Anak Alergi Telur, Ibu Harus Apa?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Anak Alergi Telur, Ibu Harus Apa?

Halodoc, Jakarta - Selama masa pertumbuhan, protein adalah nutrisi pendukung yang diperlukan untuk tubuh. Protein bisa ditemukan dari berbagai jenis makanan seperti susu, daging, ikan, dan telur. Sebagai bahan makanan yang tergolong memiliki harga yang terjangkau dan tidak merepotkan dalam pengolahannya, telur adalah sumber protein yang banyak dipilih.

Namun, bagaimana jadinya jika anak alergi terhadap telur? Bukannya protein yang didapatkan, anak malah jadi menanggung efek negatif akibat alergi telur.

Seorang anak mengalami alergi telur karena sistem kekebalan mereka masih belum berkembang sepenuhnya. Akibatnya, tubuh menganggap protein sebagai zat berbahaya. Tubuh menggunakan antibodi untuk melawan protein telur, sehingga kemudian anak merasakan gejala seperti tidak enak badan dan diikuti dengan munculnya ruam setelah konsumsi telur atau makanan yang mengandung telur.

Gejala tersebut bisa muncul sesaat atau beberapa jam setelah mengkonsumsi telur. Tidak hanya itu, dalam kasus yang sudah mulai gawat, anak alergi telur merasakan gejala lain seperti sakit perut, diare, mual, muntah, gatal di sekitar mulut, hidung berair, mengi, kesulitan bernapas, denyut jantung cepat, tekanan darah rendah, atau masalah jantung lain. Jika sudah begini, anak harus mendapatkan perawatan medis untuk memulihkan kondisinya.

Baca Juga: Kenapa Orang Bisa Terkena Alergi Telur?

Hal yang Wajib Dilakukan saat Anak Alergi Telur

Terkesan sederhana, tapi yang harus ibu lakukan saat mengetahui anak alergi telur adalah menjauhkan telur dalam makanan yang anak makan. Sebetulnya hal ini tidak mudah sehingga anak perlu bantuan orangtua atau orang dewasa lainnya untuk mencari tahu apakah makanan tersebut aman dikonsumsi atau tidak.

Anak-anak yang alergi telur sebenarnya tidak diperbolehkan mengkonsumsi telur tiruan karena mengandung putih telur. Nah, berikut ini berbagai bentuk telur yang tercantum pada label makanan:

  • Telur kering.

  • Putih telur.

  • Padatan putih telur.

  • Kuning telur.

  • Padatan telur.

  • Telur bubuk.

  • Telur utuh.

Selain itu, jika anak memiliki alergi telur, maka ibu wajib membuat daftar bahan-bahan telur di atas dalam ukuran yang cukup kecil sehingga mudah dibawa sebagai pengingat. Catatan ini dapat ditaruh dalam saku dan tas milik anak dan alangkah lebih baik lagi jika orangtua juga memiliki daftar yang sama. Namun ketika berada di sebuah restoran atau rumah teman, mungkin anak merasa kesulitan mengecek label makanan. Hal terbaik yang dapat dilakukan adalah bertanya sebelum menyantap makanan apapun.

Anak-anak yang memiliki alergi telur harus mengantisipasi kejadian yang tidak terduga, jika sewaktu-waktu ia konsumsi telur tanpa sengaja.

Diskusikan dengan dokter dan perawat sekolah untuk mengantisipasi kejadian tersebut. Anak dapat diberikan obat yang harus selalu dibawa, seperti antihistamin, atau pada kasus yang berat, epinefrin.

Hal yang perlu diingat saat anak alergi telur adalah wajib memenuhi asupan proteinnya dari sumber lain seperti daging merah, unggas, ikan, dan kacang-kacangan. Olah sumber protein tersebut sesuai kreasi agar anak tidak bosan memakannya.

Baca Juga: Inilah Bahaya dari Komplikasi Alergi Telur

Apabila Si Kecil mengalami alergi telur atau makanan lainnya, Ibu bisa kok bertanya langsung kepada dokter ahli untuk mendapatkan saran dan penanganan yang tepat. Caranya mudah, hanya dengan melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!