• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Penyakit Batu Ginjal

Penyakit Batu Ginjal

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Penyakit Batu Ginjal

Pengertian Penyakit Batu Ginjal

Penyakit batu ginjal yang disebut juga nefrolitiasis merupakan terbentuknya materi padat dan keras yang menyerupai batu, yang berasal dari garam dan mineral di dalam ginjal. Masalah kesehatan ini bisa muncul di sepanjang saluran urine. Mulai dari ginjal, ureter yang merupakan saluran kemih yang bertugas membawa urine dari ginjal menuju ke bagian kandung kemih, kandung kemih, hingga uretra atau saluran kemih yang bertugas membawa urine menuju ke luar tubuh. 

Batu ginjal sendiri muncul karena limbah yang berada di dalam darah membentuk kristal dan menumpuk di bagian ginjal. Zat kimia yang bisa membentuk batu dan menyumbat saluran ginjal adalah asam oksalat dan kalsium. Seiring berjalannya waktu, kedua zat tersebut bisa semakin keras hingga seperti batu. 

Penyebab Penyakit Batu Ginjal

Terjadinya penyakit batu ginjal bisa disebabkan karena banyak hal. Misalnya kurangnya asupan cairan tubuh, kelebihan berat badan, atau dampak dari tindakan operasi yang dilakukan pada organ pencernaan. Endapan batu yang terdapat pada organ ginjal juga bisa terjadi karena makanan atau berbagai kondisi medis lainnya. Jika dilihat dari jenisnya, batu ginjal terbagi menjadi empat, yaitu batu asam urat, kalsium, sistin, dan struvit. 

Sementara itu, batu ginjal tidak akan selalu menetap di dalam organ ginjal alias bisa berpindah tempat. Jika ukurannya cenderung besar, tentu perpindahan batu ginjal akan cukup sulit sehingga memicu terjadinya iritasi pada saluran kemih. Apabila kondisi tersebut bisa diketahui dan ditangani sejak awal, risiko terjadinya kerusakan fungsi ginjal secara permanen pun bisa dihindari. 

Sebagian besar penyakit batu ginjal terjadi pada orang-orang dengan rentang usia antara 30 hingga 50 tahun. Sebanyak 15 persen pria dan 10 persen wanita diperkirakan pernah mengidap masalah kesehatan ini selama hidup. 

Faktor Risiko Penyakit Batu Ginjal

Adapun berbagai faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami batu ginjal, di antaranya: 

  • Riwayat kesehatan keluarga. Jika seseorang dalam keluarga pernah mengidap penyakit batu ginjal, kemungkinan besar kamu juga akan terkena masalah kesehatan yang sama. Jika kamu pernah mengalami satu atau lebih batu ginjal, kamu berisiko lebih tinggi terserang batu ginjal lainnya.
  • Dehidrasi. Tidak terpenuhinya asupan cairan harian tubuh bisa meningkatkan risiko terjadinya penyakit batu ginjal. Orang-orang yang tinggal di daerah dengan iklim kering dan hangat serta lebih banyak mengeluarkan keringat bisa lebih berisiko mengalami masalah kesehatan ini. 
  • Menjalani diet tertentu. Mengonsumsi makanan dengan kadar protein, garam, dan natrium atau garam yang tinggi bisa memicu terjadinya beberapa jenis penyakit batu ginjal. Kondisi ini akan lebih rentan terjadi pada orang-orang yang menjalani diet tinggi natrium. Pasalnya, konsumsi garam secara berlebihan bisa mengakibatkan jumlah kalsium yang harus disaring oleh organ ginjal meningkat, sehingga risiko terjadinya batu ginjal pun meningkat.
  • Obesitas. Tingginya indeks massa tubuh atau BMI, penambahan berat badan, dan ukuran pinggang yang membesar telah dikaitkan dengan risiko terjadinya penyakit batu ginjal. 
  • Masalah kesehatan pada sistem pencernaan dan tindakan pembedahan. Tindakan pembedahan atau operasi bypass pada lambung, diare kronis, dan penyakit radang usus bisa mengakibatkan terjadinya perubahan pada proses yang berlangsung dalam sistem pencernaan. Hal tersebut dapat memengaruhi penyerapan air dan kalsium sehingga meningkatkan jumlah zat yang membentuk batu di dalam urine.

Berbagai kondisi medis lainnya termasuk sistinuria, asidosis tubulus ginjal, infeksi saluran kemih yang terjadi berulang, dan hiperparatiroidisme juga bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami batu ginjal.

Lalu, konsumsi suplemen dan obat tertentu juga bisa meningkatkan risiko munculnya penyakit batu ginjal. Contohnya  seperti suplemen makanan, vitamin C, antasida dengan basis kalsium, obat pencahar yang dikonsumsi berlebihan, dan obat yang dipakai untuk mengatasi depresi serta migrain pun turut. 

