• Home
  • /
  • Alasan Difteri Bisa Sebabkan Kerusakan Otot Jantung

Alasan Difteri Bisa Sebabkan Kerusakan Otot Jantung

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Alasan Difteri Bisa Sebabkan Kerusakan Otot Jantung

Halodoc, Jakarta – Difteri adalah infeksi bakteri yang bisa memengaruhi selaput lendir hidung dan tenggorokan. Penyakit ini biasanya menyebabkan sakit tenggorokan, demam, pembengkakan kelenjar, dan tubuh melemah. 

Komplikasi difteri bisa menyebabkan toksin menyebar melalui aliran darah dan merusak jaringan lain di tubuh seperti otot jantung. Kondisi ini bisa memberikan peradangan otot jantung, gagal jantung, sampai kematian mendadak.

Menghalangi Jalan Napas

Difteri adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Tanda dan gejala biasanya mulai 2–5 hari setelah terpapar dengan gejala bisa ringan hingga berat. Pengidapnya bisa merasakan sakit tenggorokan, kemudian diakhiri dengan demam. 

Dalam kasus yang parah, bakteri dapat menghasilkan racun (toksin) yang menyebabkan bercak abu-abu atau putih tebal di bagian belakang tenggorokan. Bercak ini dapat menghalangi jalan napas, sehingga sulit untuk bernapas, menelan, dan menjadi penyebab batuk yang menyerupai lolongan panjang. 

Baca juga: Ini Penyebab Munculnya Wabah Difteri di Indonesia

Leher bisa jadi membengkak sebagian karena pembesaran kelenjar getah bening. Kemudian, racun juga dapat masuk ke aliran darah yang menyebabkan komplikasi termasuk peradangan dan kerusakan otot jantung, radang saraf, masalah ginjal, dan masalah pendarahan karena trombosit darah rendah. 

Ketika otot jantung rusak, detak jantung menjadi tidak normal dan ketika saraf-saraf mengalami peradangan, ini dapat menyebabkan kelumpuhan. Kalau ingin tahu lebih lanjut mengenai dampak difteri pada kerusakan otot jantung, bisa ditanyakan langsung ke Halodoc

Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk kamu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa kapan dan di mana saja memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Pencegahan Difteri

Pencegahan difteri dapat dilakukan dengan pemberian vaksin. Vaksin difteri biasanya dikombinasikan dengan vaksin untuk tetanus dan batuk rejan. Vaksin difteri adalah salah satu imunisasi masa kanak-kanak yang direkomendasikan dokter-dokter di Amerika Serikat. 

Baca juga: Kenapa Difteri Lebih Mudah Menyerang Anak-anak?

Vaksin difteri efektif untuk mencegah difteri. Namun, mungkin ada beberapa efek samping. Beberapa anak mungkin mengalami demam ringan, rewel, dan sensasi mengantuk. Jika kamu pernah terpapar dengan orang yang terinfeksi difteri, kunjungi dokter untuk tes dan kemungkinan perawatan. 

Dokter mungkin memberi kamu resep antibiotik untuk membantu mencegah komplikasi yang lebih parah. Cara pengobatan dilakukan dengan cara mengobati orang yang ditemukan sebagai pembawa difteri dengan pemberian antibiotik untuk membersihkan sistem bakteri yang ada di dalam tubuh.

Sebagai informasi, tanda dan gejala difteri biasanya ditandai dengan:

  1. Selaput kelabu tebal yang menutupi tenggorokan dan amandel.

  2. Sakit tenggorokan dan suara serak.

  3. Kelenjar bengkak (pembesaran kelenjar getah bening) di leher.

  4. Kesulitan bernapas dengan irama cepat dan tak teratur.

  5. Hidung mengeluarkan lendir.

  6. Demam dan menggigil.

Orang yang terinfeksi dengan status sebagai carrier atau “pembawa” terkadang tidak menyadari penyakitnya dan dapat menyebarkan infeksi tanpa menjadi sakit. Difteri adalah infeksi yang hanya menyebar di antara manusia. Penyakit ini menular melalui kontak fisik langsung dengan tetesan yang secara sengaja maupun tidak sengaja terembus dari udara ke udara. 

Gesekan dari kulit yang terinfeksi serta pertukaran benda-benda seperti ranjang dan pakaian yang telah digunakan oleh orang yang terinfeksi, juga menjadi pemicu penyebaran difteri. Sistem kerja dari toksin difteri adalah menghambat produksi protein oleh sel, menghancurkan jaringan di lokasi infeksi, mengarah pada pembentukan membran, masuk ke ke dalam aliran darah dan didistribusikan di sekitar jaringan tubuh, sehingga menimbulkan peradangan. 

Referensi:

World Health Organization. Diakses pada 2019. Diphtheria
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diphtheria.
Medical News Today. Diakses pada 2019. Everything you need to know about diphtheria