
Ini Gejala Dishidrosis atau Pompholyx yang Perlu Diwaspadai
Dishidrosis adalah bentuk eksim kronis yang biasanya muncul secara berulang.

DAFTAR ISI
- Apa Itu Dishidrosis atau Pompholyx?
- Waspadai Gejala Dishidrosis
- Cara Mencegah Dishidrosis
- Kapan Harus ke Dokter?
Dishidrosis, juga dikenal sebagai pompholyx atau dyshidrotic eczema, merupakan salah satu jenis eksim yang ditandai dengan munculnya lepuhan kecil berisi cairan di kulit, terutama pada telapak tangan, jari, dan telapak kaki.
Kondisi ini sering kali menyebabkan rasa gatal yang sangat mengganggu, bahkan bisa menimbulkan nyeri bila lepuhan pecah atau kulit menebal.
Meski tidak berbahaya, dishidrosis bisa mengganggu aktivitas sehari-hari jika tidak ditangani dengan tepat.
Apa Itu Dishidrosis atau Pompholyx?
Dishidrosis adalah bentuk eksim kronis yang biasanya muncul secara berulang.
Lepuhan kecil yang timbul biasanya berdiameter 1–2 milimeter, berisi cairan bening, dan dapat berkumpul membentuk area yang lebih luas.
Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, antara lain:
- Stres emosional.
- Alergi, misalnya alergi logam seperti nikel atau kobalt.
- Keringat berlebih di tangan atau kaki.
- Paparan zat iritan, seperti deterjen atau bahan kimia tertentu.
- Cuaca panas dan lembap.
Dishidrosis umumnya tidak menular. Namun, rasa gatal dan perih yang ditimbulkan bisa sangat mengganggu kualitas hidup penderitanya.
Selain itu, penting juga untuk mengetahui 5 Infeksi Kulit yang Rentan Terjadi pada Orang Dewasa.
Waspadai Gejala Dishidrosis
Gejala dishidrosis bisa bervariasi pada setiap orang, tetapi ada beberapa tanda khas yang perlu kamu waspadai, di antaranya:
- Lepuhan kecil berisi cairan. Biasanya muncul di sisi jari, telapak tangan, atau telapak kaki.
- Gatal hebat. Rasa gatal sering kali muncul sebelum lepuhan terlihat jelas.
- Kulit kering, pecah-pecah, atau menebal. Jika kondisi berlanjut, kulit bisa mengelupas dan terasa nyeri.
- Sensasi terbakar. Beberapa orang mengeluhkan rasa panas pada kulit yang terkena.
- Infeksi kulit sekunder. Bila lepuhan pecah dan terbuka, bakteri bisa masuk dan menimbulkan infeksi dengan tanda kemerahan, nyeri, dan nanah.
Gejala ini biasanya berlangsung selama 2–4 minggu, lalu mereda. Namun, pada sebagian orang, dishidrosis bisa kambuh secara berulang.
Cara Mencegah Dishidrosis
Beberapa langkah sederhana dapat membantu mengurangi risiko kambuhnya dishidrosis, antara lain:
- Menghindari kontak langsung dengan sabun keras, deterjen, atau bahan kimia.
- Menggunakan sarung tangan saat mencuci atau membersihkan.
- Menjaga kelembapan kulit dengan pelembap khusus.
- Mengelola stres dengan baik, misalnya melalui relaksasi atau olahraga ringan.
- Menghindari paparan logam penyebab alergi seperti nikel.
Alami eksim? Jangan khawatir, Inilah Obat untuk Mengatasi Eksim yang Kambuh.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera konsultasikan dengan dokter bila kamu mengalami:
- Lepuhan yang luas, nyeri, atau sering kambuh.
- Kulit yang pecah-pecah, berdarah, atau bernanah.
- Gatal hebat yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
- Gejala tidak membaik meski sudah melakukan perawatan mandiri.
Dokter akan melakukan pemeriksaan kulit dan menyesuaikan pengobatan dengan kondisi kamu.
Dengan Halodoc, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter kulit kapan saja tanpa harus keluar rumah.
Tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga!


