Kenali Alergi Susu yang Rentan Terjadi pada Anak

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Kenali Alergi Susu yang Rentan Terjadi pada Anak

Halodoc, Jakarta –     Alergi susu sama dengan alergi jenis lainnya, terjadi akibat respons abnormal dari sistem kekebalan tubuh setelah mengonsumsi makanan atau minuman tertentu. Hal yang membedakan adalah jenis pemicu alergi sebab pada alergi susu, pengidap mengalami gejala alergi setelah mengonsumsi susu atau produk olahan susu lainnya. Kebanyakan kasus alergi susu terjadi pada anak - anak, sebelum usia 16 tahun dengan gejala dan intensitas kemunculan yang bervariasi.

Kenali Gejala Alergi Susu

Gejala alergi susu dapat muncul dalam hitungan menit, jam, hingga hari. Tingkat keparahan beragam, tergantung pada jumlah susu yang dikonsumsi dan kondisi kesehatan pengidapnya. Namun secara umum, alergi susu ditandai ruam kemerahan dan bengkak di area mulut (termasuk bibir dan lidah), muntah, batuk, sesak napas, mengi (bunyi melengking saat bernapas), dan diare. Gejala lain yang muncul beberapa hari setelah mengonsumsi susu dan produk olahannya adalah mata berair, pilek, eksim, kram perut, dan kolik.

Baca Juga: Yang Terjadi pada Si Kecil Ketika Alergi Susu

Pada kasus yang parah, alergi susu menyebabkan syok anafilaktik yang meningkatkan risiko kematian. Syok anafilaktik membuat saluran napas menyempit dan menghambat pernapasan, sehingga perlu mendapatkan penanganan medis. Gejalanya berupa wajah memerah, gatal di seluruh tubuh, sesak napas, dan turunnya tekanan darah secara drastis. Alergi susu umumnya disebabkan oleh gangguan sistem imun karena menganggap kandungan protein zat berbahaya.

Jangan Anggap Sepele Alergi Susu

Alergi susu didiagnosis melalui pemeriksaan fisik. Antara lain dengan menanyakan gejala dan riwayat makanan yang dikonsumsi sebelum gejala alergi muncul. Pemeriksaan penunjang berupa tes darah dan tes kulit. Tes darah berfungsi mengukur jumlah antibodi immunoglobulin E (IgE) yang dihasilkan tubuh, sedangkan tes kulit untuk membantu diagnosis alergi susu.

Setelah diagnosis ditetapkan, alergi susu diobati dengan menghindari asupan yang mengandung protein susu dan mengonsumsi obat antihistamin. Obat ini berfungsi meredakan gejala dan mengurangi ketidaknyamanan saat reaksi alergi muncul. Apabila alergi susu terjadi pada anak, ibu bisa mengatasinya dengan pemberian ASI, susu kacang kedelai, dan susu yang mengandung zat hipoalergenik. Pada kasus yang parah (syok anafilaktik), alergi susu diatasi dengan pemberian suntikan adrenalin (epinefrin).

Cegah Alergi Susu dengan Cara Ini

Pencegahan terbaik adalah menghindari susu dan produk olahannya. Baca label produk dengan teliti sebelum membeli, mengonsumsi, dan menggunakan makanan atau minuman tertentu. Beberapa produk yang mengandung protein susu antara lain susu sapi asli, mentega, yoghurt, puding, es krim, keju, cokelat, karamel, dan suplemen whey.

Saat makan di luar rumah, kamu dianjurkan bertanya pada pelayan mengenai bahan dan detail pengolahan makanan sebelum memesan atau mengonsumsinya. Cara mengantisipasi terjadinya syok anafilaktik akibat alergi susu adalah membawa suntikan adrenalin. Syok anafilaktik membuat saluran pernapasan menyempit, menyebabkan sulit bernapas dan meningkatkan risiko kematian. Komplikasi yang rentan terjadi pada pengidap alergi susu adalah rinitis alergi dan alergi makanan (seperti telur, kacang - kacangan, kedelai, dan daging hewan).

Baca Juga: Alergi Susu Bisakah Disembuhkan?

Kalau kamu mengalami gejala alergi susu, tanya dokter Halodoc tentang cara penanganan yang tepat. Kamu dapat menggunakan aplikasi Halodoc untuk berbicara pada dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!