Adakah Cara untuk Mencegah Hemokromatosis?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Adakah Cara untuk Mencegah Hemokromatosis?

Halodoc, Jakarta – Hemokromatosis adalah penyakit di mana terlalu banyak zat besi menumpuk di tubuh (kelebihan zat besi). Kondisi ini dapat meracuni organ dan menyebabkan kegagalan organ. 

Adakah cara untuk pencegahannya? Jawabannya tidak. Sejatinya perawatan dan pengobatan dapat mencegah penyakit ini menjadi lebih buruk. Selengkapnya mengenai hemokromatosis, baca di bawah ini!

Perawatan Hemokromatosis

Adapun perawatan untuk hemokromatosis termasuk terapi flebotomi, terapi kelasi besi (terapi yang membuang kelebihan zat besi), perubahan pola makan, dan perawatan lainnya. Orang yang mengidap hemokromatosis atau memiliki riwayat keluarga dengan kondisi ini dan berencana untuk memiliki anak mungkin perlu mempertimbangkan pengujian dan konseling genetik. 

Pengujian tersebut akan membantu menunjukkan apakah salah satu atau kedua orang tua memiliki gen yang salah. Seorang konselor genetik juga dapat membantu mencari tahu kemungkinan orang tua mewariskan gen yang salah kepada anak-anak mereka.

Baca juga: Ini Tes yang Dilakukan untuk Diagnosis Hemokromatosis

Hemokromatosis ada dua jenis primer dan sekunder. Setiap jenis memiliki penyebab yang berbeda. Kalau hemokromatosis primer disebabkan oleh cacat pada gen yang mengontrol berapa banyak zat besi yang tubuh serap dari makanan yang dikonsumsi. 

Bentuk penyakit ini kadang-kadang disebut herediter atau hemokromatosis klasik. Hemokromatosis primer lebih umum terjadi ketimbang hemokromatosis sekunder. Gen yang biasanya terlibat dalam hemokromatosis primer disebut gen HFE. 

Gen HFE yang rusak menyebabkan tubuh menyerap terlalu banyak zat besi. Jika kamu mewarisi dua salinan gen HFE yang rusak (satu dari masing-masing orangtua), kamu berisiko mengalami kelebihan zat besi.

Jika kamu mewarisi satu gen HFE yang rusak dan satu gen HFE normal, kamu akan disebut sebagai "pembawa" hemokromatosis. Pembawa biasanya tidak mengembangkan penyakit. Namun, mereka dapat meneruskan gen yang salah ataupun rusak kepada keturunannya. Diperkirakan sekitar 1 dari 10 orang di Amerika Serikat adalah pembawa hemokromatosis.

Jika dua orang tua adalah pembawa gen HFE yang salah, maka masing-masing anak mereka memiliki peluang 1 banding 4 untuk mewarisi dua gen HFE yang salah.

Baca juga: Pengidap Thalasemia Berisiko Tinggi Terkena Hemokromatosis

Itu tadi penjelasan mengenai hemokromatosis primer. Lantas, bagaimana dengan hemokromatosis sekunder? Hemokromatosis sekunder biasanya merupakan akibat dari penyakit atau kondisi lain yang menyebabkan kelebihan zat besi. Contoh penyakit dan kondisi tersebut adalah:

  1. Jenis anemia tertentu, seperti talasemia dan anemia sideroblastik.

  2. Atransferrinemia dan aceruloplasminemia, keduanya jarang dan merupakan penyakit bawaan.

  3. Penyakit hati kronis, seperti infeksi hepatitis C kronis, penyakit hati alkoholik, ataupun steatohepatitis non-alkohol.

Faktor-faktor lain juga dapat menyebabkan hemokromatosis sekunder, termasuk:

  1. Transfusi darah.

  2. Pil zat besi oral atau suntikan zat besi, dengan atau tanpa asupan vitamin C yang sangat tinggi (vitamin C membantu tubuh menyerap zat besi).

  3. Dialisis ginjal jangka panjang.

Mereka yang mengidap hemokromatosis akan mengalami penumpukan zat besi pada sebagian besar organ tubuhnya. Ini terjadi terutama pada hati, jantung, dan pankreas. Terlalu banyak zat besi di hati dapat menyebabkan pembesaran hati, gagal hati, kanker hati, atau sirosis. 

Terlalu banyak zat besi di jantung dapat menyebabkan detak jantung tidak teratur. Sedangkan terlalu banyak zat besi di pankreas dapat menyebabkan diabetes. Butuh rekomendasi pengobatan dari dokter, tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa kapan dan di mana saja memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Referensi:

National, Heart, Lung and Blood Institute. Diakses pada 2019. Hemochromatosis
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Hemochromatosis.