• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Tes yang Dilakukan untuk Diagnosis Hemokromatosis

Ini Tes yang Dilakukan untuk Diagnosis Hemokromatosis

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta – Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya berbagai gangguan kesehatan. Ada banyak gangguan kesehatan yang disebabkan oleh faktor genetik atau faktor keturunan, salah satunya adalah hemokromatosis.  Hemokromatosis terjadi ketika tubuh memiliki kadar zat besi secara berlebihan.

Baca juga: Hemokromatosis Bisa Sebabkan Kulit Menggelap

Zat besi tidak dihasilkan secara alami oleh tubuh, biasanya zat besi didapatkan dari asupan makanan yang dikonsumsi. Pada pengidap hemokromatosis, zat besi yang masuk dalam tubuh diserap secara berlebihan dan tidak dapat dikeluarkan oleh tubuh secara otomatis. Kondisi ini menyebabkan penumpukan zat besi dalam tubuh terutama pada organ hati, jantung, pankreas dan sendi yang dapat mengganggu fungsi organ.

Lakukan Pemeriksaan untuk Diagnosis Hemokromatosis

Beberapa gejala akan terjadi ketika kamu mengalami hemokromatosis, seperti perubahan pada tubuh seperti kondisi yang lemas, nyeri pada bagian sendi, sakit perut, serta menurunkan gairah seksual. Kerontokan bulu pada bagian tubuh, berubahnya warna kulit menjadi keabuan, penurunan berat badan, dan jantung yang berdebar menjadi gejala dari hemokromatosis.

Jangan ragu untuk kunjungi rumah sakit terdekat ketika kamu alami beberapa gejala yang menandakan kondisi hemokromatosis. Tidak punya cukup waktu? Jangan khawatir, kamu bisa gunakan aplikasi Halodoc dan bertanya langsung pada dokter mengenai gejala yang dialami. 

Jika kondisi ini dicurigai sebagai penyakit hemokromatosis, umumnya dokter melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan kondisi hemokromatosis, seperti:

1. Pemeriksaan Fisik

Dokter memeriksa kondisi fisik pengidap hemokromatosis pada area perut. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan pembengkakan pada organ hati dan limpa yang umum dialami pengidap hemokromatosis.

2.Tes Darah

Tes darah dilakukan untuk memastikan kadar zat besi dalam darah.

3. Tes Fungsi Hati

Pemeriksaan ini nyatanya diperlukan untuk memastikan kondisi fungsi hati. Hati menjadi salah satu organ yang dapat mengalami penumpukan zat besi pada pengidap hemokromatosis.

4. Pencitraan dengan MRI

Pemeriksaan ini akan dilakukan untuk melihat kondisi organ yang mengalami penumpukan zat besi dengan lebih detail.

5. Biopsi Hati

Pemeriksaan ini meliputi pengambilan sampel jaringan dari hati

Baca juga: Harus Tahu, Ini 9 Gejala Hemokromatosis pada Wanita

Inilah Penyebab Hemokromatosis

Hemokromatosis dapat terjadi akibat adalah kelainan bawaan atau genetik yang disebabkan oleh mutasi gen yang bertugas mengontrol jumlah zat besi yang diserap oleh tubuh dari makanan yang dikonsumsi. Ada beberapa kondisi yang sebabkan kelainan genetik atau mutasi gen, salah satunya adalah riwayat orangtua. Memiliki 2 gen HFE yang bermutasi nyatanya merupakan risiko besar seseorang alami hemokromatosis turunan.

Selain itu, seseorang yang mengalami penyakit autoimun berisiko alami hemokromatosis. Selain itu, ada beberapa pemicu lainnya yang sebabkan seseorang alami hemokromatosis, seperti penyakit gagal ginjal, penyakit liver yang kronis, dan penyakit thallasemia.  

Baca juga: Menopause Tingkatkan Risiko Hemokromatosis

Hemokromatosis yang tidak segera diatasi dapat sebabkan masalah reproduksi pada wanita, kerusakan pankreas yang memicu penyakit diabetes, munculnya jaringan parut pada hati atau sirosis, dan munculnya gangguan pada jantung, seperti aritmia dan gagal jantung. Jadi, tidak ada salahnya untuk lakukan pemeriksaan sejak dini untuk mencegah kondisi hemokromatosis.

Namun, jangan khawatir, penyakit hemokromatosis dapat diatasi dengan melakukan beberapa pengobatan, seperti melakukan proses pembuangan darah atau phlebotomy. Proses ini umumnya dilakukan seperti proses donor darah. Selain itu, penggunaan obat-obatan bisa dilakukan untuk mengatasi hemokromatosis.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Hemochromatosis
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Hemochromatosis