terkena Trombositosis

 

Itulah beberapa ciri saat trombosit dalam darah seseorang kadarnya terlalu tinggi. Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala trombositosis, maka kamu harus segera memeriksakan diri ke dokter. Dengan melakukan penanganan yang tepat di rumah sakit, maka hal ini bisa meminimalisir risiko. Kini kamu pun bisa pilih dokter di rumah sakit yang tepat sesuai dengan kebutuhan kamu melalui Halodoc. Praktis bukan? Kamu juga bisa download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!