29 October 2018

Tanpa Sadar, Inilah Gejala Gigantisme yang Jangan Diabaikan

Gigantisme, pertumbuhan tidak wajar, gejala gigantisme, hormon pertumbuhan

Halodoc, Jakarta - Pernahkah kamu menemukan seseorang yang bertubuh sangat besar seperti raksasa? Kondisi orang tersebut dinamakan gigantisme dan akromegali, yaitu penyakit langka yang menyebabkan pertumbuhan menjadi tidak normal. Penyakit tersebut menyebabkan seseorang bertumbuh sangat besar seperti raksasa.

Gigantisme terjadi karena adanya kelenjar utama pengatur fungsi hormon, yaitu kelenjar pituitari. Kelenjar tersebut berukuran sebesar kacang polong dan berada di bawah otak manusia. Kelenjar ini menghasilkan hormon yang mengendalikan banyak fungsi di tubuh, seperti metabolisme, produksi urine, mengatur suhu tubuh, perkembangan seksual, dan pertumbuhan.

Penyakit gigantisme terjadi pada kelenjar tersebut, sehingga produksi hormon menjadi lebih banyak daripada yang seharusnya dibutuhkan oleh tubuh. Saat hormon tersebut berlebih, akan memicu pertumbuhan tulang, otot, dan organ bagian dalam. Oleh karena itu, orang yang mengalami kondisi ini memiliki ukuran tubuh yang lebih besar daripada ukuran tubuh normal.

Gejala yang Muncul

Gejala gigantisme dan akromegali  yang sering terjadi pada anak-anak munculnya sangat cepat. Ini menyebabkan tulang kaki dan lengan menjadi sangat panjang. Anak yang mengalami kondisi ini mengalami keterlambatan pubertas, karena pertumbuhan alat kelamin mereka yang tidak berkembang sepenuhnya.

Seseorang yang mengalami gigantisme, jika tidak diobati memiliki angka harapan hidup kecil daripada anak pada umumnya. Sebab, kelebihan hormon dapat menyebabkan pembesaran pada organ vital, misalnya jantung. Ini dapat mengakibatkan jantung tidak berfungsi dengan baik dan akhirnya terjadi gagal jantung.

Sementara itu, gejala akromegali sulit dideteksi karena perkembangannya lebih lambat seiring berjalannya waktu. Gejalanya tidak berbeda jauh dengan gigantisme, seperti merasa sakit kepala karena adanya tekanan berlebih pada kepala, rambut tumbuh lebih lebat, atau keringat berlebih.

Berbeda dengan gigantisme, pada akromegali tulang tidak akan memanjang, hanya saja mengalami pembesaran dan pada akhirnya menjadi cacar. Ini karena lempeng tulang sudah menutup, tapi hormon pertumbuhan yang meningkat menyebabkan desakan di daerah pertumbuhan tersebut.

Apabila wanita yang memiliki akromegali, biasanya akan memiliki gejala siklus menstruasi tidak teratur dan ASI terus diproduksi walaupun tidak dalam masa setelah melahirkan. Hal ini dipengaruhi oleh peningkatan prolaktin. Sementara, pada laki-laki banyak yang mengalami disfungsi ereksi.

Menurut MSD Manual, Ian M. Chapman, MBBS, Ph.D., seorang profesor di University of Adelaide, menuliskan bahwa penyakit seperti diabetes, hipertensi, atau kanker dari komplikasi penyakit akromegali dapat membuat angka harapan hidup orang tersebut berkurang.

Penyebab Gigantisme

Penyebab gigantisme dipicu oleh tumor jinak kelenjar pituitari. Begitu juga dengan akromegali. Ada penyebab lain, tapi tidak umum yang membuat penyakit gigantisme dapat terjadi, seperti:

  1. Sindrom McCune-Albright, yaitu yang menyebabkan pertumbuhan jaringan tulang menjadi tidak normal, muncul bercak cokelat muda pada kulit, dan kelainan kelenjar.

  2. Kompleks Carney, yaitu penyakit turunan yang menyebabkan adanya tumor non-kanker pada jaringan ikat dan munculnya noda gelap pada kulit.

  3. Multiple endocrine neoplasia tipe 1 (MEN 1), yaitu bawaan yang menyebabkan tumor di kelenjar pituitari, penkreas, atau kelenjar paratiroid.

  4. Neurofibromatosis, yaitu penyakit turunan yang menyebabkan tumor pada sistem saraf.

Ternyata penyakit gigantisme tidak dapat dicegah. Namun, orangtua dianjurkan untuk mengenali gejala-gejala dan melakukan diskusi pada dokter di Halodoc jika dicurigai mengidap penyakit ini. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana pun. Saran dokter dapat kamu terima dengan praktis dengan download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.

Baca juga: