
3 Komplikasi Polip Hidung pada Anak yang Perlu Diwaspadai

DAFTAR ISI
- Apa Itu Polip Hidung pada Anak?
- Ciri Ciri Polip Hidung pada Anak
- Dampak pada Tumbuh Kembang Anak
- Penyebab dan Faktor Risiko
- Cara Mendiagnosis Polip Hidung
- Pilihan Pengobatan dan Perawatan
- Komplikasi yang Perlu Diwaspadai
- Kapan Harus ke Dokter?
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Kesehatan saluran pernapasan anak adalah salah satu aspek yang paling sering membuat orang tua khawatir. Dari sekian banyak gangguan pernapasan yang bisa terjadi, hidung tersumbat yang tidak kunjung sembuh sering kali dianggap sebagai pilek biasa atau alergi ringan. Padahal, jika kondisi ini terjadi secara terus-menerus dan berkepanjangan, bisa jadi itu adalah tanda adanya pertumbuhan jaringan abnormal di dalam rongga hidung yang dikenal sebagai polip hidung.
Meskipun kondisi ini lebih sering ditemukan pada orang dewasa, polip hidung juga bisa dialami oleh anak-anak. Pada anak, keberadaan polip hidung memerlukan perhatian medis yang lebih serius karena sering kali berkaitan dengan kondisi kesehatan yang lebih mendasar dan kompleks, seperti fibrosis kistik (cystic fibrosis), asma, atau rinitis alergi yang parah. Sayangnya, karena gejalanya sangat mirip dengan selesma (common cold), kondisi ini sering kali luput dari deteksi dini.
Polip hidung yang dibiarkan tanpa penanganan dapat membesar dan menyumbat jalan napas anak sepenuhnya. Hal ini tidak hanya memengaruhi kenyamanan mereka dalam bernapas, tetapi juga dapat berdampak negatif pada kualitas tidur, nafsu makan, dan bahkan memengaruhi tumbuh kembang serta konsentrasi anak saat belajar di sekolah. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami tanda-tanda awalnya secara detail.
Nah, mau tahu apa saja tanda yang harus diwaspadai, bagaimana proses diagnosisnya, serta langkah penanganan yang tepat? Berikut ulasan lengkap mengenai kondisi medis ini yang wajib kamu ketahui!
Apa Itu Polip Hidung pada Anak?
Polip hidung adalah pertumbuhan jaringan yang lunak, tidak terasa sakit, dan bersifat jinak (bukan kanker) yang muncul di lapisan saluran hidung atau sinus. Bentuknya sering kali diibaratkan seperti buah anggur yang menggantung pada batangnya atau menyerupai tetesan air. Pertumbuhan ini terjadi akibat adanya peradangan kronis (jangka panjang) pada selaput lendir yang melapisi hidung dan sinus anak.
Secara anatomis, lapisan rongga hidung dipenuhi dengan pembuluh darah kecil yang bertugas menghangatkan dan melembapkan udara yang dihirup. Ketika lapisan ini mengalami iritasi dan peradangan terus-menerus—baik akibat infeksi berulang, alergi, atau gangguan sistem imun—selaput lendir akan membengkak, meradang, dan lambat laun membentuk benjolan yang disebut polip.
Pada orang dewasa, polip hidung adalah kasus yang cukup umum ditemui di klinik spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT). Namun, jika polip hidung ditemukan pada anak-anak, terutama mereka yang berusia di bawah 10 tahun, dokter biasanya akan melakukan investigasi lebih mendalam. Kehadiran polip pada kelompok usia ini sering kali menjadi “lampu merah” atau penanda adanya kondisi sistemik lain yang memicu peradangan hebat di saluran pernapasan.
Ciri Ciri Polip Hidung pada Anak
Mengenali ciri ciri polip hidung pada anak sedini mungkin adalah kunci untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Polip yang masih berukuran kecil mungkin tidak menimbulkan gejala sama sekali. Anak mungkin tidak mengeluhkan apapun dan bernapas dengan normal. Namun, seiring dengan pertumbuhan polip yang membesar atau jika polip tumbuh dalam jumlah banyak (multipel), saluran hidung dan sinus akan mulai tersumbat.
