• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Gula Pasir dengan Gula Cair, Manakah yang Lebih Berbahaya?

Gula Pasir dengan Gula Cair, Manakah yang Lebih Berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Dengan sendirinya, mengonsumsi semua jenis gula secara berlebihan berdampak buruk bagi kesehatan. Namun, gula ada banyak jenisnya. Dua yang sering digunakan adalah gula cair dan gula pasir. Namun, manakah yang lebih buruk bagi kesehatan antara gula cair dan gula pasir? 

Ternyata, meski lebih fleksibel untuk diolah menjadi campuran minuman, gula cair bisa dikatakan lebih buruk dari gula pasir, lho. Apa yang jadi alasannya? Simak pembahasannya setelah ini, ya!

Baca juga: Sering Sarapan Sereal, Baik untuk Kesehatan Tubuh?

Alasan Gula Cair Lebih Buruk dari Gula Pasir

Gula cair adalah gula yang berbentuk cair dan terkonsentrasi. Sebenarnya, baik gula cair atau gula pasir sama-sama bisa menimbulkan masalah kesehatan, jika dikonsumsi terlalu banyak. Jadi, hal yang benar-benar menentukan adalah seberapa banyak gula yang kamu konsumsi.

Namun, ada beberapa alasan yang menyebabkan gula cair lebih berisiko menyebabkan masalah kesehatan, dibanding gula pasir. Pertama, gula cair sering tersembunyi. Misalnya, hampir setiap minuman kemasan dan sajian di tempat makan memiliki kandungan gula yang cukup tinggi, yaitu sedikitnya 100 kalori atau sekitar 20-30 gram gula per 350 mililiter. 

Gula cair pada minuman biasanya merupakan gula tambahan, tetapi justru memiliki kadar yang lebih tinggi dari minuman dengan bahan dasar susu atau buah yang sudah memiliki kandungan jenis gula laktosa dan fruktosa.

Kedua, gula cair lebih mungkin menyebabkan kecanduan manis. Meski kalorinya cukup tinggi, gula pada minuman tidak menyebabkan rasa kenyang, tetapi justru meningkatkan keinginan makan lebih banyak. Selain itu, tubuh dan otak juga tidak merespons minuman manis sama dengan merespon makanan manis. 

Baca juga: Anak Lebih Suka Makan Fast Food, Ibu Harus Apa?

Akibatnya, kamu mungkin dapat tetap merasa lapar meskipun batasan kalori harian sudah terpenuhi. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di International Journal of Obesity and Related Metabolic Disorders, membuktikan hal tersebut dengan melakukan percobaan konsumsi 450 kalori dari jelly bean dan minuman bersoda. 

Peserta penelitian yang mengonsumsi makanan manis dalam bentuk jelly bean cenderung merasa lebih kenyang dan makan lebih sedikit, sedangkan yang meminum soda tidak merasa kenyang dan lebih banyak dan pada akhirnya lebih banyak mengonsumsi kalori.

Lantas, apakah konsumsi gula cair benar-benar berbahaya? Tentu tidak bisa dibilang seperti itu juga. Gula cair pada minuman manis akan berbahaya jika kamu tidak mengendalikan pola konsumsi tinggi gula secara keseluruhan. Obesitas dan peningkatan kadar gula darah akan lebih mungkin terjadi jika mengonsumsi karbohidrat sederhana seperti glukosa berlebihan.

Baca juga: Alasan Nanas Bisa Jadi Penyebab Keguguran

Sebaliknya, gula cair justru tidak berbahaya jika kamu mengimbanginya dengan mengurangi kalori dari makanan sumber karbohidrat lain, seperti nasi dan roti, dan tetap memakan buah dan sayuran. Meski tidak memberikan rasa kenyang, kamu sebaiknya mempertimbangkan untuk menghindari minuman manis atau mengurangi asupan kalori.

Jika dalam satu hari kamu mengonsumsi minuman manis sekitar 600-700 ml, kamu sudah memenuhi sedikitnya ±200 kalori dari kebutuhan harian. Jadi, penting untuk lebih bijak dalam mengonsumsi makanan dan minuman manis, serta mengimbanginya dengan pola makan sehat dan rutin berolahraga.

Jika kamu butuh saran dari ahli soal pengaturan pola makan sehari-hari, kamu bisa download aplikasi Halodoc untuk berbicara dengan dokter gizi, yang siap membantu kamu, kapan dan di mana saja. 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2020. How Does Liquid Sugar Harm Your Body?
Medical Daily. Diakses pada 2020. Liquid Sugar vs. Solid Sugar: Which Is Worse?
International Journal of Obesity and Related Metabolic Disorders. Diakses pada 2020. Liquid versus solid carbohydrate: effects on food intake and body weight.