15 April 2019

Dua Tahun Berlalu, Ariana Grande Alami PTSD Pasca Bom Bunuh Diri

Dua Tahun Berlalu, Ariana Grande Alami PTSD Pasca Bom Bunuh Diri

Halodoc, Jakarta - Meski telah berlalu selama dua tahun, tapi peristiwa bom bunuh diri di kota Manchester, Inggris, masih menyisakan trauma bagi banyak orang hingga kini. Salah satunya Ariana Grande, penyanyi asal Amerika Serikat yang tampil dalam sebuah konser di Manchester, tepat di hari peristiwa nahas tersebut. Bom bunuh diri tersebut setidaknya menewaskan 22 orang dan menyebabkan puluhan orang mengalami luka-luka.

Baru-baru ini penyanyi yang melantunkan lagu thank u, next itu membagikan hasil scan otaknya melalui akun Instagram miliknya. Gambar itu menunjukkan post traumatic stress disorder (PTSD) yang idapnya akibat trauma yang dilalui pada 22 Mei 2017 silam.

Menurut seorang profesor kesehatan jiwa di University of Texas, Charles B Nemeroff, PTSD merupakan gangguan yang timbul setelah menyaksikan atau terlibat dalam kejadian traumatis. Dalam banyak studi, terdapat perubahan pada otak pasien PTSD.

Pertanyaannya, apa sih dampak PTSD bagi tubuh dan cara mengatasinya? Nah, berikut ulasan lebih jauh mengenai PTSD yang dialami oleh Ariana Grande

Baca juga: Orang Bisa Kena PTSD Tanpa Disadari

Dari Goncangan hingga Bunuh Diri

Gangguan psikis ini bisa menimbulkan banyak masalah baru bagi pengidapnya. Masalah yang paling penting dari PTSD ini adalah suatu goncangan yang menyangkut isi pikirannya. Enggak cuma itu, trauma ini juga bisa menyebabkan terpecahnya konsentrasi, minat, daya pikir mengalami kemunduran, hingga mengalami emosi yang galau yang tak bisa dimengerti oleh orang lain.

Yang bikin resah lagi, PTSD juga bisa memicu komplikasi lanjutan, seperti fobia, kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial, bahkan bisa memicu keinginan untuk bunuh diri.

Di dunia hiburan, masalah PTSD enggak cuma dialami Ariana Grande. Sebut saja Lady Gaga, karena kekerasan seksual yang dialaminya saat remaja, Mick Jagger akibat kekasihnya bunuh diri, hingga Keanu Reeves, karena kematian anaknya dan kecelakaan yang menewaskan kekasihnya.

Bukan Penyebab Tunggal

Meski bisa terjadi pada siapa saja, tapi PTSD lebih banyak memengaruhi wanita ketimbang pria. Kok bisa? Alasannya simpel, sebab wanita lebih sensitif terhadap perubahan daripada pria. Alhasil, kaum hawa akan mengalami emosi yang lebih intens. Yang perlu diingat, kondisi ini bisa menyerang semua golongan usia, bahkan anak-anak.

Baca juga: Bencana Alam Bisa Timbulkan Gangguan Jiwa

Sebenarnya, penyebab PTSD belum bisa dipastikan secara jelas. Namun, para ahli menduga bawa fakta yang seseorang alami, lihat, ancaman kematian, luka parah, pelecehan atau kekerasan seksual, atau pelajari tentang suatu kejadian yang melibatkan kematian dapat menyebabkan PTSD. Nah, berikut beberapa faktor yang bisa memicu post traumatic stress disorder.

  • Mengalami trauma jangka panjang.

  • Memiliki anggota keluarga yang mengidap PTSD atau gangguan mental lain.

  • Pernah mengalami peristiwa trauma lain, contohnya penyiksaan saat masa kecil.

  • Mengidap gangguan mental lain, seperti meningkatnya risiko kecemasan dan depresi.

  • Mewarisi aspek kepribadian atau temperamen tertentu.

  • Profesi yang menimbulkan potensi seseorang untuk mengalami kejadian traumatis. Misalnya, tim SAR atau tentara.

  • Kurangnya dukungan dari keluarga dan teman.

Meski bisa terjadi pada siapa saja, PTSD lebih banyak memengaruhi wanita ketimbang pria. Kok bisa? Alasannya simpel, sebab wanita lebih sensitif terhadap perubahan daripada pria. Alhasil, kaum hawa akan mengalami emosi yang lebih intens. Yang perlu diingat, kondisi ini bisa menyerang semua golongan usia, bahkan anak-anak.

Omong-omong soal PTSD, apa sih penyebab yang di balik gangguan mental ini?

