• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Benarkah Anak yang Tinggal di Asrama Rentan Terkena Scabies?

Benarkah Anak yang Tinggal di Asrama Rentan Terkena Scabies?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Scabies atau kudis merupakan masalah umum pada kulit yang disebabkan oleh tungau kecil yang disebut Sarcoptes scabiei. Tungau berusaha menggali ke dalam kulit, dan meninggalkan kotorannya. Tungau betina bertelur di terowongan kecil yang mereka buat dalam kulit. Inilah yang menyebabkan benjolan dan lepuh gatal kecil. 

Gatal dan ruam akibat kudis disebabkan oleh hipersensitif terhadap tungau, tinja, dan telurnya. Perlu orangtua ketahui bahwa gangguan kudis ini menular melalui kontak dekat dengan seseorang terinfeksi. Anak-anak merupakan yang paling umum memiliki gangguan kudis ini karena penularan sesama teman. 

Penularan Scabies pada Anak

Penular scabies terjadi secara kontak fisik langsung, seperti berpegangan tangan atau berpelukan. Tungau dapat hidup sekitar 2-3 hari dalam pakaian, tempat tidur, atau debu. Jadi, orang bisa mendapatkan scabies dengan berbagi pakaian, handuk, atau tempat tidur yang digunakan oleh seseorang yang memiliki scabies. Kegiatan penularan ini umum terjadi di asrama, penitipan anak, dan panti jompo. 

Baca juga: Berikut Penyebab & Cara Mengatasi Gatal Selangkangan

Kudis merupakan kondisi umum yang ditemukan hampir di seluruh dunia, memengaruhi orang-orang dari semua ras dan kelas sosial. Kudis dapat dengan mudah menyebar di bawah kondisi yang ramai di mana kontak tubuh dan kulit yang dekat adalah umum. Terutama pada tempat-tempat yang biasa dihinggapi kudis. 

Pengobatan kudis dapat dilakukan dengan bertanya pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Dokter biasanya akan meresepkan krim atau losion untuk membunuh tungau. Oleskan krim ke kulit di seluruh tubuh (dari leher ke bawah), bukan hanya daerah dengan ruam. 

Pada bayi dan anak kecil, kenakan juga krim pada wajah (hindari mulut dan mata), kulit kepala, dan telinga. Potong kuku anak dan berikan juga obat di ujung jarinya. Sebagian besar perawatan kudis harus dilakukan selama 8-12 jam sebelum mandi. Jadi, sebaiknya gunakan krim pada malam haris akan tidur, dan cuci pada pagi hari. 

Apabila pengobatan efektif, seharusnya tidak akan muncul ruam atau lubang baru setelah 24-48 jam. Perawatan mungkin perlu diulangi dalam 1-2 minggu. Mungkin perlu 2-6 minggu setelah perawatan yang berhasil sebelum gatal dan ruam hilang. Namun, terkadang dokter memberikan resep obat oral (diminum) sebagai pengganti losion kulit untuk mengobati kudis pada anak yang lebih besar. Dokter juga mungkin merekomendasikan antihistamin atau krim steroid, seperti hidrokortison, untuk membantu mengatasi rasa gatal. 

Baca juga: Inilah 5 Penyakit yang Mudah Menyerang Kulit

Cara Mencegah Terjadinya Scabies pada Anak

Anggota rumah dan orang yang pernah kontak dekat dengan orang yang mengalami kudis harus mendapatkan perawatan pada saat yang sama, bahkan jika mereka tidak memiliki gejala. Ini akan membantu mencegah penyebaran scabies. 

Cuci pakaian, seprai, dan handuk dalam air panas dan keringkan di tempat yang panas. Masukkan boneka binatang dan barang-barang lainnya yang tidak dapat kamu cuci dalam kantong plastik tertutup selama minimal 3 hari. Bersihkan setiap ruangan rumah, lalu buang kantong penyedot debu. 

Selain itu, cara terbaik untuk mencegah scabies adalah dengan menghindari kontak langsung kulit dengan orang yang diketahui mengalami scabies atau kudis. Lebih baik untuk menghindari pakaian atau tempat tidur yang tidak dicuci setelah digunakan orang yang mengalami kudis. 

Baca juga: 5 Pengobatan Alami untuk Menyembuhkan Kudis

Tungau kudis dapat hidup selama tiga hingga empat hari setelah jatuh dari tubuh. Pastikan untuk mencuci semua barang yang terkena (pakaian, seprai, handuk, bantal) dalam air panas bersuhu 50 derajat Celcius. Setelah itu keringkan dalam pengering dengan panas sangat tinggi selama setidaknya 10 hingga 30 menit. 

Referensi:
Kids Health. Diakses pada 2020. Scabies.
Caring for Kids. Diakses pada 2020. Scabies.