Apa Itu Retensi? Kenali Kondisi Medis yang Perlu Diwaspadai
Retensi dalam dunia medis adalah kondisi ketika tubuh menahan zat atau jaringan yang seharusnya dikeluarkan, seperti cairan, urine, atau plasenta.

Daftar Isi:
- Apa Itu Retensi dalam Kesehatan?
- Jenis-Jenis Retensi dalam Kesehatan
- Dampak Retensi Jika Tidak Ditangani
- Cara Mengatasi Retensi
- Kesimpulan
Dalam dunia medis, istilah retensi sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika suatu zat, cairan, atau jaringan tubuh tertahan dan tidak bisa keluar atau berfungsi sebagaimana mestinya.
Retensi bukanlah penyakit tunggal, melainkan gejala atau keadaan klinis yang dapat muncul pada berbagai kondisi, mulai dari retensi cairan, retensi urine, hingga retensi plasenta.
Memahami apa itu retensi sangat penting, karena jika tidak ditangani dengan tepat dapat menimbulkan komplikasi serius.
Apa Itu Retensi dalam Kesehatan?
Secara medis, retensi adalah kondisi ketika tubuh menahan sesuatu yang seharusnya dikeluarkan atau dilepaskan.
Retensi bisa berupa cairan, jaringan, maupun benda asing dalam tubuh.
Kondisi ini biasanya menandakan adanya masalah pada organ atau sistem tertentu, dan penanganannya disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya.
Jenis-Jenis Retensi dalam Kesehatan
Berikut ini jenis-jenis retensi dalam kesehatan:
1. Retensi Cairan (Edema)
Retensi cairan terjadi ketika tubuh menahan terlalu banyak air atau natrium, sehingga menyebabkan pembengkakan pada bagian tubuh tertentu, seperti kaki, pergelangan, atau tangan.
Kondisi ini bisa disebabkan oleh gangguan ginjal, jantung, hati, atau faktor hormonal.
2. Retensi Urine
Retensi urine adalah kondisi ketika kandung kemih tidak dapat mengosongkan urin sepenuhnya.
Gejalanya berupa sulit buang air kecil, rasa penuh pada perut bagian bawah, atau nyeri.
Retensi urine dapat disebabkan oleh pembesaran prostat, infeksi saluran kemih, atau kerusakan saraf.
3. Retensi Plasenta
Retensi plasenta terjadi ketika sebagian atau seluruh plasenta tidak keluar dari rahim setelah proses persalinan.
Kondisi ini berbahaya karena dapat menyebabkan perdarahan hebat (postpartum hemorrhage) dan infeksi. Penanganan medis segera sangat dibutuhkan.
4. Retensi Infus
Retensi infus adalah kondisi di mana cairan infus tertahan atau tidak mengalir dengan baik ke dalam pembuluh darah.
Hal ini bisa dipicu oleh posisi jarum yang tidak tepat, pembekuan darah di sekitar kateter, atau masalah teknis saat pemasangan infus.
Dampak Retensi Jika Tidak Ditangani
Retensi yang dibiarkan tanpa perawatan bisa menimbulkan komplikasi, seperti:
- Pembengkakan parah dan nyeri.
- Gangguan fungsi organ (ginjal, jantung, atau hati).
- Risiko infeksi serius, terutama pada retensi plasenta.
- Penurunan kualitas hidup karena rasa tidak nyaman berkepanjangan.
Berikut ini cara Atasi Retensi Cairan: Tips Mudah dan Efektif!
Cara Mengatasi Retensi
Penanganan retensi bergantung pada penyebabnya, misalnya:
- Retensi cairan: Pembatasan asupan garam, obat diuretik, atau terapi untuk penyakit yang mendasarinya.
- Retensi urine: Penggunaan kateter, operasi prostat, atau terapi obat.
- Retensi plasenta. Tindakan manual oleh dokter atau operasi jika diperlukan.
- Retensi infus. Mengganti posisi jarum atau memasang infus baru.
Kesimpulan
Retensi dalam konteks kesehatan adalah kondisi ketika tubuh menahan sesuatu yang seharusnya dilepaskan, seperti cairan, urine, atau plasenta.
Kondisi ini dapat berbahaya jika tidak ditangani dengan tepat, sehingga penting untuk segera mencari pertolongan medis bila muncul gejala mencurigakan.
Dengan diagnosis dan terapi yang tepat, komplikasi serius akibat retensi bisa dicegah.
Konsultasi dengan dokter kini lebih mudah dan praktis melalui Halodoc.
Selain itu, kamu juga bisa mendapatkan obat atau produk kesehatan lainnya yang kamu butuhkan di Toko Kesehatan Halodoc.
Produknya 100% asli original dan tepercaya. Tak perlu keluar rumah, produk diantar dalam waktu 1 jam.
Yuk, download Halodoc sekarang juga!


