• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Cara Mencegah Meningitis di Usia Remaja

Cara Mencegah Meningitis di Usia Remaja

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta - Glenn Fredly dan Olga Syahputra adalah dua selebriti Indonesia yang wafat karena mengidap penyakit meningitis. Penyakit ini menyebabkan peradangan selaput di sekitar otak dan sumsum tulang belakang yang disebut meninges. Meningitis ternyata tidak hanya bisa terjadi pada orang dewasa, remaja juga cukup rentan terserang meningitis.

Sebagian besar kasus meningitis terjadi karena bakteri atau virus, tetapi beberapa dapat disebabkan oleh obat atau penyakit tertentu. Banyak bakteri dan virus yang menyebabkan meningitis, dan jika tidak diobati dengan benar penyakit ini bisa mengancam jiwa. Meningitis, baik yang disebabkan oleh bakteri atau virus dapat mudah menyebar seperti kebanyakan infeksi umum lainnya. Seseorang yang terinfeksi bisa menyebarkannya melalui sentuhan, batuk, atau bersin. Namun jangan khawatir, ada banyak upaya pencegahan meningitis yang bisa dilakukan. 

Baca juga: Waspada, Ini Penularan Meningitis yang Harus Diketahui

Pencegahan Meningitis

Beberapa langkah pencegahan meningitis yang bisa dilakukan oleh remaja, antara lain:

  • Vaksinasi

Imunisasi rutin dapat membantu mencegah seseorang terserang meningitis. Vaksin Hib, campak, gondok, polio, dan pneumokokus adalah beberapa jenis vaksin yang bisa menghindarkan remaja dari meningitis. Meskipun meningitis bakteri bisa sangat berbahaya, namun peluang untuk terinfeksi sebetulnya cukup rendah.

Namun, karena bisa sangat serius, dokter sekarang merekomendasikan agar semua remaja divaksinasi terhadap meningitis meningokokus. Selain itu, di Amerika Serikat banyak perguruan tinggi yang mewajibkan mahasiswanya untuk mendapatkan vaksin meningitis.

  • Menghindari Kuman

Salah satu cara ampuh dalam menghindari kuman adalah menjaga kebersihan pribadi. Cuci tangan dengan benar dan sering, terutama sebelum makan dan setelah menggunakan kamar mandi. Hindari juga kontak dekat dengan seseorang yang menunjukkan gejala penyakit. Caranya dengan tidak berbagi makanan, minuman, atau peralatan makan.

Pada beberapa kasus, dokter bisa saja meresepkan antibiotik kepada siapa saja yang telah melakukan kontak dekat dengan seseorang yang menderita meningitis bakteri untuk membantu mencegah infeksi.

Jika kamu merasakan gejala mirip meningitis seperti muntah, sakit kepala, kelelahan atau kebingungan, leher kaku, ruam, dan demam, segera periksakan diri ke rumah sakit terdekat. Apabila kamu tak ingin antre lama pun, kamu bisa buat janji sebelumnya dengan dokter lewat aplikasi Halodoc

Baca juga: Vaksin dan Gaya Hidup Sehat, Kunci Pencegahan Meningitis

Diagnosis dan Perawatan untuk Meningitis

Jika seorang remaja diduga mengidap meningitis, dokter akan memintanya melakukan tes. seperti misalnya pungsi lumbal (keran tulang belakang) untuk mengumpulkan sampel cairan tulang belakang. Tes ini menunjukkan tanda-tanda peradangan dan apakah infeksi tersebut terjadi karena virus atau bakteri.

Sebagian besar kasus meningitis akibat virus berakhir dalam 7 hingga 10 hari. Beberapa orang mungkin perlu dirawat di rumah sakit, meskipun sebagian besar remaja bisa dirawat di rumah jika mereka tidak menunjukkan gejala yang parah. Perawatan untuk meringankan gejala termasuk istirahat, cairan, dan obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas.

Sementara untuk meningitis bakteri, dokter akan segera memulai antibiotik intravena (IV). Cairan dapat diberikan untuk menggantikan mereka yang hilang karena demam, berkeringat, muntah, dan nafsu makan yang buruk.

Baca juga: Waspada, Infeksi Sakit Gigi Bisa Sebabkan Meningitis

Komplikasi Meningitis pada Remaja

Pada kondisi tertentu, remaja yang mengidap meningitis perlu perawatan ekstra untuk mencegah komplikasi. Remaja yang alami syok atau tekanan darah rendah mungkin mendapatkan lebih banyak cairan dan obat-obatan untuk meningkatkan tekanan darah. Beberapa mungkin memerlukan oksigen ekstra atau ventilasi mekanis jika mengalami kesulitan bernapas.

Komplikasi meningitis bakteri bisa sangat parah, termasuk masalah pada saraf seperti gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, kejang, dan ketidakmampuan belajar. Karena gangguan pendengaran adalah komplikasi umum, mereka yang pernah mengalami meningitis bakteri juga harus menjalani tes pendengaran setelah sembuh.

Jantung, ginjal, dan kelenjar adrenal bisa terganggu akibat meningitis. Meskipun beberapa orang bisa mengalami masalah saraf yang bertahan lama, sebagian besar remaja yang mendapatkan diagnosis dan perawatan yang cepat dan tepat bisa pulih sepenuhnya.

Referensi:
Kids Health. Diakses pada 2020. Meningitis (for Teens).
Meningitis Research Foundation. Diakses pada 2020. Meningitis in Young Adults.
WebMD. Diakses pada 2020. Teens and Meningitis.