Penyebab Wanita Alami Perimenopause

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Penyebab Wanita Alami Perimenopause

Halodoc, Jakarta - Pada kondisi normal, wanita mengalami menstruasi setiap bulannya. Pada usia tertentu, terjadi menopause yang ditandai berhentinya menstruasi. Biasanya, sebelum benar-benar mengalami menopause, wanita mengalami perimenopause terlebih dahulu. Kondisi ini disebut masa transisi yang terjadi dari siklus menstruasi normal ke masa menopause. 

Biasanya, ada gejala yang muncul, sehingga para wanita bisa mengetahui bahwa masa menstruasi normal mereka berakhir dan masa menopause akan segera tiba. Perimenopause akan terjadi pada setiap wanita, tetapi tidak semua wanita mengalami perimenopause di usia yang sama. 

Apa Penyebab dan Gejala Perimenopause? 

Kondisi perimenopause bisa terjadi antara 4 hingga 10 tahun sebelum pada akhirnya wanita benar-benar memasuki masa menopause. Biasanya dimulai pada rentang usia antara 30 hingga 40 tahun, tetapi bisa terjadi lebih awal karena kondisi medis tertentu atau adanya riwayat menopause dini pada keluarga. 

Baca juga: Ini Alasan Wanita Perimenopause Rentan Alami Menoragia

Sebenarnya, apa penyebab terjadinya perimenopause? Penurunan kadar hormon progesteron dan estrogen pada tubuh wanita adalah penyebab utamanya. Kondisi ini terjadi seiring dengan bertambahnya usia wanita. Kondisi ini normal terjadi, tetapi ada pula beberapa hal yang menyebabkan perimenopause terjadi lebih cepat, yaitu: 

  • Keturunan. Wanita yang memiliki anggota keluarga yang turut mengalami menopause dini bisa pula mengalami kondisi yang sama. 

  • Menjalani pengobatan untuk kanker. Radioterapi dan kemoterapi memberikan efek samping yang terbilang signifikan untuk tubuh. Bagi wanita, salah satunya adalah risiko terjadi menopause dini. 

  • Merokok. Wanita yang merokok mengalami menopause antara 1 hingga 2 tahun lebih awal daripada wanita yang tidak memiliki kebiasaan merokok. 

  • Menjalani prosedur histerektomi. Prosedur pengangkatan rahim atau disebut histerektomi membuat wanita lebih berisiko mengalami menopause dini, terutama jika ovarium ikut diangkat pada prosedur ini. 

Baca juga: Wanita Perimenopause dan Menopause Rentan Terkena Polip Rahim, Benarkah?

Ketika memasuki fase perimenopause, kamu merasakan adanya gejala tertentu akibat penurunan atau perubahan hormon pada tubuh. Gejala utamanya adalah menstruasi yang tidak teratur, bisa terjadi lebih cepat atau lebih lambat dari waktu normal siklus setiap bulannya. 

Semakin mendekati fase menopause, menstruasi semakin jarang terjadi, dan ini diikuti dengan gejala lain, termasuk sakit kepala pada fase awal perimenopause, hot flashes, menurunnya hasrat seksual dan kesuburan, nyeri ketika berhubungan intim, sulit berkonsentrasi dan mudah lupa, terjadi pengeroposan tulang, suasana hati yang berubah-ubah, dan peningkatan kadar kolesterol. 

Pada beberapa kondisi, ada sebagian wanita yang tidak bisa menoleransi gejala perimenopause tadi, sehingga berdampak pada aktivitas sehari-hari. Jika kamu merasakan gejala perimenopause cukup mengganggu aktivitas, tidak ada salahnya langsung melakukan pemeriksaan ke dokter. Gunakan aplikasi Halodoc untuk memudahkan kamu membuat janji dengan dokter kandungan di rumah sakit terdekat. 

Baca juga: Cara Melewati Masa Menopause Tanpa Rasa Cemas

Tidak hanya itu, pengecekan kesehatan harus dilakukan apabila kamu mengalami perdarahan pada vagina setelah melakukan hubungan intim, perdarahan berlebihan ketika menstruasi yang membuat kamu harus mengganti pembalut setiap jam, muncul gumpalan darah ketika masa menstruasi, dan keluar bercak darah alias flek ketika kamu sedang tidak haid. Pengecekan kesehatan bisa menghindarkan kamu dari risiko komplikasi perimenopause, seperti depresi, penyakit jantung, penyakit alzheimer, dan osteoporosis. 

Referensi: 
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Perimenopause.
WebMD. Diakses pada 2019. Perimenopause.
Healthline. Diakses pada 2019. Premenopause, Perimenopause, and Menopause.