Berikut adalah berbagai gejala yang umumnya dikeluhkan atau ditunjukkan oleh anak yang memiliki polip hidung:
1. Hidung Tersumbat yang Persisten
Ini adalah keluhan yang paling utama. Berbeda dengan hidung tersumbat karena flu yang biasanya mereda dalam waktu 7 hingga 10 hari, hidung tersumbat akibat polip berlangsung sangat lama, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, dan tidak merespons obat flu biasa yang dijual bebas. Anak akan merasa kesulitan menarik napas melalui hidung secara terus-menerus.
2. Pilek Terus-Menerus (Rhinorrhea)
Anak mungkin akan terus-menerus mengeluarkan ingus. Cairan yang keluar bisa tampak bening, namun jika polip telah memicu infeksi sinus sekunder (sinusitis), cairan hidung bisa berubah warna menjadi kuning atau kehijauan, kental, dan kadang berbau tidak sedap.
3. Postnasal Drip
Polip memicu produksi lendir berlebih. Lendir ini tidak hanya mengalir ke luar hidung, tetapi juga menetes ke bagian belakang tenggorokan anak. Kondisi yang disebut postnasal drip ini membuat anak sering mendehem, merasa ada yang mengganjal di tenggorokan, dan memicu batuk kronis, terutama saat anak berbaring di malam hari.
4. Bernapas Melalui Mulut
Karena jalan napas di hidung terblokir oleh massa polip, anak secara otomatis akan mencari kompensasi dengan bernapas melalui mulut. Kebiasaan bernapas lewat mulut (mouth breathing) ini sangat jelas terlihat saat anak sedang tidur atau saat mereka sedang fokus bermain. Akibatnya, anak sering mengeluh mulut dan tenggorokannya terasa sangat kering saat bangun tidur.
5. Mendengkur dan Gangguan Tidur
Sumbatan jalan napas atas membuat aliran udara menjadi turbulen, sehingga menimbulkan suara dengkuran (snoring) saat anak tertidur. Dalam kasus yang lebih parah, polip dapat memicu Obstructive Sleep Apnea (OSA), di mana napas anak sempat berhenti selama beberapa detik saat tidur, membuat mereka terbangun mendadak karena kekurangan oksigen.
6. Penurunan Indera Penciuman dan Pengecapan
Polip yang menutupi bagian atap rongga hidung (area olfaktori) akan menghalangi partikel bau mencapai saraf penciuman. Anak mungkin akan kehilangan kemampuan mencium bau (anosmia) atau kemampuannya berkurang drastis (hiposmia). Kondisi ini secara langsung juga akan memengaruhi indera pengecap, sehingga makanan terasa hambar dan anak menjadi sulit makan atau kehilangan nafsu makannya.
7. Nyeri pada Wajah dan Sakit Kepala
Tumpukan lendir yang tidak bisa keluar dari rongga sinus akibat sumbatan polip akan menciptakan tekanan besar di dalam rongga wajah. Anak yang sudah cukup besar mungkin akan mengeluhkan rasa sakit, berat, atau tekanan di area dahi, pipi, atau di sekitar mata. Sakit kepala juga menjadi keluhan yang sering menyertai kondisi ini.
Tips Perawatan Mandiri di Rumah untuk Meringankan Gejala Polip Hidung
- Gunakan Humidifier: Melembapkan udara di kamar tidur anak dapat membantu melembapkan saluran pernapasannya, mengencerkan lendir, dan mencegah penyumbatan menjadi lebih parah.
- Bilas Hidung dengan Larutan Saline: Menggunakan semprotan hidung air laut steril atau cairan saline dapat membantu membersihkan lendir berlebih dan alergen yang menempel di rongga hidung.
- Hindari Iritan: Jauhkan anak dari paparan asap rokok, debu rumah, bulu hewan peliharaan, dan polusi udara yang dapat memperburuk peradangan.
Dampak pada Tumbuh Kembang Anak
Jika gejala polip hidung diabaikan, dampaknya bisa meluas hingga memengaruhi tumbuh kembang anak secara keseluruhan. Kualitas tidur yang buruk akibat hidung tersumbat dan mendengkur membuat anak tidak mendapatkan fase deep sleep yang cukup. Padahal, hormon pertumbuhan paling banyak diproduksi saat anak berada dalam fase tidur nyenyak.
