21 November 2018

Anak juga Bisa Depresi saat Orangtua Berpisah

Anak juga Bisa Depresi saat Orangtua Berpisah

Halodoc, Jakarta – Dunia maya tengah diramaikan dengan berita yang menyebut penyanyi Gisella Anastasia (Gisel) menggugat cerai suaminya, Gading Marten (Gading). Dari sejumlah informasi yang beredar, gugatan perceraian tersebut diajukan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Gisel dan Gading adalah pasangan selebriti yang menikah pada tahun 2013 silam.

Dari pernikahan tersebut, Gisel dan Gading dikarunia seorang anak perempuan yang saat ini berusia tiga tahun. Meski masih belum diketahui alasan gugatan perceraian itu, tetapi perpisahan ternyata bisa memberi dampak psikologis. Berita buruknya, anak menjadi “korban” yang paling mungkin mengalami dampak psikologis dari perceraian orangtua.

Tak dapat dimungkiri, perceraian bisa menjadi salah satu jalan keluar dari masalah yang sulit dihadapi dalam rumah tangga. Banyak pasangan yang memutuskan untuk bercerai, dengan alasan untuk menyembuhkan luka dan menghindari hubungan menjadi semakin tidak sehat. Namun ternyata dalam perceraian, perasaan anaklah yang paling terluka dan harus dikorbankan.

Sebuah studi psikologi dari University of Virginia, menyebut bahwa perceraian bisa menimbulkan efek negatif bagi anak. Dalam jangka pendek, perceraian orangtua bisa menyebabkan anak mengalami kecemasan, kemarahan, terkejut, dan merasa tidak percaya diri. Sementara studi lainnya dari State University mengatakan, perceraian orangtua juga bisa memberi dampak terhadap prestasi akademik anak di kemudian hari.

Selain itu, ternyata ada beberapa dampak psikologis lain yang bisa terjadi pada anak yang harus menghadapi perceraian orangtuanya. Apa saja?

1. Cemas dan Depresi

Salah satu dampak yang bisa terjadi pada anak karena perceraian orangtua adalah perubahan pada kondisi mental. Anak yang harus menghadapi perceraian orangtua sering mengalami kecemasan, depresi, dan menjadi lebih mudah marah.

Tak hanya itu, setelah sebuah perceraian, biasanya anak akan menjadi lebih sulit untuk bertemu dengan salah satu orangtua. Tentu saja, hal itu akan berdampak negatif pada psikologis dan perkembangan mental anak, bahkan bisa menyebabkan hilangnya dukungan finansial dari orangtua.

2. Menjadi Sasaran Emosi

Perceraian juga bisa membuat anak menjadi sasaran emosi orangtua, terutama selama proses bercerai. Sebab, tanpa disadari orangtua mungkin akan membebankan ketidakbahagiaan pada anak. Terkadang, perubahan emosi yang terjadi pun bisa saja dilampiaskan pada anak, sehingga tanpa sadar hal itu bisa melukai perasaan Si Kecil.

3. Mudah Sakit

Selain masalah psikologis, perceraian orangtua ternyata juga berdampak pada kesehatan anak. Sebuah riset dari Universitas Carnegie Mellon menyebut bahwa anak yang memiliki orangtua bercerai cenderung lebih mudah mengalami sakit, terutama flu. Namun, hal itu ternyata tidak terlalu berpengaruh pada anak yang kedua orangtuanya masih menjalin komunikasi yang baik setelah bercerai.

4. Tidak Percaya pada Hubungan

Dalam jangka panjang, perceraian orangtua ternyata juga bisa berdampak pada cara anak memandang hidup, terutama soal pasangan. Dampak perceraian orangtua ternyata bisa memengaruhi keinginan anak untuk menikah atau cara pandangnya dalam menjalani sebuah hubungan kelak.

Anak korban perceraian cenderung tidak percaya dengan hubungan serius dan menghindari pernikahan. Pada satu titik, hal ini bisa menyebabkan anak yang sudah beranjak dewasa menjadi kesepian dan mengalami gangguan psikologis serius.

Cari tahu lebih lanjut seputar masalah psikologis yang terjadi pada anak karena perceraian orangtua dengan bertanya kepada dokter di aplikasi Halodoc. Dokter bisa dihubungi melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan tips mencegah dan mengatasi masalah psikologis anak dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play!

Baca juga: