• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Anak dari Bayi Tabung Lebih Rentan Alami Obesitas, Benarkah?

Anak dari Bayi Tabung Lebih Rentan Alami Obesitas, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Tidak sedikit pasangan suami-istri yang sangat menginginkan keturunan, tetapi masih belum dikabulkan setelah perjuangan bertahun-tahun. Padahal, berbagai hal sudah dilakukan, seperti mengonsumsi makanan yang sehat, rutin berolahraga, hingga lebih sering melakukan hubungan intim. Namun, terdapat satu program yang dapat dilakukan agar kemungkinannya lebih besar.

Salah satu hal yang dapat dilakukan agar mampu mendapatkan keturunan adalah dengan program bayi tabung. Namun, rumor mengatakan jika anak yang berasal dari hasil bayi tabung lebih berisiko mengalami obesitas. Benarkah demikian? Berikut pembahasan terkait risiko dari bayi tabung!

Baca juga: Ini Serba-serbi Bayi Tabung yang Perlu Diketahui

Obesitas Salah Satu Risiko dari Anak Hasil Bayi Tabung

Bayi tabung adalah proses kehamilan yang dilakukan dengan cara pembuahan sel telur oleh sperma di luar tubuh. Metode ini akan menggunakan sebuah tabung di dalam laboratorium yang akan menggantikan tubuh seorang wanita untuk sementara. Saat sel telur sudah mendapat pembuahan dan berkembang menjadi embrio, asal mula janin tersebut akan dimasukkan kembali ke rahim.

Saat embrio dimasukkan ke dalam rahim calon ibu, proses kehamilan bisa saja gagal. Semua hal tersebut dapat tergantung beberapa faktor, salah satunya adalah usia. Maka dari itu, penting untuk melakukan beberapa pemeriksaan terkait kesehatan tubuh agar proses bayi tabung dapat berhasil, seperti sel telur, sperma, hingga rahim.

Sekalipun sudah berhasil, terdapat beberapa risiko yang dapat terjadi pada anak yang lahir dari proses bayi tabung. Salah satu yang umum untuk diidap oleh anak tersebut adalah berat badan lahir rendah dan akhirnya menyebabkan obesitas. BBLR adalah gangguan yang terjadi saat kandungan kekurangan asupan nutrisi, sehingga berat badan saat lahir di bawah angka yang umum.

Gangguan yang terjadi saat bayi lahir tersebut dapat menyebabkan perubahan sistem metabolisme pada tubuh. Sehingga, tubuh bayi akan selalu mencoba agar cadangan makanan tetap terjaga karena kebiasaan yang terjadi di kandungan. Hal tersebut akan terus berlangsung hingga anak sudah besar meski asupan makanan sudah tercukupi dan akhirnya lemak dapat bertumpuk.

Maka dari itu, setiap ibu yang sedang hamil wajib memastikan asupan janin selalu tercukupi agar tidak mengalami kelainan saat lahir hingga dirinya dewasa. Dengan itu, anak ibu dapat hidup dan tumbuh dengan sehat dan normal layaknya kebanyakan orang. Penting untuk menghindari berat badan lahir rendah di awal kehamilan agar anak dari bayi tabung dapat terhindar dari obesitas.

Baca juga: Begini Proses Bayi Tabung di Laboratorium

Selain obesitas, terdapat beberapa risiko yang dapat terjadi pada anak dari hasil bayi tabung. Dengan mengetahui beberapa risiko tersebut, ibu dapat menghindarinya sejak awal agar tidak menimbulkan komplikasi berbahaya. Berikut beberapa risiko untuk anak hasil dari bayi tabung:

  1. Kehamilan Ektopik

Salah satu risiko yang dapat terjadi pada kehamilan dengan bayi tabung adalah terjadinya kehamilan di luar kandungan atau kehamilan ektopik. Gangguan ini terjadi saat embrio yang terbentuk tidak berada di dalam rahim, umumnya masuk ke tuba falopi. Gejala yang umum timbul saat hal tersebut terjadi adalah sakit perut parah, keputihan yang lebih gelap, hingga keluarnya bercak darah.

Lalu, jika ibu mempunyai pertanyaan terkait semua risiko yang dapat terjadi diakibatkan metode bayi tabung, dokter dari Halodoc dapat memberi saran secara profesional. Caranya mudah sekali, ibu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone yang digunakan!

  1. Sindrom Hiperstimulasi Ovarium

Ibu juga dapat berisiko mengalami gangguan pada ovarium yang terjadi saat menghasilkan sel telur lebih banyak dari angka normal. Kemungkinan ibu yang menjalankan bayi tabung untuk terserang gangguan ini sangat kecil. Penting untuk diketahui gejala-gejala yang dapat timbul, seperti perut kembung, diare, hingga mual dan muntah.

Baca juga: Minum Susu dari Botol Bisa Sebabkan Bayi Obesitas?

Itulah fakta mengenai kehamilan dengan bantuan bayi tabung juga dapat berisiko pada kesehatan sang ibu dan janin. Sebelum melakukan hal tersebut, ada baiknya untuk mempertimbangkan selalu terhadap risiko yang timbul. Dengan begitu, metode yang digunakan dapat mendapatkan hasil sesuai keinginan.

Referensi:
New Scientist. Diakses pada 2020. IVF babies grow up heavier and may have higher risk of obesity.
NCBI. Diakses pada 2020. Low birth weight leads to obesity, diabetes and increased leptin levels in adults: the CoLaus study.