• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mitos atau Fakta Angin Duduk Bisa Sebabkan Kematian Mendadak

Mitos atau Fakta Angin Duduk Bisa Sebabkan Kematian Mendadak

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Angina alias penyakit angin duduk sering disepelekan dan dianggap sama dengan masuk angin. Padahal, angin duduk adalah kondisi yang sama sekali tidak boleh dianggap sepele, karena bisa memicu komplikasi yang bahkan bisa berujung pada hilangnya nyawa. Angin duduk merupakan penyakit yang memicu nyeri dada yang muncul akibat adanya gangguan aliran darah ke jaringan otot jantung.

Nyeri dada akibat angin duduk sering kali mirip dengan nyeri dada akibat penyakit lainnya. Penyakit ini ditandai dengan beberapa kondisi, seperti nyeri dada seperti ditindih atau ditekan. Umumnya gejala penyakit ini akan muncul saat pengidapnya sedang beraktvitas. Pasalnya, saat tubuh beraktivitas jantung akan memompa darah dengan lebih cepat.

Baca juga: Perjalanan Jauh Naik Motor Bisa Sebabkan Angin Duduk?

Bahaya Mengabaikan Angin Duduk

Selama ini beredar berbagai mitos seputar angin duduk. Sebagian orang menganggap angin duduk sama dengan masuk angin. Namun, keduanya sebenarnya berbeda, masuk angin disebabkan oleh berkumpulnya suatu gas yang tidak merata pada tubuh, sedangkan angin duduk disebabkan oleh penyempitan arteri koroner pada jantung. Penyempitan ini mengakibatkan pasokan darah yang mengalir menuju ke otot-otot jantung menjadi berkurang, sehingga biasanya pengidap angin duduk akan merasakan rasa nyeri pada dada, seperti ditekan atau diremas.

Namun, rasa nyeri ini juga bisa menjalar ke bagian tubuh lainnya, seperti bahu, lengan, leher, ataupun punggung. Kondisi ini biasanya terjadi selama 15 menit sebelum gejalanya perlahan menghilang. Jadi, angin duduk jelas berbeda dengan masuk angin yang biasanya bisa diatasi dengan kerokan. Gejala angin duduk juga biasanya lebih parah daripada gejala masuk angin yang hanya sebatas tidak enak badan saja.

Baca juga: Masuk Angin, Penyakit atau Sugesti?

Sebenarnya angin duduk dengan gejala ringan atau menengah tidak berbahaya, sehingga bisa diatasi tanpa obat-obatan. Pengidap angin duduk yang baru mengalami gejala ringan hanya perlu mengubah kebiasaan-kebiasaan buruknya yang dapat memicu munculnya angin duduk dan menjalani pola hidup sehat. Beberapa caranya:

  • Perbanyak mengonsumsi makanan bergizi dan kaya akan serat, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.
  • Kurangi konsumsi makanan yang berlemak.
  • Batasi porsi makan agar tidak melebihi dari yang dibutuhkan tubuh.
  • Berolahraga secara rutin dan istirahat yang cukup.
  • Hindari stres atau segera atasi stres bila kamu mengalaminya.
  • Diet bila kamu mengalami obesitas.
  • Berhenti merokok atau hindari asap rokok.
  • Kurangi minum minuman keras.

Akan tetapi, bila gejala angin duduk cukup parah dan tidak bisa diatasi dengan perubahan gaya hidup, biasanya dokter akan meresepkan beberapa macam obat untuk mengatasi gejala sekaligus mencegah angin duduk kambuh lagi. Obat-obatan yang biasa digunakan untuk mengatasi angin duduk, antara lain obat-obatan nitrat, obat pencegah pembekuan darah, obat pengencer darah, nicorandil, obat penghambat beta, ivabradine, dan ranolazine.

Bila gejala angin duduk sudah semakin parah dan obat-obatan tidak lagi mempan, maka tindakan operasi perlu dilakukan. Bila tidak, angin duduk berpotensi menyebabkan serangan jantung. Nah, serangan jantung inilah yang bisa menyebabkan kematian mendadak, hanya dalam waktu 15–30 menit.

Baca juga: Ini 7 Penyakit Penyebab Dada Sakit

Jadi, jangan sepelekan penyakit angin duduk. Hindari kebiasaan-kebiasaan buruk yang bisa memicu angin duduk serta jaga kesehatan dengan menerapkan gaya hidup sehat agar kamu bisa terhindar dari penyakit ini. Bila merasakan gejala-gejala yang mirip seperti gejala angin duduk, coba bicarakan saja kepada dokter dengan menggunakan aplikasi Halodoc. Melalui Video/Voice Call dan Chat, kamu bisa minta saran kesehatan dari dokter kapan dan di mana saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Angina,
NHS UK. Diakses pada 2020. Angina,
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Coronary Artery Disease.
Healthline. Diakses pada 2020. Stable Angina.