Penyebab PTSD

Sebenarnya, penyebab PTSD belum bisa dipastikan secara jelas. Namun, para ahli menduga bawa fakta yang seseorang alami, lihat, ancaman kematian, luka parah, pelecehan atau kekerasan seksual, atau pelajari tentang suatu kejadian yang melibatkan kematian, dapat menyebabkan PTSD. Nah, berikut beberapa faktor yang bisa memicu post traumatic stress disorder.

  • Mengalami trauma jangka panjang.

  • Memiliki anggota keluarga yang mengidap PTSD atau gangguan mental lain.

  • Pernah mengalami peristiwa trauma lain, contohnya penyiksaan saat masa kecil.

  • Mengidap gangguan mental lain, seperti meningkatnya risiko kecemasan dan depresi.

  • Mewarisi aspek kepribadian atau temperamen tertentu.

  • Profesi yang menimbulkan potensi seseorang untuk mengalami kejadian traumatis. Misalnya, tim SAR atau tentara.

  • Kurangnya dukungan dari keluarga dan teman.

Gejala yang Berbeda-beda Pada Pengidapnya

Aktivitas sehari-hari seseorang yang mengidap PTSD bisa jadi akan terganggu, karena gangguan mental ini. Terutama dalam hubungan dengan orang lain serta lingkungan kerja. Yang perlu digarisbawahi, gejala PTSD ini bisa muncul berbeda-beda pada setiap orang. Misalnya, ada yang akan mengalaminya segera setelah kejadian, ada pula yang muncul setelah beberapa bulan atau bahkan tahun kemudian. Nah, berikut beberapa gejalanya:

  • Pola pikir menjadi negatif. Pengidap PTSD cenderung berperasaan negatif terhadap diri sendiri atau orang lain. Di samping itu, mereka juga akan merasa terasing.

  • Ingatan yang mengganggu, contohnya selalu mengingat detail mengerikan dari kejadian tragis. Selain itu, pengidapnya mungkin saja sering mengalami mimpi buruk tentang kejadian tersebut.

  • Cenderung mengelak membicarakan atau memikirkan kejadian traumatis. Contohnya, menghindari orang, tempat, atau kegiatan yang memicu ingatan untuk kejadian traumatis.

  • Pengidapnya bisa mengalami emosi yang lebih intens dari sebelumnya. Dengan kata lain, mereka mungkin lebih mudah marah, depresi, atau mood yang berubah dengan cepat. Selain itu, mereka juga akan sulit berkonsentrasi, merasa selalu waspada, mudah terkejut dan takut, hingga kesulitan untuk tidur.

  • PTSD juga bisa membuat seseorang merasa putus asa untuk menghadapi masa depan. Tak hanya itu, pengidapnya juga mungkin memiliki masalah ingatan, termasuk mengingat aspek penting dari kejadian traumatis. Dalam beberapa kasus, mereka juga sulit membina hubungan yang dekat dengan orang lain.

Baca juga: Orang di Bidang Militer Lebih Rentan Terhadap PTSD

Atasi dengan Terapi dan Obat-Obatan

Yang perlu digarisbawahi, kesembuhan pengidap PTSD ini enggak bisa ditentukan secara eksak. Pasalnya, setiap orang mempunya suatu emosi yang jika keadaan traumatik itu muncul lagi, maka bisa saja memicu PTSD ini kembali.

Namun, bila gangguan PTSD ini diatasi dengan baik, maka pengidapnya bisa menghadapi situasi ini dengan baik pula. Bahkan, bisa melupakan stres pasca trauma mereka secara perlahan-lahan. Nah, berikut beberapa cara yang biasanya dilakukan oleh dokter untuk mengatasi PTSD.

1. Psikoterapi

  • Terapi kognitif. Membantu pengidap untuk mengenali cara pikir (pola kognitif) yang menyebabkan terhambatnya pengidap dalam proses melalui peristiwa traumatis tersebut.

  • Terapi paparan. Terapi ini membantu pengidap untuk menghadapi situasi dan memori yang dianggap menakutkan, sehingga pengidap dapat menghadapinya dengan efektif. Terapi ini efisien terutama pada kasus dimana pengidap mengalami kilas balik atau mimpi buruk.

  • Eye movement desensitization and reprocessing (EMDR).

EMDR menggabungkan terapi paparan dan sebuah serial pergerakkan mata terarah untuk membantu pengidap memproses sebuah peristiwa traumatis dan dokter akan mengamati reaksi pengidap.

2. Obat-Obatan

  • Antidepresan. Obat ini membantu meringankan gejala depresi, cemas, gangguan tidur, dan gangguan konsentrasi.

  • Antikecemasan. Obat ini membantu meredakan gangguan cemas yang berat.

  • Prazosin. Efektivitas prazosin dalam meringankan gejala dan menekan terjadinya mimpi buruk masih dalam perdebatan.

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung ke dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!