Gejala Penyakit Batu Ginjal

Ketika batu ginjal masih berukuran kecil, gejala yang muncul mungkin tidak terlalu terasa karena batu bisa keluar dari tubuh melalui saluran ureter secara alami dan lebih mudah. Akan tetapi, apabila batu telah berukuran lebih besar dibandingkan dengan diameter dari saluran ureter, gejala baru akan terasa. Adapun gejalanya antara lain:

  • Sering buang air kecil.
  • Terasa sakit ketika buang air kecil.
  • Nyeri pada perut bagian bawah atau samping, pinggang, dan area selangkangan.
  • Terkadang muncul rasa mual. 
  • Jumlah urine yang keluar sedikit atau tidak keluar sama sekali.

Batu ginjal dengan ukuran besar akan bergesekan dengan lapisan dinding ureter, sehingga bisa mengakibatkan terjadinya iritasi bahkan munculnya luka. Kondisi inilah yang menjadi penyebab urine terkadang keluar dengan disertai darah. 

Tak hanya mengakibatkan ureter mengalami iritasi, batu ginjal juga bisa tersangkut dalam ureter atau uretra, sehingga terjadi akumulasi bakteri yang berujung pada infeksi dan pembengkakan. Sementara itu, jika pengidap batu ginjal terserang infeksi, gejala lain yang terasa yaitu urine keruh dan menimbulkan aroma tak sedap, badan menggigil, demam, dan lemas. 

Diagnosis Penyakit Batu Ginjal

Guna mendapatkan diagnosis yang akurat, dokter akan mengawali pemeriksaan dengan menanyakan riwayat kesehatan pengidap, gejala yang dirasakan, dan adakah riwayat kondisi medis yang sama dalam keluarga. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menguatkan diagnosis terkait penyakit batu ginjal. 

Jika memang dibutuhkan, dokter bisa menyarankan pengidap untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, seperti: 

  • Pemeriksaan darah. Pemeriksaan ini bisa memberi informasi apakah terdapat asam urat atau kalsium berlebihan dalam darah. Hasil pemeriksaan bisa digunakan untuk memantau kondisi kesehatan ginjal sekaligus menjadi acuan dokter untuk melakukan pemeriksaan medis penunjang lainnya.
  • Pemeriksaan urine. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menampung urine guna mengetahui apakah terdapat kandungan asam urat atau kalsium di dalam urine. 
  • Pencitraan atau pemindaian. Pemeriksaan ini dilakukan untuk membantu menunjukkan keberadaan batu ginjal dalam saluran kemih dengan lebih jelas. Pemeriksaan pemindaian bisa dilakukan dengan CT, USG, atau rontgen. 
  • Analisis batu ginjal yang berhasil keluar. Dokter mungkin akan meminta pengidap untuk buang air kecil dengan menggunakan saringan, untuk membantu menyaring apabila terdapat batu ginjal yang turut keluar bersama urine. Selanjutnya, akan dilakukan pemeriksaan lebih mendetail di laboratorium. 

Pengobatan Batu Ginjal

Penanganan penyakit batu ginjal dilakukan bergantung pada jenis dan ukuran batu ginjal yang terjadi. Kondisi batu ginjal dengan ukuran kecil atau diameter yang tidak lebih dari 4 milimeter, pengobatan dilakukan dengan cara mandiri untuk membantu mengeluarkan batu ginjal dari dalam tubuh melalui urine. Pengobatan rumahan yang dilakukan berupa:

  • Perbanyak minum air putih minimal 8 gelas atau lebih setiap hari.
  • Mengonsumsi obat untuk membantu meredakan nyeri. Pasalnya, keluarnya batu ginjal melalui urine dapat disertai dengan rasa tidak nyaman dan nyeri. 

Sementara itu, untuk batu ginjal dengan ukuran besar atau memiliki diameter lebih dari 6 milimeter cenderung berbeda. Ukuran batu ginjal ini  sulit untuk dikeluarkan bersama urine, bisa memicu terjadinya perdarahan, infeksi saluran kemih, bahkan kerusakan pada ginjal. Maka pilihan penanganan yang bisa dilakukan di antaranya: 

  • Ureteroskopi. Prosedur tersebut dilakukan guna memindahkan batu ginjal berukuran kecil pada ginjal atau ureter dengan menggunakan alat yang disebut ureteroskop. Alat tersebut berupa selang yang sudah dilengkapi dengan kamera yang selanjutnya dimasukkan ke bagian ureter atau tempat terdapat batu. Kemudian, batu akan dipecahkan menjadi ukuran yang lebih kecil sehingga lebih mudah keluar bersama urine. 
  • Extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL). Dokter spesialis urologi akan mengarahkan alat yang mampu memancarkan gelombang suara dengan frekuensi tinggi tepat pada titik posisi batu ginjal. Kemudian, batu ginjal akan dipecah menjadi ukuran yang lebih kecil dan dikeluarkan bersama dengan urine. 
  • Percutaneous nephrolithotomy. Prosedur ini dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut dengan nefroskop. Cara ini dipilih untuk mengatasi batu ginjal yang memiliki ukuran lebih besar atau sekitar 2 sampai 3 sentimeter dan tidak bisa ditangani oleh prosedur ESWL.