Selain itu, kurangnya pasokan oksigen yang optimal saat tidur dan kelelahan kronis dapat membuat anak menjadi rewel, hiperaktif, sulit berkonsentrasi di sekolah, dan mengalami penurunan prestasi akademik. Kebiasaan bernapas lewat mulut dalam jangka panjang pada anak-anak juga dapat mengubah struktur pertumbuhan tulang wajah mereka. Rahang atas bisa menjadi lebih sempit, langit-langit mulut meninggi, dan susunan gigi menjadi berantakan—kondisi yang sering disebut sebagai “adenoid face”.
Penyebab dan Faktor Risiko
Para ilmuwan dan dokter belum sepenuhnya memahami mengapa peradangan kronis bisa memicu pembentukan polip pada beberapa orang namun tidak pada yang lain. Diyakini bahwa ada perbedaan respons sistem kekebalan tubuh dan penanda kimiawi di selaput lendir pada mereka yang mengembangkan polip.
Namun, pada anak-anak, pembentukan polip sangat erat kaitannya dengan beberapa kondisi medis yang mendasarinya. Jika seorang anak didiagnosis dengan polip hidung, dokter pasti akan mencari tahu apakah anak tersebut memiliki salah satu dari faktor risiko berikut:
1. Fibrosis Kistik (Cystic Fibrosis)
Ini adalah penyakit genetik yang memengaruhi kelenjar yang memproduksi lendir, keringat, dan cairan pencernaan. Pada anak dengan fibrosis kistik, lendir yang dihasilkan tubuh menjadi sangat kental dan lengket. Lendir kental ini menyumbat saluran napas dan sinus, menciptakan lingkungan yang ideal untuk infeksi kronis dan pembentukan polip. Polip hidung adalah salah satu tanda klinis utama fibrosis kistik pada anak-anak.
2. Asma
Asma merupakan penyakit peradangan kronis pada saluran udara bawah (paru-paru). Karena saluran hidung dan paru-paru terhubung sebagai “satu jalan napas” (one airway disease), peradangan yang terjadi di paru-paru sering kali disertai dengan hiper-reaktivitas pada rongga hidung, yang pada akhirnya dapat memicu pertumbuhan polip.
3. Rinitis Alergi
Alergi yang parah terhadap debu, serbuk sari, tungau, atau bulu hewan yang tidak tertangani dengan baik menyebabkan paparan alergen terus-menerus. Hal ini merangsang sel-sel imun (seperti eosinofil) untuk terus melepaskan zat inflamasi seperti histamin, yang memicu pembengkakan selaput lendir dan berkontribusi pada pembentukan polip.
4. Sensitivitas terhadap Aspirin (NSAID)
Meskipun lebih umum terjadi pada remaja atau orang dewasa, beberapa anak mungkin mengalami kondisi langka yang dikenal sebagai Samter’s Triad (Asma, polip hidung, dan sensitivitas terhadap obat antiinflamasi non-steroid seperti aspirin atau ibuprofen). Mengonsumsi obat-obatan ini dapat memicu serangan asma yang parah dan pertumbuhan polip secara cepat.
5. Diskinesia Silia Primer (Primary Ciliary Dyskinesia)
Ini adalah kelainan bawaan langka di mana rambut-rambut halus (silia) di saluran pernapasan tidak bergerak dengan benar. Akibatnya, silia tidak mampu menyapu lendir dan bakteri keluar dari hidung dan paru-paru, menyebabkan infeksi berulang yang merangsang munculnya polip hidung.
Cara Mendiagnosis Polip Hidung
Untuk mendiagnosis kondisi ini, dokter spesialis anak atau dokter spesialis THT akan melakukan pemeriksaan komprehensif. Wawancara medis (anamnesis) yang mendalam terkait riwayat gejala, alergi, dan riwayat kesehatan keluarga akan menjadi langkah pertama.
Selanjutnya, dokter mungkin akan melakukan prosedur berikut:
- Endoskopi Hidung: Dokter akan memasukkan selang kecil yang dilengkapi kamera dan lampu (endoskop) ke dalam rongga hidung anak. Prosedur ini memungkinkan dokter melihat bagian dalam hidung dan sinus secara langsung dengan sangat jelas, untuk memastikan ukuran, jumlah, dan lokasi polip.
