Advertisement

Ciri-Ciri Mata Minus pada Orang Dewasa dan Anak-Anak

8 menit
Ditinjau oleh  dr. Budiyanto, MARS   22 Oktober 2025

Mata minus pada orang dewasa seringkali berkembang secara perlahan. 

Ciri-Ciri Mata Minus pada Orang Dewasa dan Anak-AnakCiri-Ciri Mata Minus pada Orang Dewasa dan Anak-Anak

DAFTAR ISI

  1. Ketahui Ciri-Ciri Mata Minus pada Orang Dewasa
  2. Ini Ciri-Ciri Mata Minus pada Anak
  3. Perbedaan Ciri Mata Minus pada Anak-anak dan Orang Dewasa
  4. Tips Merawat Mata Minus
  5. Bagaimana Diagnosis Mata Minus Dilakukan?
  6. Pencegahan Mata Minus
  7. Kapan Harus ke Dokter?
  8. Hubungi Dokter Spesialis Mata di Halodoc
  9. FAQ

Mata minus atau miopia merupakan gangguan penglihatan yang cukup umum dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa. 

Kondisi ini menyebabkan pengidapnya kesulitan melihat objek dalam jarak jauh, namun masih bisa melihat jelas pada jarak dekat.

Penting untuk mengenali tanda-tanda mata minus sejak dini, karena perawatan yang tepat bisa membantu memperlambat perkembangannya. Yuk, kenali ciri-cirinya!

Ketahui Ciri-Ciri Mata Minus pada Orang Dewasa

Mata minus pada orang dewasa seringkali berkembang secara perlahan dan mungkin tidak langsung disadari. 

Namun, ada beberapa tanda yang bisa menjadi petunjuk awal bahwa penglihatan kamu mulai terganggu:

  • Penglihatan buram saat melihat jauh. Kamu mungkin kesulitan membaca papan penunjuk jalan, layar bioskop, atau tulisan pada papan dari kejauhan.
  • Menyipitkan mata untuk fokus. Kebiasaan ini menjadi upaya otomatis untuk memperjelas objek yang berada jauh.
  • Sakit kepala. Penglihatan yang terus dipaksakan bisa menyebabkan otot mata bekerja keras, sehingga menimbulkan nyeri kepala, terutama di area dahi.
  • Mata cepat lelah. Aktivitas visual jarak jauh seperti mengemudi atau menonton pertandingan di stadion bisa terasa melelahkan.
  • Kesulitan melihat di malam hari. Beberapa pengidap miopia mengalami kondisi night myopia, yaitu ketajaman penglihatan menurun dalam pencahayaan rendah.

Jika kamu merasakan gejala-gejala tersebut, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan ke dokter mata untuk memastikan kondisi mata dan menentukan apakah kamu membutuhkan kacamata atau terapi lain.

Ini Ciri-Ciri Mata Minus pada Anak

Anak-anak belum tentu bisa menyampaikan dengan jelas jika penglihatannya terganggu. 

Maka dari itu, penting bagi orang tua untuk memperhatikan tanda-tanda berikut yang bisa menjadi indikator awal miopia:

  • Sering menyipitkan mata. Anak cenderung menyipitkan mata saat melihat papan tulis atau objek di kejauhan.
  • Duduk terlalu dekat dengan layar. Baik saat menonton TV maupun belajar dari gawai, anak lebih nyaman berada dalam jarak sangat dekat.
  • Mengeluh sakit kepala atau mata lelah. Apalagi setelah aktivitas membaca atau menonton dalam waktu lama.
  • Kesulitan membaca papan tulis. Anak mungkin sering menoleh ke teman sebelah untuk bertanya, atau mencatat salah karena tidak bisa membaca jelas dari jauh.
  • Sering mengucek mata. Ini bisa jadi tanda ketidaknyamanan visual akibat usaha melihat objek jauh..

Menurut American Academy of Ophthalmology (AAO), miopia biasanya mulai terdeteksi pada usia sekolah dasar dan cenderung memburuk seiring bertambahnya usia jika tidak ditangani.

Ibu bisa cari tahu juga, Ini Tanda Mata Minus pada Anak yang Perlu Diwaspadai.

