• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Amankah Pemeriksaan Kolposkopi untuk Ibu Hamil?

Amankah Pemeriksaan Kolposkopi untuk Ibu Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Amankah Pemeriksaan Kolposkopi untuk Ibu Hamil?

Bila ibu hamil diketahui memiliki sel-sel abnormal pada serviks, maka kolposkopi perlu dilakukan. Jangan khawatir, kolposkopi adalah pemeriksaan yang tergolong aman dilakukan saat hamil. Meski begitu, ada sejumlah persiapan yang perlu ibu lakukan agar prosedur pemeriksaan bisa berjalan dengan baik.

Halodoc, Jakarta - Jika kamu masih asing dengan istilah pemeriksaan kolposkopi, pemeriksaan ini dilakukan dengan tujuan mendeteksi adanya sel abnormal pada area vagina, vulva, atau serviks (leher rahim). Biasanya, pemeriksaan tersebut dilakukan, bila hasil test pap smear menunjukkan adanya perubahan pada sel-sel di leher rahim.

Nah, dengan melakukan kolposkopi, penyakit seperti kanker serviks bisa dideteksi, sehingga bisa diobati sedini mungkin. Lantas, bagaimana bila ibu hamil mengalami gejala-gejala masalah serviks? Apakah aman melakukan prosedur pemeriksaan kolposkopi selama masa kehamilan? Berikut ulasannya.

Baca juga: Kolposkopi dan Biopsi Serviks, Apa Bedanya?

Pemeriksaan Kolposkopi Aman untuk Ibu Hamil

Pemeriksaan kolposkopi aman untuk dilakukan selama masa kehamilan. Meski begitu, pemeriksaan ini juga dapat memicu timbulnya pendarahan. Apalagi jika dilakukan pengambilan sampel jaringan pada serviks (biopsi). Itulah mengapa biopsi dan perawatan apa pun biasanya akan ditunda hingga beberapa bulan setelah melahirkan.

Pastikan ibu memberitahu dokter atau petugas medis bahwa ibu sedang hamil sebelum melakukan kolposkopi. Biasanya, dokter akan mengatur kembali jadwal tes menjadi sekitar 3 bulan setelah bayi lahir. Namun, bila sebelumnya, ibu memiliki sel abnormal di leher rahim, ibu mungkin perlu diskrining saat hamil.

Persiapan Sebelum Kolposkopi

Sebelum melakukan pemeriksaan, ibu hamil akan diminta untuk melakukan pemeriksaan urine atau tes darah terlebih dahulu. Selain itu, berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan pemeriksaan kolposkopi:

  • Minta dokter untuk menjelaskan prosedur yang akan dilakukan secara detail. Pemeriksaan kolposkopi merupakan prosedur khusus, karena tidak semua orang pernah menjalaninya. Untuk itu, segala informasi dan pengetahuan perlu diketahui peserta sebelum melakukannya.
  • Disarankan untuk tidak melakukan hubungan seksual selama 1–2 hari sebelum melakukan pemeriksaan kolposkopi. Bagi wanita yang suka membersihkan vagina dengan cairan khusus, hentikan dulu untuk sementara, ya.
  • Apabila kamu memiliki sejumlah riwayat alergi, sedang menjalani pengobatan tertentu, serta penah atau sedang menjalani pengobatan pada vagina, pelvis, atau serviks, katakan pada dokter.
  • Kosongkan terlebih dulu isi kandung kemih sebelum melakukan pemeriksaan kolposkopi.
  • Bawalah pembalut, karena ibu mungkin akan mengalami sedikit perdarahan atau keluarnya cairan setelah pemeriksaan.
  • Dokter biasanya juga akan menyarankan ibu untuk minum obat pereda nyeri yang dijual bebas sebelum melakukan kolposkopi. Ibu bisa membeli obat tersebut melalui aplikasi Halodoc.

Baca juga: Ini Kondisi Kesehatan yang Memerlukan Kolposkopi

Bagaimana Proses Pemeriksaan Kolposkopi Dilakukan?

Meski hanya membutuhkan waktu selama 15 menit, tetapi pemeriksaan ini kerap membuat beberapa orang cemas dan panik sebelum melakukannya. Pemeriksaan kolposkopi akan membuat wanita merasa tidak nyaman ketika spekulum kolposkopi dimasukkan ke dalam vagina. Ketika proses ini terjadi, ada sedikit rasa kram ketika dokter mengambil sampel jaringan dalam serviks.

Anestesi akan diperlukan, jika pengambilan jaringan dilakukan pada bagian vulva atau bagian paling luar vagina. Pasalnya, proses tersebut akan membuat sedikit rasa nyeri. Sedangkan jika pengambilan jaringan dilakukan pada bagian leher rahim, ibu hanya akan merasa kurang nyaman, tetapi tidak terasa sakit. Ini proses yang akan ibu alami saat pemeriksaan kolposkopi:

  • Melepas bagian bawah pakaian dan pakaian dalam untuk memudahkan pemeriksaan.
  • ibu akan diminta berbaring di kursi khusus, dengan kedua tungkai kaki dalam posisi terbuka dan diletakkan pada penopang.
  • Alat spekulum dimasukkan ke dalam vagina yang sudah diberi lubrikasi atau pelumas. Alat ini akan membuat dinding vagina terbuka, sehingga dokter dapat melihat bagian dalam hingga ke serviks.
  • Kemudian dokter akan mengambil foto atau video dari bagian tersebut.
  • Jika ada permukaan jaringan yang tampak tidak normal, biopsi akan dilakukan.

Baca juga: Ketahui Risiko Kanker Serviks pada Masa Kehamilan

Jika biopsi tidak dilakukan, peserta dapat melakukan aktivitas seperti biasanya. Peserta bisa saja mengeluarkan bercak darah, tetapi sangat sedikit. Jika biopsi dilakukan, peserta akan mengalami rasa nyeri, paling lama sekitar dua hari. Kemungkinan juga akan ada bercak darah selama beberapa hari lamanya.

Bila hasil kolposkopi menunjukkan adanya jaringan abnormal di leher rahim ibu, dokter mungkin perlu melakukan biopsi serviks untuk mendiagnosis jaringan abnormal tersebut. Namun, prosedur tersebut akan dilakukan sekitar 3–6 bulan setelah melahirkan. Hal itu bertujuan untuk memeriksa sel-sel abnormal. Penting bagi ibu untuk melakukan pemeriksaan sesuai jadwal setelah melahirkan agar masalah apa pun yang terjadi di dalam serviks bisa diatasi segera. 

Itulah penjelasan mengenai pemeriksaan kolposkopi untuk ibu hamil. Jangan lupa download aplikasi Halodoc sekarang juga ya untuk memudahkan ibu mendapatkan solusi kesehatan terlengkap.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2021. Cervical Biopsy.
WebMD. Diakses pada 2021. What’s a Colposcopy?
National Health Service. Diakses pada 2021. Colposcopy.
HSE. Diakses pada 2021. When you should have cervical screening