• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Apakah Kista Epididimis Bisa Sebabkan Komplikasi?

Apakah Kista Epididimis Bisa Sebabkan Komplikasi?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Para pria tidak boleh menyepelekan bila merasakan adanya benjolan pada testis. Pasalnya, bisa saja itu adalah gejala dari kista epididimis. Sebenarnya kista epididimis bersifat non-kanker dan tidak berbahaya. Namun, apakah kista epididimis bisa menyebabkan komplikasi? Yuk, cari tahu jawabannya di sini. 

Apa Itu Kista Epididimis?

Kista epididimis adalah benjolan yang berisi cairan yang muncul di dalam saluran epididimis. Epididimis sendiri merupakan saluran panjang yang mengelilingi bagian atas dan belakang kedua testis pria. Saluran ini berperan sebagai tempat penyimpanan dan pematangan sperma. Benjolan kista epididimis mungkin berisi sperma yang sudah mati. Kista ini biasanya terasa seperti benjolan yang keras dan kencang di dalam skrotum di atas testis.

Kista epididimis biasanya tidak menimbulkan rasa sakit. Namun, bila ukuran kista sudah semakin membesar, kista epididimis akan menyebabkan testis terasa nyeri. Kebanyakan kista epididimis juga bersifat jinak atau bukan kanker. Namun, kamu tetap disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter bila kamu merasakan adanya benjolan di dekat penis atau skrotum.

Kista epididimis lebih sering dialami oleh orang-orang yang berusia sekitar 40 tahun dibanding pada anak-anak yang belum memasuki masa pubertas. Namun, pengidap kista epididimis seringkali tidak menyadari bahwa terdapat kista pada saluran epididimisnya.

Apa Penyebab Kista Epididimis?

Para dokter belum mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan kista epididimis bisa terjadi. Kista epididimis seringkali terbentuk tanpa alasan yang jelas. Namun, kista ini sangat umum terjadi. Sekitar 3 dari 10 pria mengalami kista epididimis.

Berbagai kondisi juga diduga dapat memicu terjadinya kista epididimis, antara lain:

  • Penyakit ginjal polikistik.

  • Penyakit Von Hippel-Lindau.

  • Cystic fibrosis.

  • Konsumsi obat pengganti hormon diethylstilbestrol saat masih berada dalam kandungan.

Baca juga: Penuaan Jadi Penyebab Umum Kista Epididimis pada Pria

Kenali Gejala dan Cara Mendiagnosis Kista Epididimis

Kista epididimis seringkali tidak menimbulkan gejala. Karena itulah, kebanyakan pengidap tidak menyadari bahwa dirinya memiliki kista tersebut. Pengidap mungkin hanya akan merasakan benjolan atau massa ekstra di atas testis di salah satu sisi skrotum. Namun, seiring ukuran kista yang membesar, pengidap mungkin akan merasakan rasa sakit, bengkak, atau kemerahan pada skrotum maupun perasaan seperti ada tekanan di pangkal penis. 

Saat memeriksakan diri ke dokter, dokter mungkin juga perlu melakukan beberapa tes untuk memastikan bahwa benjolan yang tumbuh adalah kista dan bukannya tumor. Dokter pertama-tama akan melakukan pemeriksaan fisik, kemudian dilanjutkan dengan transiluminasi atau ultrasound

Transiluminasi dilakukan dengan cara menyinari skrotum pengidap. Bila benjolan adalah kista epididimis, maka cahaya akan bersinar menembus benjolan. Namun, bila tidak, maka sinar tidak akan menembus. Sedangkan ultrasonografi adalah pemeriksaan selanjutnya bila transiluminasi tidak menunjukkan cairan. Tes ini menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menampilkan gambar kondisi dalam tubuh di layar.

Baca juga: Mr. P Terasa Sakit, Mungkin Saja Terkena 7 Penyakit Ini

Adakah Komplikasi dari Kista Epididimis?

Kabar baiknya, kista epididimis tidak menimbulkan komplikasi. Bahkan, keberadaan kista ini juga tidak berdampak pada kesuburan pria. Meski demikian, bila ukuran kista bertambah besar dan menyebabkan ketidaknyamanan, kamu disarankan menemui dokter untuk mendapatkan penanganan.

Baca juga: Terjadi pada Pria, Kista Epididimis Tidak Pengaruhi Kesuburan

Pengobatan Kista Epididimis

Kebanyakan kista epididimis tidak memerlukan penanganan khusus. Dokter mungkin hanya akan meresepkan obat pereda nyeri untuk membuat kamu lebih nyaman. Selain itu, ada juga tindakan aspirasi yang dapat dilakukan untuk membantu meringankan rasa sakit dan tekanan kista pada testis. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan jarum ke dalam kista untuk menghilangkan sebagian cairan.

Namun, kista epididimis bisa terbentuk kembali. Bila hal itu terjadi, dokter akan melakukan prosedur yang disebut skleroterapi. Prosedur ini dilakukan dengan mengeluarkan sebagian cairan dari spermatokel, lalu menggunakan zat yang menyebabkan kantung dipenuhi jaringan parut. Jaringan ini dapat menurunkan risiko kista epididimis kembali lagi. Namun, prosedur ini bisa merusak epididimis. Dokter hanya akan menyarankan pilihan ini bila pengidap tidak ingin memiliki anak.

Meskipun tidak ada komplikasi, tetapi kamu tetap dianjurkan untuk memeriksakan diri bila merasakan ada benjolan yang tidak biasa pada testis. Kamu juga bisa buat janji dengan dokter untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit pilihanmu melalui Halodoc. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. What is a Spermatocele or Spermatic Cyst?
UW Health. Diakses pada 2019. Spermatocele (Epididymal Cyst).