Tak hanya itu, cara pengobatan ini juga dipilih apabila terjadi infeksi atau hambatan yang berisiko terjadinya kerusakan ginjal, atau rasa nyeri yang parah dan tidak bisa diredakan dengan mengonsumsi obat.

 Alat nefroskop dimasukkan melalui kulit bagian luar ke dalam ginjal, lalu menarik batu ginjal atau dipecahkan dengan memanfaatkan energi laser menjadi ukuran yang lebih kecil. 

  • Pembedahan terbuka. Prosedur ini bisa dibilang jarang dilakukan, biasanya hanya untuk kasus batu ginjal dengan ukuran lebih besar atau memiliki bentuk yang abnormal. 

Selain keempat cara tersebut, dokter juga bisa melakukan tindakan operasi lain untuk mengatasi apa yang menjadi penyebab munculnya batu ginjal. Misalnya, terjadinya penyakit batu ginjal karena kondisi kelenjar paratiroid yang hiperaktif, dokter bisa merekomendasikan untuk melakukan operasi untuk mengangkat kelenjar tersebut. 

Komplikasi Penyakit Batu Ginjal

Komplikasi dari penyakit batu ginjal bisa terjadi ketika ukuran dari batu ginjal semakin bertambah besar. Hal tersebut bisa mengakibatkan terhambatnya aliran urine. Selain itu, kondisi ini juga sangat mungkin memicu terjadinya infeksi maupun kerusakan pada ginjal secara permanen atau penyakit ginjal kronis. 

Akan tetapi, pengobatan yang ditujukan untuk meringankan kondisi batu ginjal, terlebih dengan ukuran besar juga bisa menimbulkan beberapa komplikasi, antara lain: 

  • Cedera pada bagian ureter.
  • Terjadinya perdarahan.
  • Infeksi yang menyebar ke bagian tubuh lain melalui aliran darah atau bakteremia.

Apabila pengidap pernah terserang penyakit batu ginjal sebelumnya, maka risiko terjadinya kekambuhan menjadi lebih besar. Beberapa faktor yang memicu terjadinya kekambuhan batu ginjal antara lain: 

  • Terlalu banyak konsumsi makanan dengan kandungan protein dan lebih sedikit mengonsumsi makanan dengan kandungan serat. 
  • Hanya mempunya satu ginjal yang masih dapat berfungsi dengan baik.
  • Pernah mengidap beberapa jenis infeksi yang memiliki kaitan dengan ginjal atau saluran kemih.
  • Adanya kondisi penyakit batu ginjal dalam keluarga. 
  • Pernah menjalani prosedur pembedahan pada bagian sistem pencernaan.
  • Mengonsumsi suplemen dengan kandungan kalsium secara rutin. 
  • Mengonsumsi obat antasida, aspirin, antikejang, diuretik, dan obat yang berfungsi untuk HIV. 

Pencegahan Penyakit Batu Ginjal

Sebenarnya, cara mencegah penyakit batu ginjal bisa dikatakan sederhana, yaitu disiplin menerapkan pola hidup sehat, seperti: 

  • Perbanyak asupan cairan tubuh untuk menghindari dehidrasi dan mencegah terbentuknya batu ginjal dari limbah tubuh yang sifatnya terlalu pekat. 
  • Mengonsumsi makanan dengan kandungan kalsium dengan jumlah yang tidak berlebihan. Pun, dalam kaitannya dengan mengonsumsi suplemen kalsium, sebaiknya tanyakan terlebih dahulu pada dokter. 
  • Kurangi asupan daging unggas atau ikan guna mencegah pembentukan batu ginjal karena asam urat berlebihan.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan kondisi kesehatan kamu ke rumah sakit terdekat apabila merasakan gejala yang mengarah pada penyakit batu ginjal. Kamu bisa menggunakan aplikasi Halodoc untuk membuat janji berobat ke rumah sakit terdekat lebih mudah, download aplikasi Halodoc terlebih dahulu di ponselmu. 

Referensi: 
American Kidney Fund. Diakses pada 2022. Kidney Stone Causes, Symptoms, Treatments, & Prevention.
Healthline.com. Diakses pada 2022. Kidney Stones.
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Kidney Stone.
Urology Health. Diakses pada 2022. What are Kidney Stones?
Diperbarui pada 18 Januari 2022.