Perbedaan Ciri Mata Minus pada Anak-anak dan Orang Dewasa

Ciri-ciri mata minus dapat berbeda antara anak-anak dan orang dewasa. Pada anak-anak, beberapa tanda mungkin lebih terlihat:

  • Sering menggosok mata
  • Menyipitkan mata saat melihat objek jauh
  • Kesulitan membaca tulisan di papan tulis
  • Tidak tertarik pada aktivitas yang memerlukan penglihatan jarak jauh

Sementara pada orang dewasa, ciri-ciri mata minus mungkin lebih terasa sebagai:

  • Penglihatan kabur saat mengemudi
  • Sakit kepala setelah membaca atau bekerja di depan komputer
  • Kesulitan melihat rambu lalu lintas

Tips Merawat Mata Minus

Perawatan mata minus tidak hanya fokus pada koreksi penglihatan melalui kacamata atau lensa kontak, tetapi juga melibatkan gaya hidup sehat dan pencegahan agar minus tidak bertambah. 

Berikut ini tips yang bisa kamu terapkan:

  • Gunakan kacamata atau lensa kontak sesuai resep. Pemakaian alat bantu penglihatan yang sesuai sangat penting agar mata tidak bekerja lebih keras.
  • Lakukan pemeriksaan mata rutin. Idealnya, pemeriksaan dilakukan setiap 1–2 tahun sekali untuk memantau perkembangan miopia.
  • Batasi penggunaan gadget. Terlalu lama menatap layar bisa memperburuk mata minus, terutama pada anak-anak.
  • Pastikan pencahayaan cukup saat membaca atau belajar. Hindari membaca dalam kondisi gelap atau terlalu silau.
  • Konsumsi makanan sehat untuk mata. Asupan vitamin A, C, E, lutein, dan omega-3 dari sayur, buah, dan ikan berperan menjaga kesehatan retina.
  • Hindari kebiasaan membaca terlalu dekat. Jarak ideal adalah 30–40 cm dari mata ke buku atau layar.

Apabila mata minus sudah parah (lebih dari -6.00 dioptri), dokter mata juga bisa merekomendasikan prosedur bedah refraktif seperti LASIK. 

Akan tetapi, prosedur ini hanya cocok untuk usia dewasa dengan kondisi mata yang sudah stabil dan bebas dari penyakit mata lainnya.

Bagaimana Diagnosis Mata Minus Dilakukan?

Diagnosis mata minus dilakukan melalui pemeriksaan mata komprehensif oleh dokter spesialis mata atau optometry. Beberapa tes yang mungkin dilakukan meliputi:

  • Pemeriksaan Tajam Penglihatan (Visus): Menggunakan Snellen chart untuk mengukur kemampuan melihat pada jarak tertentu.
  • Refraksi: Menentukan resep lensa yang tepat untuk mengoreksi penglihatan.
  • Pemeriksaan Kesehatan Mata: Memeriksa kondisi umum mata untuk mendeteksi masalah lain.

Pencegahan Mata Minus

Meskipun tidak semua kasus mata minus dapat dicegah, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risiko:

  • Batasi Waktu Layar: Kurangi waktu yang dihabiskan untuk melihat layar komputer, ponsel, atau televisi.
  • Jaga Jarak Pandang: Saat membaca atau menggunakan perangkat elektronik, pastikan jarak antara mata dan objek sekitar 30-40 cm.
  • Istirahat yang Cukup: Berikan mata istirahat setiap 20 menit dengan melihat objek yang jauh selama 20 detik (aturan 20-20-20).
  • Pemeriksaan Mata Rutin: Lakukan pemeriksaan mata secara berkala, terutama jika memiliki riwayat keluarga dengan mata minus.
  • Aktivitas di Luar Ruangan: Penelitian menunjukkan bahwa menghabiskan waktu di luar ruangan dapat membantu mengurangi risiko perkembangan miopia pada anak-anak.

Kapan Harus ke Dokter?

Disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter mata jika mengalami gejala-gejala berikut:

  • Penglihatan tiba-tiba kabur
  • Sakit mata yang parah
  • Melihat lingkaran cahaya di sekitar lampu
  • Gangguan penglihatan lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari

Pemeriksaan mata rutin, terutama jika memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga dengan mata minus, sangat penting untuk deteksi dini dan penanganan yang tepat.

Hubungi Dokter Spesialis Mata di Halodoc

Jika kamu atau orang terdekat mengalami mata minus yang mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera hubungi dokter di Halodoc.

Dokter spesialis mata berikut sudah berpengalaman lebih dari 10 tahun, sehingga mereka mampu memberikan penanganan yang tepat.

