• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 13 Gejala yang Terlihat saat Anak Mengalami Gigantisme

13 Gejala yang Terlihat saat Anak Mengalami Gigantisme

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Gigantisme adalah gangguan tumbuh kembang yang menyerang pada. Kondisi ini menyebabkan tubuh Si Kecil tumbuh dan terlihat jauh lebih besar dibanding anak-anak seusianya. Hal itu terjadi karena tubuh anak memperoduksi hormon pertumbuhan secara berlebihan, sehingga pertumbuhan yang terjadi juga berlebihan. 

Ada beberapa gejala atau ciri-ciri yang bisa dilihat pada anak dengan gigantisme, salah satunya memiliki ukuran badan yang lebih besar atau tinggi. Pasalnya, penyakit ini bisa berdampak pada ukuran tinggi dan berat badan anak. Kelebihan hormon pertumbuhan membuat tubuh Si Kecil tumbuh melebihi ukuran normal. Lantas, apa lagi gejala yang bisa terlihat saat anak mengalami gigantisme? 

Baca juga: Bukan Penyakit Biasa, Inilah Penyebab Gigantisme

Mengenali Gingatisme pada Anak 

Gigantisme sebenarnya tergolong langka atau jarang ditemukan. Gangguan ini biasanya terjadi sebelum lempeng epifisis atau lempeng pertumbuhan dalam tulang menutup. Anak dengan gangguan ini cenderung memiliki ukuran tinggi dan berat badan di atas rata-rata. Sangat disayangkan, gigantisme sering tidak dikenali gejalanya dan dianggap sebagai proses pertumbuhan yang wajar pada Si Kecil. 

Meski awalnya sering tidak terdeteksi, seiring berjalannya waktu gangguan pada pertumbuhan anak atau gigantisme akan semakin terlihat dan mulai menunjukkan gejala. Tingkat keparahan gejala yang dialami bisa berbeda-beda. Gejala yang paling mudah dikenali dari gangguan ini adalah ukuran fisik yang lebih besar dibanding anak-anak lain. Ada beberapa gejala gigantisme pada anak, di antaranya: 

  1. Anak memilliki tinggi badan dan berat badan di atas rata-rata. 
  2. Ukuran tangan dan kaki yang sangat besar dan tebal, tidak seperti anak kecil pada umumnya.
  3. Memiliki ukuran dahi dan dagu yang lebih lebar dari ukuran normal.
  4. Bentuk wajah yang kasar.
  5. Sering mengalami atau mengeluhkan sakit kepala. 
  6. Mengalami gangguan tidur.
  7. Umumnya anak dengan gigantisme terlambat memasuki masa pubertas. 
  8. Pada anak perempuan, gigantisme bisa menyebabkan keluarnya air susu ibu (ASI) sebelum waktunya.
  9. Memiliki siklus menstruasi yang berantakan atau tidak teratur.
  10. Mudah merasa lelah.
  11. Mengeluhkan masalah pada penglihatan. 
  12.  Mengalami hiperhidrosis atau sering mengeluarkan keringat berlebih.
  13. Ada gangguan pada pertumbuhan gigi, ditandai dengan terdapat celah di antaran gigi anak. 

Baca juga: Tanpa Sadar, Inilah Gejala Gigantisme yang Jangan Diabaikan

Penyakit ini tidak boleh disepelekan begitu saja. Gigantisme pada anak perlu mendapat penanganan medis yang cepat dan tepat. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengobati penyakit ini, mulai dari konsumsi obat-obatan, operasi, hingga terapi radiasi. Ada beberapa komplikasi atau efek samping yang bisa muncul, biasanya terjadi akibat prosedur operasi. 

Gigantisme bisa memicu komplikasi berupa menurunnya hormon kelenjar hipofisis dan bisa memicu berbagai penyakit, mulai dari hipogonadisme, hipotiroidisme, kekurangan hormon adrenal, hingga diabetes insipidus. Meski begitu, pengobatan yang tepat sangat perlu dilakukan untuk membantu tumbuh kembang Si Kecil. 

Baca juga: Perbedaan Antara Gigantisme dan Akromegali

Masih penasaran dan butuh informasi lebih lanjut seputar gangguan tumbuh kembang ini? Cari tahu lebih lanjut seputar gigantisme pada anak dengan bertanya ke dokter di aplikasi Halodoc. Dokter bisa dihubungi melalui Video/Voice Call atau Chat. Dapatkan tips menjaga kesehatan dan rekomendasi beli obat dari dokter terpercaya. Yuk, download sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
National Institute of Health. Diakses pada 2020. Gigantism.
Healthline. Diakses pada 2020. Gigantism.
WebMD. Diakses pada 2020. What is Gigantism?