Apakah Orang Dewasa juga Bisa Mengalami Dyspraxia?

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Apakah Orang Dewasa juga Bisa Mengalami Dyspraxia?

Halodoc, Jakarta - Kemampuan menulis, mengetik, olahraga, adalah beberapa kemampuan yang dikembangkan sejak masih kecil. Namun, pada beberapa orang, kemampuan belajar ini bisa terhambat akibat adanya masalah pada saraf otak. Akibatnya proses koordinasi gerak tubuh ikut jadi terganggu, dan berlanjut hingga dewasa. Di dalam dunia medis, kondisi ini disebut dispraksia.

Dispraksia adalah gangguan perkembangan koordinasi motorik halus dan kasar pada anak-anak. Kondisi ini tidak terjadi saat dewasa, melainkan semenjak anak lahir dan mulai proses belajar. Secara sederhana, dispraksia membuat anak kesulitan memikirkan, merencanakan, mengeksekusi, dan mengatur gerakan sehingga membuat mereka tidak mampu melakukan aktivitas fisik umum. Mulai dari berjalan, melompat, atau memegang alat tulis seperti anak-anak lainnya. 

Baca juga: Apakah Dyspraxia Memengaruhi Intelegensia Anak?

Kenali Jenis-Jenis Dyspraxia

Dyspraxia juga memiliki beberapa jenis berdasarkan jenis gerakan fisik. Beberapa jenis dyspraxia antara lain: 

  • Dispraksia Ideomotor: Kondisi saat anak mengalami kesulitan melakukan gerakan satu tahap, misalnya menyisir rambut dan melambaikan tangan.

  • Dispraksia Ideational: Anak yang mengidap dyspraxia jenis ini mengalami kesulitan untuk melakukan gerakan berurutan, seperti saat menyikat gigi atau membereskan tempat tidur.

  • Dispraksia Oromotor: Kondisi ini menyebabkan anak sulit menggerakan otot untuk berbicara dan mengucapkan kalimat. 

  • Dispraksional Constructional. Anak mengalami kesulitan untuk memahami bangun ruang atau spasial sehingga ia akan sulit memahami dan membuat gambar geometris dan menyusun balok.

Si Kecil mengalami gangguan seperti salah satu di atas? Sebaiknya segera buat janji dengan dokter anak untuk melakukan pemeriksaan. Kini kamu tidak perlu repot lagi karena buat janji dokter bisa dilakukan melalui aplikasi Halodoc. Tidak perlu antre, kamu bisa datang ke rumah sakit dan langsung melakukan pemeriksaan. 

Baca juga: Terlalu Banyak Main Gadget Bisa Bikin Anak Kena Dyspraxia

Apa Saja Gejala yang Anak Dialami Anak yang Idap Dyspraxia?

Anak yang mengidap penyakit ini mengalami beberapa gangguan, antara lain: 

  • Gangguan koordinasi, keseimbangan, dan pergerakan.

  • Sulit mempelajari teknik baru, berpikir, dan mengingat informasi saat bekerja maupun saat bersantai.

  • Kemampuan hidup dasar sehari-hari, seperti sulit berpakaian atau mengikat tali sepatu.

  • Sulit menulis, mengetik, menggambar, dan menggenggam benda kecil.

  • Situasi sosial.

  • Mengelola emosi.

  • Manajemen waktu, merencanakan, dan mengatur sesuatu.

Sementara itu, gejala-gejala lain yang mungkin tampak antara lain: 

  • Bayi membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa duduk, merangkak atau berjalan.

  • Posisi tubuh tampak tidak biasa.

  • Anak sulit bermain dengan mainan yang membutuhkan koordinasi tubuh yang baik, seperti menyusun balok.

Sementara saat sudah mulai tumbuh, beberapa gejala yang akan terlihat antara lain: 

  • Kesulitan untuk belajar makan sendiri.

  • Anak tampak canggung dan ceroboh, seperti sering menjatuhkan barang.

  • Sulit konsentrasi, mengikuti instruksi, dan memahami informasi.

  • Kesulitan dalam mengorganisir diri sendiri dan menyelesaikan tugas.

  • Sulit mempelajari kemampuan baru.

  • Memiliki masalah tingkah laku.

  • Kepercayaan diri yang rendah.

Baca juga: Adakah Cara Mencegah Dyspraxia?

Adakah Pengobatan Dyspraxia?

Sampai saat ini sayangnya belum ada obat untuk atasi dyspraxia. Tetapi terdapat beberapa terapi untuk mengurangi gangguan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, di antaranya: 

  • Terapi Okupasi. Terapi ini membantu pengidapnya untuk menemukan cara praktis untuk bisa tetap mandiri dan mengatur rutinitas setiap hari.
  • Terapi Perilaku Kognitif. Terapi ini akan membantu pengidapnya mengatur masalah dengan cara mengubah sudut pandang dan perilakunya. 

Penting untuk diketahui bahwa teknik, cara, dan pendekatan yang dilakukan berbeda-beda tiap orang. Tim medis merancang jenis terapi yang tepat. Selain itu, dukungan orang-orang terdekat juga penting untuk membantu pengidapnya mengatur kondisi yang ia alami agar bisa hidup dengan normal. Pada beberapa kasus, anak-anak pengidap dyspraxia juga memiliki kelainan lain seperti ADHD, disleksia, dan autisme. Kelainan ini perlu ditangani secara terpisah. 

Referensi:
NHS Choices UK. Diakses pada 2019. Dyspraxia.
Web MD. Diakses pada 2019. Dyspraxia.