• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Alasan Menurunnya Libido Bisa Jadi Gejala Perimenopause

Alasan Menurunnya Libido Bisa Jadi Gejala Perimenopause

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Sebelum benar-benar memasuki masa menopause, semua wanita akan memasuki periode transisi yang disebut perimenopause. Periode ini umumnya berlangsung selama 4-10 tahun sebelum masa menopause terjadi, tepatnya ketika wanita berusia 30-40 tahun. Meski begitu, perimenopause juga bisa muncul lebih awal.

Salah satu gejala perimenopause adalah menurunnya libido atau gairah seksual. Hal ini terjadi karena adanya ketidakstabilan hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh, atau kondisi miss V yang kering, sehingga memunculkan rasa sakit ketika berhubungan intim. Namun, tidak semua wanita mengalami gejala penurunan libido saat perimenopause. 

Baca juga: Penyebab Wanita Alami Perimenopause

Gejala Perimenopause yang Perlu Dikenali

Ketika memasuki masa perimenopause, wanita akan mengalami berbagai gejala akibat adanya perubahan kadar hormon reproduksi dalam tubuh. Salah satu yang telah dijelaskan tadi adalah menurunnya libido. Namun, gejala perimenopause sebenarnya masih banyak. Berikut beberapa di antaranya:

1. Tidak Teraturnya Siklus Menstruasi

Ketika memasuki masa perimenopause, siklus menstruasi biasanya mengalami ketidakteraturan. Selain siklus, durasi menstruasi juga dapat menjadi lebih lama maupun lebih pendek. Jika terjadi perubahan selama tujuh hari atau lebih pada siklus menstruasi kamu, bisa jadi itu tanda perimenopause dini. 

Lalu, jika jumlah hari antara siklus menstruasi melebihi 60 hari, kamu mungkin sedang mengalami tahap akhir perimenopause. Agar siklus menstruasi jadi lebih teratur, kamu bisa meminum pil KB dengan dosis rendah. Namun, sebaiknya konsultasikan ke dokter kandungan dulu terkait hal ini. Agar lebih mudah, kamu bisa download aplikasi Halodoc untuk berbicara dengan dokter kapan dan di mana saja.

2. Mengalami Hot Flashes

Salah satu gejala perimenopause adalah mengalami hot flashes. Namun, tidak semua wanita mengalami gejala hot flashes yang sama. Intensitas, durasi, dan frekuensinya bisa bervariasi. Gejala hot flashes bisa membuat wanita tiba-tiba banyak berkeringat selama 5-10 menit. Meski begitu, ada juga beberapa wanita yang hanya merasa kepanasan, tanpa mengeluarkan keringat.

Jika terjadi pada malam hari, gejala hot flashes yang terasa akan membuat kamu berkeringat. Kondisi ini dikenal juga dengan istilah keringat malam. Rasa panas itu tak jarang juga memengaruhi kualitas tidur. Untuk mengatasi hot flashes, kamu bisa melakukan latihan pernapasan dalam (deep breathing). Selain itu, kamu juga bisa menghindari berada di suhu panas, serta tidak mengonsumsi makanan pedas dan minuman panas agar tidak mudah berkeringat. 

Baca juga: Usia Berapa Wanita Alami Perimenopause?

3. Miss V Kering

Akibat penurunan kadar hormon estrogen, produksi cairan pelumas dan kelenturan pada jaringan miss V juga akan berkurang. Kondisi ini dapat menyebabkan rasa gatal dan pegal-pegal, serta nyeri saat berhubungan intim. Tak hanya itu, penurunan kadar hormon estrogen juga dapat membuat wanita lebih rentan untuk mengalami infeksi saluran kemih dan infeksi pada miss V. 

4. Menurunnya Tingkat Kesuburan

Satu lagi yang menjadi gejala perimenopause adalah penurunan tingkat kesuburan. Hal ini karena adanya ketidakteraturan masa subur (ovulasi), sehingga membuat peluang kehamilan berkurang. Meski begitu, bukan berarti kamu tidak bisa memiliki anak sama sekali. Selama masih mengalami menstruasi, walaupun tidak teratur, sel telur masih bisa dibuahi dan masih bisa berpeluang untuk hamil. 

5. Hilangnya Kepadatan Tulang

Penurunan produksi hormon estrogen dapat memicu hilangnya massa tulang. Akibatnya, risiko osteoporosis pada wanita akan meningkat. Untuk mencegah kerapuhan tulang, perbanyaklah konsumsi kalsium dan vitamin D. Pastikan juga kamu berolahraga rutin selama 30 menit setiap hari. 

Baca juga: Komplikasi Berbahaya Akibat Perimenopause

6. Mood Swing

Wanita yang sedang memasuki masa perimenopause, tak jarang mengalami suasana hati yang berubah-ubah atau mood swing. Hal ini muncul akibat ketidakstabilan hormon, dan bisa saja meningkatkan risiko terjadinya depresi. 

Itulah beberapa gejala lain perimenopause pada wanita, selain menurunnya libido. Perlu diketahui bahwa gejala yang muncul dapat bervariasi pada setiap wanita. Perimenopause juga sebenarnya merupakan hal yang normal dan umum terjadi pada setiap wanita, sehingga tidak perlu terlalu khawatir. Namun, jika kamu mengalami gejala atau gangguan pada menstruasi, sebaiknya segera konsultasikan pada dokter.

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2020. Guide for Perimenopause.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Perimenopause - Symptoms and Causes.
Healthline. Diakses pada 2020. Perimenopause.