• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 5 Pemeriksaan Lanjutan untuk Mendiagnosis Penyakit Asam Urat

5 Pemeriksaan Lanjutan untuk Mendiagnosis Penyakit Asam Urat

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Penyakit asam urat merupakan penyakit yang menyerang sendi karena kadar asam urat dalam darah terlalu tinggi. Normalnya, asam urat larut dalam darah, dan dikeluarkan dari dalam tubuh dalam bentuk urine. Jika kadarnya terlalu tinggi, asam urat akan menumpuk dalam tubuh, sehingga memicu gangguan pembuangan. Akibatnya, sejumlah gejala asam urat akan muncul.

Untuk mendiagnosis asam urat, kamu perlu melakukan sejumlah pemeriksaan lebih lanjut. Biasanya, dokter akan terlebih dulu menanyakan riwayat kesehatan pengidap, seberapa sering gejala muncul, serta lokasi sendi yang terkena. Jika dirasa informasi belum mencukupi, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan guna memastikan adanya kristal yang menumpuk pada persendian. Berikut ini sejumlah langkah mendiagnosis asam urat:

Baca juga: Apa Perbedaan Gejala Rematik dan Penyakit Asam Urat?

1.Tes Darah

Tes darah untuk mendiagnosis asam urat bertujuan mengukur kadar asam urat dan kreatinin dalam darah. Jika kadarnya sudah mencapai 7 mg/dL, maka seseorang bisa dikatakan mengidap asam urat. Pemeriksaan akan dilanjutkan dengan sejumlah pemeriksaan lainnya.

2.Tes Urine 24 Jam

Pemeriksaan guna mendiagnosis asam urat selanjutnya adalah tes urine 24 jam. Pemeriksaan ini dilakukan dengan memeriksa kadar asam urat pada sampel urine yang terkumpul dalam waktu 24 jam terakhir.

3.Tes Cairan Sendi

Tes cairan sendi dikenal dengan istilah analisis cairan sinovial. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada seseorang yang mengalami gangguan sendi agar dapat memastikan penyebab yang mendasari. Pemeriksaan dilakukan dengan mengambil cairan sinovial pada sendi sakit menggunakan jarum suntik, kemudian diperiksa di bawah mikroskop. 

4.Foto Rontgen

Foto rontgen merupakan pemeriksaan yang dilakukan dengan menggunakan radiasi gelombang elektromagnetik guna menampilkan gambaran bagian dalam tubuh. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah penyebabnya adalah penumpukan kristal pada sendi.

5.Biopsi Sinovial

Biopsi sinovial merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk memeriksa adanya masalah pada sendi. Langkah terakhir untuk mendiagnosis asam urat ini dilakukan jika metode lain tidak mampu menemukan penyebab nyeri pada sendi. Pemeriksaan ini juga digunakan untuk mengukur tingkat keparahan dari penebalan sinovial, yaitu jaringan lunak yang melapisi permukaan bagian dalam sendi.

Baca juga: Kacang Mete Bisa Sebabkan Penyakit Asam Urat, Benarkah?

Perlu diketahui jika asam urat merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Sejauh ini, langkah pengobatan yang dilakukan bertujuan untuk meringankan gejala yang muncul. Setelah melakukan langkah pengobatan yang tepat, gejala biasanya akan hilang setelah 24 jam. Jangan sepelekan gejala yang muncul, karena berikut ini sejumlah komplikasi bisa saja terjadi:

  • Munculnya tofi atau benjolan keras di bawah kulit. Benjolan tidak menimbulkan rasa sakit, tetapi dapat membengkak dan mengeras saat gejala muncul.
  • Kambuhnya asam urat beberapa kali dalam setahun. Jika dibiarkan begitu saja, pengidap akan mengalami pengeroposan dan kerusakan pada sendi.
  • Penyakit batu ginjal akibat penumpukan kristal asam urat pada saluran kemih. Kondisi ini akan memicu batu ginjal.

Baca juga: Kopi Bantu Turunkan Risiko Penyakit Asam Urat, Benarkah?

Itulah sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk mendiagnosis asam urat. Untuk lebih jelasnya mengenai masing-masing prosedur yang dilakukan, kamu bisa bertanya langsung dengan dokter di aplikasi Halodoc, ya.

download rumah sakit 

Referensi:
CDC. Diakses pada 2020. Gout.
MedlinePlus. Diakses pada 2020. Gout.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Gout.
Healthline. Diakses pada 2020. Symptoms of Gout.