Alasan Menopause Dapat Sebabkan Vaginitis

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Alasan Menopause Dapat Sebabkan Vaginitis

Halodoc, Jakarta – Penyebab paling umum dari vaginitis adalah penurunan estrogen setelah menopause. Ini juga dapat terjadi setelah melahirkan, dan itu bisa terjadi ketika obat anti-estrogen digunakan untuk mengobati kondisi lain.

Ovarium membuat estrogen sampai seorang wanita mengalami menopause. Di Amerika Serikat, 51 tahun adalah usia rata-rata saat menopause terjadi. Sebelum menopause, estrogen dalam aliran darah wanita membantu melindungi kulit Miss V dan merangsang sekresi Miss V.

Ketika ovarium berhenti membuat estrogen setelah menopause, dinding Miss V menjadi tipis, dan sekresi berkurang. Perubahan serupa dapat terjadi pada wanita setelah melahirkan, tapi perubahan ini bersifat sementara dan tidak terlalu parah.

Obat atau hormon dapat digunakan sebagai bagian dari pengobatan untuk kanker payudara, endometriosis, fibroid, atau infertilitas untuk mengurangi kadar estrogen. Penurunan ini dapat menyebabkan vaginitis.

Baca juga: 5 Hal yang Perlu Diketahui Wanita Tentang Menopause

Penyebab lain termasuk perawatan ke daerah panggul, diabetes yang tidak terkontrol, kemoterapi, stres berat, depresi, dan latihan keras. Vaginitis dapat terjadi pada wanita yang lebih muda yang telah menjalani operasi untuk mengangkat indung telur mereka. Beberapa wanita mengembangkan kondisi pada saat tingkat estrogen secara alami lebih rendah, seperti saat menyusui.

Zat lain yang dapat menyebabkan iritasi lebih lanjut pada Miss V adalah sabun, deterjen, lotion, parfum, ataupun douche. Merokok, tampon, infeksi jamur, dan kondom juga dapat memicu atau memperburuk kekeringan pada Miss V.

Penanganan Vaginitis

Temui dokter segera jika hubungan seksual menyakitkan, bahkan dengan pelumasan. Kamu  juga harus mengunjungi dokter jika a mengalami pendarahan, keputihan, terbakar, ataupun nyeri Miss V yang tidak biasa.

Beberapa wanita merasa malu untuk berbicara dengan dokter mereka tentang masalah intim ini. Jika mengalami gejala-gejala ini, penting untuk mencari saran dari dokter untuk membantu menghindari kemungkinan komplikasi yang disebutkan di atas.

Dokter akan menanyakan pertanyaan tentang riwayat kesehatan. Mereka ingin tahu sudah berapa lama kamu berhenti mengalami menstruasi dan apakah pernah mengidap kanker. Dokter mungkin bertanya apa, jika ada, produk komersial atau bebas yang digunakan. Beberapa parfum, sabun, produk mandi, deodoran, pelumas, dan spermisida dapat memperburuk organ seksual yang sensitif.

Baca juga: Sudah Menopause, Apakah Wanita Bisa Hamil?

Besar kemungkinan kamu akan direkomendasikan ke dokter kandungan untuk menjalani tes dan pemeriksaan fisik. Selama pemeriksaan panggul, mereka akan meraba atau merasakan dan organ panggul. Dokter juga akan memeriksa alat kelamin luar untuk melihat tanda-tanda fisik vaginitis, seperti:

  1. Lapisan Miss V pucat, halus, mengkilap

  2. Kehilangan elastisitas

  3. Rambut kemaluan jarang

  4. Genitalia eksternal yang halus dan tipis

  5. Peregangan jaringan pendukung uterus

  6. Prolaps organ panggul (tonjolan di dinding Miss V)

Beberapa pemeriksaan lanjutan Beberapa Dokter mungkin memesan tes berikut:

  1. Pemeriksaan panggul

  2. Papsmear

  3. Uji keasaman Miss V

  4. Tes darah

  5. Tes urine

Selain minum obat, kamu dapat melakukan perubahan gaya hidup tertentu juga. Mengenakan celana dalam katun dan pakaian longgar bisa meningkatkan gejala. Pakaian katun yang longgar meningkatkan sirkulasi udara di sekitar alat kelamin, sehingga menjadikannya lingkungan yang kurang ideal bagi bakteri untuk tumbuh.

Seorang wanita dengan vaginitis dapat mengalami rasa sakit selama hubungan intim. Namun, tetap aktif secara seksual meningkatkan sirkulasi darah di Miss V dan merangsang kelembapan alami.

Aktivitas seksual tidak berpengaruh pada kadar estrogen. Tapi dengan meningkatkan sirkulasi darah, itu membuat organ intim lebih sehat lebih lama. Memberikan durasi yang cukup saat rangsangan dapat membuat hubungan intim menjadi lebih nyaman.

Baca juga: Ini Pengobatan yang Bisa Dilakukan untuk Mengatasi Vaginosis Bakterialis

Minyak vitamin E juga dapat digunakan sebagai pelumas. Ada juga beberapa bukti bahwa vitamin D meningkatkan kelembapan di Miss V. Vitamin D juga membantu tubuh menyerap kalsium. Ini membantu memperlambat atau mencegah kehilangan tulang pasca menopause, terutama jika dikombinasikan dengan olahraga teratur.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak mengenai menopause sebabkan vaginitis, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Talk to A Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.