- CT Scan: Pemindaian ini memberikan gambar detail rongga hidung dan sinus anak. CT Scan sangat berguna untuk melihat seberapa luas peradangan terjadi, mendeteksi polip yang tersembunyi jauh di dalam sinus, serta menyingkirkan kemungkinan adanya kelainan struktur tulang atau tumor jenis lain.
- Tes Alergi: Tes tusuk kulit (skin prick test) atau tes darah mungkin direkomendasikan untuk mengidentifikasi apakah alergi menjadi pemicu peradangan kronis anak.
- Tes Fibrosis Kistik: Mengingat kuatnya hubungan antara polip pada anak dan fibrosis kistik, dokter sangat mungkin menyarankan tes keringat (sweat test) untuk mengukur kadar natrium dan klorida dalam keringat anak, yang merupakan metode diagnostik standar untuk kondisi genetik ini.
Pilihan Pengobatan dan Perawatan
Tujuan utama dari pengobatan polip hidung adalah untuk mengecilkan ukuran polip, menghilangkan gejala sumbatan, mengembalikan indera penciuman, dan mencegah polip tumbuh kembali. Pengobatan biasanya dimulai dari pendekatan medis (non-bedah).
1. Kortikosteroid Nasal
Ini adalah lini pertama pengobatan. Obat semprot hidung yang mengandung kortikosteroid bekerja secara lokal untuk mengurangi peradangan di selaput lendir hidung, mengecilkan ukuran polip, dan meredakan hidung tersumbat. Obat ini relatif aman digunakan dalam jangka panjang di bawah pengawasan medis karena penyerapannya ke seluruh tubuh sangat kecil.
2. Kortikosteroid Oral atau Injeksi
Jika semprotan hidung tidak memberikan hasil yang memadai, atau ukuran polip sudah terlalu besar, dokter mungkin akan meresepkan pil kortikosteroid oral untuk jangka waktu singkat. Penggunaan steroid oral pada anak dilakukan dengan sangat hati-hati dan terbatas karena potensi efek sampingnya jika digunakan dalam jangka panjang.
3. Mengobati Kondisi yang Mendasari
Jika polip disebabkan oleh alergi, pemberian obat antihistamin mungkin diperlukan. Jika ada infeksi sinus bakteri yang menyertai, antibiotik akan diresepkan. Selain itu, manajemen asma yang baik juga sangat krusial dalam mengendalikan pertumbuhan polip.
4. Operasi Endoskopi Sinus (FESS)
Ketika pengobatan medis gagal mengecilkan polip atau polip menyebabkan komplikasi yang mengancam (seperti sleep apnea berat), prosedur pembedahan mungkin menjadi jalan keluar terakhir. Operasi Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS) dilakukan dengan menggunakan endoskop untuk mengangkat massa polip secara presisi dan memperlebar bukaan sinus tanpa perlu membuat sayatan dari luar wajah. Namun, perlu diingat bahwa polip hidung memiliki kecenderungan untuk tumbuh kembali (kambuh) setelah operasi, sehingga terapi obat-obatan semprot hidung biasanya harus terus dilanjutkan pascaoperasi.
Komplikasi yang Perlu Diwaspadai
Keberadaan polip hidung yang menghambat aliran udara dan drainase cairan secara normal dapat memicu berbagai komplikasi yang merugikan kesehatan anak, di antaranya:
- Sinusitis Kronis: Cairan lendir yang terjebak di dalam sinus menjadi tempat yang sempurna bagi bakteri untuk berkembang biak, memicu infeksi sinus berulang yang sangat menyiksa anak.
- Serangan Asma yang Memburuk: Polip yang disertai rinosinusitis kronis dapat membuat gejala asma anak menjadi jauh lebih sulit dikendalikan dan memicu serangan asma yang lebih sering serta lebih berat.
- Penyebaran Infeksi: Meskipun jarang, infeksi sinus yang parah dan tidak terobati akibat polip dapat menyebar ke area sekitarnya yang sangat vital, seperti rongga mata (selulitis orbita) atau bahkan menyebar ke selaput otak (meningitis).
Kapan Harus ke Dokter?