Tak perlu khawatir, sebab mereka telah menerima ulasan yang baik dari pasien-pasien sebelumnya yang mereka tangani.

Berikut ini dokter yang bisa kamu hubungi:

1. dr. Febria Restissa Sp.M

Kamu bisa berkonsultasi pada dr. Febria Restissa Sp.M, seorang lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya pada tahun 2011 dan 2018. 

Ia juga tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) dengan nomor STR 1621603323130387 dan kini menjalani praktik di Tangerang, Banten. 

Dengan pengalaman sebagai dokter mata selama 14 tahun, dr. Febria Restissa Sp.M mampu menjawab pertanyaan kamu seputar penanganan gangguan mata, termasuk mata minus. 

Tak hanya itu, ia juga bisa memberikan konsultasi seputar infeksi mata, gangguan retina, mata bintitan, maupun penglihatan buram.

Chat dr. Febria Restissa Sp.M mulai dari Rp 59.000,- di Halodoc.

2. dr. Cynthia Dewi M M.Biomed, Sp.M

Dokter rekomendasi berikutnya adalah dr. Cynthia Dewi M M.Biomed, Sp.M, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Udayana pada tahun 2007 dan 2019. 

Saat ini, dr. Cynthia Dewi M M.Biomed, Sp.M berpraktik di Tabanan, Bali, dan merupakan anggota dari Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI). 

Dengan pengalaman selama 17 tahun, dr. Cynthia Dewi M M.Biomed, Sp.M dapat memberikan saran tentang perawatan mata minus secara akurat. 

Selain itu, dr. Cynthia Dewi M M.Biomed, Sp.M juga mampu memberikan konsultasi mengenai mata bintitan, pembuluh darah pecah, penglihatan buram, dan infeksi mata.

Chat dr. Cynthia Dewi M M.Biomed, Sp.M mulai dari Rp 59.000,- di Halodoc

Dokter spesialis mata tersebut siap membantu kamu dalam mengatasi gangguan mata minus yang kamu alami.

Dengan Halodoc, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter kapan saja dan di mana saja.

Tak perlu khawatir jika dokter sedang offline atau tidak tersedia. Sebab, kamu tetap bisa membuat janji konsultasi di lain waktu melalui aplikasi Halodoc.

Tunggu apa lagi? Ayo, hubungi dokter di Halodoc sekarang juga!

Referensi: 
American Academy of Ophthalmology. Diakses pada 2025. Myopia Control in Children. 
Cleveland Clinic. Diakses pada 2025. Myopia (Nearsightedness).
WebMD. Diakses pada 2025. What Is Myopia (Nearsightedness)?.
World Health Organization. Diakses pada 2025. The Impact of Myopia and High Myopia.

FAQ

1. Apa gejala awal mata minus?

Gejala awal mata minus (rabun jauh/miopia) bisa muncul secara perlahan dan kadang tidak langsung disadari. Beberapa tandanya adalah:

  • Pandangan kabur saat melihat jauh, misalnya tulisan di papan tulis atau rambu jalan.
  • Sering menyipitkan mata untuk mencoba melihat lebih jelas.
  • Kesulitan melihat saat malam hari (night myopia).
  • Mata terasa lelah atau sakit kepala setelah melihat benda jauh terlalu lama.
  • Anak-anak bisa terlihat duduk terlalu dekat dengan TV atau membaca terlalu dekat.

2. Cara mengetahui apakah mata minus atau tidak?

Untuk memastikan apakah kamu mengalami mata minus, beberapa cara yang bisa dilakukan:

  • Perhatikan gejalanya, seperti pandangan buram saat melihat jauh atau sering menyipitkan mata.
  • Lakukan tes penglihatan, baik secara online maupun di optik.
  • Periksa ke dokter mata atau optometris untuk tes ketajaman visual (visus) dan refraksi mata guna mendapatkan hasil yang akurat.

3. Apa ciri-ciri mata lelah karena HP?

Paparan layar HP yang terlalu lama bisa memicu kondisi yang disebut Digital Eye Strain atau Computer Vision Syndrome. Gejalanya meliputi:

  • Mata terasa kering, perih, atau panas
  • Pandangan kabur atau tidak fokus sesaat
  • Mata berair atau sebaliknya—sangat kering
  • Sakit kepala atau rasa berat di area dahi dan sekitar mata
  • Leher dan bahu terasa pegal, terutama setelah lama menatap layar
  • Sensitivitas terhadap cahaya dan sulit melihat setelah menatap layar terlalu lama.