Harus Tahu, Ini 9 Gejala Hemokromatosis pada Wanita

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Harus Tahu, Ini 9 Gejala Hemokromatosis pada Wanita

Halodoc, Jakarta – Sebagai mineral penting dalam produksi sel darah merah atau hemoglobin, zat besi sangat dibutuhkan dalam tubuh. Namun, pada pengidap hemokromatosis, kadar zat besi dalam tubuh terlalu berlebihan, menumpuk di dalam organ, dan memicu gejala penyakit serius. Pada wanita, kelebihan zat besi dalam tubuh biasanya dapat terbuang melalui menstruasi, sehingga gejala baru akan muncul setelah menopause.

Adapun gejala umum yang dapat muncul pada pengidap hemokromatosis adalah:

  1. Lemas.

  2. Nyeri sendi.

  3. Sakit perut.

  4. Gairah seks berkurang.

  5. Bulu badan rontok.

  6. Warna kulit keabuan.

  7. Berat badan turun.

  8. Linglung.

  9. Jantung berdebar.

Baca juga: 10 Makanan dengan Kandungan Zat Besi Tinggi untuk Orangtua

Jika tidak ditangani dan dibiarkan berlanjut dalam jangka panjang, pengidap hemokromatosis dapat mengalami berbagai kondisi serius, seperti:

  • Radang sendi.

  • Impotensi.

  • Diabetes.

  • Sirosis.

  • Gagal jantung.

Oleh karena itu, jika kamu sering mengalami berbagai gejala yang disebutkan tadi, segeralah download aplikasi Halodoc agar bisa berdiskusi dengan dokter lewat chat kapan dan di mana saja dengan mudahnya. Jika dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, kamu juga bisa gunakan aplikasinya untuk buat janji dengan dokter di rumah sakit, lho.

Apa yang Menyebabkan Terjadinya Hemokromatosis?

Penyebab utama dari hemokromatosis adalah kelainan atau mutasi gen yang mengatur penyerapan zat besi dalam tubuh. Mutasi tersebut dapat diturunkan dari orangtua, meski mereka tidak mengalami gejala hemokromatosis. Selain kelainan dan mutasi gen, hemokromatosis juga dapat terjadi akibat penyakit autoimun.

Baca juga: Kapan Bumil Butuh Tambahan Zat Besi? Ini Kata Ahli

Hal itu terjadi ketika zat besi menumpuk dengan cepat pada organ hati, yang biasanya mulai terjadi pada masa perkembangan janin dalam kandungan. Jika disebabkan oleh penyakit autoimun, kondisi ini dapat menyebabkan kematian dini pada bayi baru lahir. 

Selain dua hal tadi, risiko hemokromatosis juga dapat meningkat karena beberapa kondisi, seperti:

  • Transfusi darah jangka panjang, misalnya pada pengidap thalasemia.
  • Gagal ginjal kronis, yang mengharuskan pengidapnya cuci darah secara rutin.
  • Penyakit liver kronis, seperti hepatitis C atau penyakit perlemakan hati.

Pengobatan untuk Pengidap Hemokromatosis

Tindakan pengobatan untuk pengidap hemokromatosis bertujuan untuk mengembalikan dan menjaga kenormalan kadar zat besi dalam tubuh, serta menurunkan risiko kerusakan organ dan komplikasi serius akibat penumpukan zat besi lainnya. Beberapa tindakan pengobatan yang biasa dilakukan dokter untuk pengidap hemokromatosis adalah:

1. Membuang Darah (Phlebotomy)

Prosedur membuang darah atau phlebotomy dilakukan layaknya donor darah. Namun, seberapa sering dan banyaknya jumlah darah yang perlu dibuang akan tergantung pada usia dan tingkat keparahan penyakit yang dialami. Beberapa pengidap awalnya perlu menjalani prosedur ini 1-2 kali dalam seminggu. 

Baca juga: Kekurangan Zat Besi Bisa Tingkatkan Risiko Gagal Jantung

Lalu setelah kadar zat besi dalam darah kembali normal, prosedur dapat dilakukan setiap 2 atau 4 bulan sekali. Untuk membantu proses penyembuhan, pengidap hemokromatosis akan dilarang untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang dapat meningkatkan kadar zat besi dalam tubuh, seperti vitamin C, suplemen zat besi, alkohol, ikan mentah, dan kerang. 

2. Obat-Obatan

Obat-obatan untuk pengidap hemokromatosis biasanya diberikan dokter dalam bentuk pil atau suntik. Pemberian obat-obatan ini bertujuan untuk membantu pengikatan dan pembuangan kelebihan zat besi dalam tubuh, agar bisa dibuang melalui urine dan feses. Obat yang biasanya diberikan adalah kelasi, seperti deferiprone. Selain itu, pemberian obat biasanya dilakukan jika pengidap memiliki kondisi tertentu, yang membuatnya tidak bisa menjalani prosedur pembuangan darah, seperti mengidap thalassemia atau penyakit jantung.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Hemochromatosis.
WebMD. Diakses pada 2019. What is Hemochromatosis?