Orang tua tidak boleh mengabaikan gejala hidung tersumbat pada anak jika gejalanya berlangsung lebih dari 10 hari tanpa tanda-tanda perbaikan. Segera cari pertolongan medis darurat jika anak mengalami gejala-gejala berikut:
- Kesulitan bernapas yang sangat parah hingga terlihat tarikan pada dinding dada saat menarik napas.
- Perburukan gejala secara tiba-tiba yang disertai demam tinggi.
- Penglihatan ganda, penurunan ketajaman penglihatan, atau anak tidak bisa menggerakkan bola matanya.
- Pembengkakan yang parah, kemerahan, dan rasa nyeri di sekitar salah satu atau kedua mata.
- Sakit kepala yang tidak tertahankan dan leher yang terasa kaku.
Gejala-gejala di atas mengindikasikan kemungkinan komplikasi serius atau infeksi sekunder yang telah menyebar, sehingga memerlukan evaluasi dan tindakan medis dengan segera.
Studi Terkait
International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa kejadian polip hidung pada populasi anak-anak sangat berkaitan erat dengan adanya penyakit sistemik yang mendasarinya, berbeda dengan orang dewasa yang sering kali bersifat idiopatik (tanpa penyebab yang jelas). Studi ini menekankan bahwa sekitar 20-30% anak yang didiagnosis dengan polip hidung multipel memiliki kemungkinan mengidap fibrosis kistik.
Temuan medis ini memperkuat protokol standar di dunia pediatrik bahwa setiap penemuan polip hidung pada anak, terutama balita, mewajibkan tenaga medis untuk melakukan pemeriksaan genetik atau tes keringat guna menyingkirkan kemungkinan fibrosis kistik. Hal ini penting agar penanganan penyakit primernya dapat segera dilakukan, sehingga prognosis anak di masa depan menjadi jauh lebih baik.
Jika kamu mendapati anak terus-menerus bernapas melalui mulut atau mengeluhkan penciumannya terganggu, jangan tunda untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Memastikan diagnosis yang tepat sejak dini adalah cara terbaik untuk mengembalikan kualitas hidup dan kebahagiaan buah hati tercinta.
Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc kapan saja dan dari mana saja secara praktis.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2023. Nasal polyps – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2023. Nasal Polyps: Causes, Symptoms & Treatment.
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2023. Nasal Polyps.
National Library of Medicine (PubMed). Diakses pada 2023. Pediatric Nasal Polyposis.
Stanford Children’s Health. Diakses pada 2023. Nasal Polyps in Children.
FAQ
1. Apa saja ciri ciri polip hidung pada anak yang paling mudah dikenali?
Ciri ciri yang paling mudah diamati oleh orang tua adalah hidung anak yang selalu tersumbat berminggu-minggu, anak sering bernapas melalui mulut, terdengar suara dengkuran saat anak tidur, mimisan berulang, dan anak kehilangan nafsu makan karena penurunan indera penciuman serta pengecapan.
2. Apakah polip hidung pada anak bisa hilang sendiri tanpa operasi?
Polip hidung tidak bisa hilang sendiri. Namun, tidak semua kasus memerlukan operasi. Pengobatan medis, seperti penggunaan semprotan hidung kortikosteroid yang diresepkan dokter, sering kali efektif untuk mengecilkan ukuran polip secara signifikan dan meredakan gejalanya hingga anak merasa nyaman kembali.
3. Apakah polip hidung pada anak itu berbahaya?
Polip itu sendiri adalah pertumbuhan jaringan jinak yang tidak bersifat kanker, sehingga tidak mematikan secara langsung. Namun, polip bisa berbahaya jika terus membesar karena dapat memblokir jalan napas anak secara total, menyebabkan gangguan tidur berat (sleep apnea), mengubah struktur tulang wajah anak, dan menjadi indikator penyakit bawaan yang serius seperti fibrosis kistik.
4. Bagaimana cara dokter memastikan bahwa anak saya mengidap polip hidung?
Dokter spesialis THT atau anak biasanya akan memeriksa rongga hidung menggunakan alat khusus bersenter yang disebut endoskop hidung. Jika dokter butuh melihat seberapa jauh polip menyebar ke dalam sinus atau untuk menyingkirkan kemungkinan komplikasi lain, dokter mungkin akan merekomendasikan pemeriksaan tambahan berupa CT Scan wajah.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis THT via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis THT terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.


