8 Gejala MRSA yang Perlu Diwaspadai

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Gejala MRSA

Halodoc, Jakarta - MRSA (methicillin-resistant staphylococcus aureus) merupakan bakteri yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan penggunaan antibiotik. Parahnya, bakteri yang satu ini dapat menembus jauh ke dalam tubuh dan menyebabkan penyakit pada tubuh, seperti katup jantung, sendi, tulang, bahkan infeksi paru-paru. Kenali gejalanya, agar kamu dapat menghindari penyebarannya.

Baca juga: 3 Hal yang Bisa Sebabkan MRSA 

Berikut Gejala yang Umum Terjadi pada Pengidap MRSA

Umumnya, gejala yang tampak pada pengidap MRSA adalah benjolan merah pada kulit. Benjolan ini akan tampak seperti jerawat atau bisul. Selain adanya benjolan, gejala umum pada pengidap MRSA meliputi:

  1. Merasa kelelahan yang berlebihan.

  2. Rasa nyeri pada dada.

  3. Batuk-batuk dan sesak napas.

  4. Badan terasa nyeri.

  5. Merasa sangat pusing.

  6. Mengalami demam dan menggigil.

  7. Adanya ruam pada tubuh.

  8. Adanya luka yang tidak kunjung sembuh.

Gejala yang muncul bisa saja berbeda dari masing-masing pengidap methicillin-resistant staphylococcus aureus. Namun, segera diskusikan dengan dokter jika kamu menemukan luka pada kulit yang terdapat nanah, demam sangat tinggi, serta benjolan merah yang terasa hangat ketika disentuh. Penanganan yang tepat akan meminimalisir akibat yang kamu alami.

Baca juga: 2 Metode Pengobatan untuk Atasi Infeksi Luka Operasi

Mengidap MRSA, Ini Faktor Risikonya

Bakteri pada pengidap methicillin-resistant staphylococcus aureus akan membangun kekebalan terhadap obat antibiotik setelah bertahun-tahun antibiotik dikonsumsi oleh tubuh. Pada banyak kasus, penularan MRSA dapat terjadi akibat adanya kontak kulit orang yang sehat dengan orang yang terinfeksi. Faktor risiko lain yang dapat menjadi pemicu terjadinya MRSA, antara lain:

  • Berbagi barang pribadi yang sudah terinfeksi dengan bakteri.

  • Menggunakan alat-alat dari rumah sakit secara bergantian, seperti alat cuci darah.

  • Seseorang yang tinggal di lingkungan padat penduduk.

  • Seseorang yang menjalani rawat inap di rumah sakit selama berbulan-bulan.

  • Seseorang yang bekerja menjadi tenaga medis.

  • Seseorang yang memiliki sistem imunitas tubuh yang lemah.

  • Seseorang yang melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan pengaman.

Tidak memiliki faktor risiko di atas bukan berarti kamu bisa bebas terhindari dari MRSA. Jika dirasa ada yang bermasalah dengan kesehatanmu, segera diskusikan dengan dokter ahli pada aplikasi Halodoc untuk mengetahui penanganan lebih lanjut yang harus kamu lakukan.

Baca juga: Terkena Infeksi Nosokomial, Apakah Berbahaya?

Jangan Sampai Terkena MRSA, Begini Langkah Pencegahannya

Seseorang dengan MRSA yang dirawat di rumah sakit harus menjalani rawat inap dalam ruang isolasi agar infeksi tidak menyebar. Selain itu, petugas medis serta pengunjung diwajibkan untuk memakai pakaian khusus dan menjaga kebersihan tangan setelah memasuki ruang isolasi. Selain itu, beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan, antara lain:

  • Jika memiliki luka pada kulit, tutup luka agar tidak terkontaminasi oleh bakteri.

  • Selalu menjaga kebersihan tangan dengan rajin mencuci tangan dengan sabun antiseptik.

  • Menjaga kebersihan pakaian, jika dirasa telah terkontaminasi, cuci pakaian dengan air panas dan sabun.

  • Tidak bertukar barang-barang pribadi, seperti handuk, pisau cukur, atau pakaian.

Penanganan pada pengidap MRSA tergolong sulit, karena infeksi tahan terhadap berbagai jenis antibiotik. Untuk itu, segera diskusikan dengan dokter jika gejala-gejala muncul pada dirimu. Karena jika gejala yang muncul dibiarkan begitu saja, akan ada komplikasi yang timbul dan menyebabkan gangguan pada aliran darah, paru-paru, jantung, tulang, serta sendi.