• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Lempar Air Keras karena Iseng, Tanda Gangguan Mental?

Lempar Air Keras karena Iseng, Tanda Gangguan Mental?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Belum lama ini, masyarakat dihebohkan dengan berita aksi penyiraman air keras oleh seseorang bernama Vindra Yuniko di kawasan Kebon Jeruk dan Kembangan, Jakarta Barat. Pelaku melakukan penyiraman air keras secara membabi buta dan menyebabkan total 9 orang menjadi korban. Ketika ditanya oleh psikolog, Vindra mengaku aksinya tersebut dilatarbelakangi oleh adanya trauma masa lalu. Ia pernah mengalami kecelakaan saat bekerja yang menyebabkan ia frustasi karena luka akibat kecelakaan tersebut masih dirasakan sampai sekarang. Vindra pun akhirnya melakukan penyiraman air keras agar orang lain bisa merasakan penderitaannya.

Tidak dipungkiri lagi bahwa trauma masa lalu bisa membekas pada seseorang, bahkan sampai menyebabkan gangguan mental. Orang yang mengalami gangguan mental pun juga cenderung melakukan tindakan agresif dan membahayakan orang-orang di sekitar. Lantas, apakah penyiraman air keras yang dilakukan Vindra termasuk tanda-tanda gangguan mental? Yuk, cari tahu jawabannya di bawah ini. 

Memahami Penyakit Mental

Penyakit mental atau yang sering disebut juga gangguan mental merujuk pada berbagai kondisi kesehatan mental. Jadi, tidak selalu berarti gila, tetapi gangguan mental adalah gangguan yang memengaruhi suasana hati, pikiran, dan perilaku seseorang. Contoh penyakit mental, antara lain depresi, gangguan kecemasan, skizofrenia, gangguan makan, dan perilaku adiktif.

Banyak orang yang mengalami masalah kesehatan mental dari waktu ke waktu. Namun, masalah mental dikhawatirkan dapat berkembang menjadi penyakit mental bila pengidap sering merasa stress dan kemampuannya dalam melakukan aktivitas sehari-hari menjadi terganggu.

Penyakit mental dapat membuat pengidapnya merasa sengsara dan menyebabkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, seperti di sekolah, di tempat kerja, ataupun dalam hubungannya dengan orang lain. Namun dalam beberapa kasus, penyakit mental dapat diatasi dengan kombinasi obat-obatan dan terapi bicara (psikoterapi).

Baca juga: 10 Tanda Kalau Kondisi Psikologis Sedang Terganggu

Penyebab dan Faktor Risiko Penyakit Mental

Penyakit mental secara umum disebabkan oleh berbagai faktor genetik dan lingkungan berikut ini:

  • Sifat Bawaan 

Penyakit mental lebih sering terjadi pada orang-orang yang memiliki keluarga dengan penyakit tersebut. Hal ini karena gen-gen tertentu dapat diturunkan dan meningkatkan risiko penyakit mental.

  • Paparan Lingkungan Sebelum Kelahiran

Pernah terpapar racun, alkohol, ataupun obat-obatan selama masih dalam kandungan juga kadang-kadang dikaitkan dengan penyakit mental.

  • Kimia Otak

Neurotransmitter adalah bahan kimia dalam otak yang bertugas membawa sinyal ke bagian lain dari otak dan tubuh kamu. Ketika jaringan saraf yang melibatkan bahan kimia ini terganggu, maka fungsi reseptor saraf dan sistem saraf bisa berubah yang memicu depresi dan gangguan emosional lainnya.

Selain beberapa penyebab di atas, faktor-faktor tertentu juga dapat meningkatkan risiko penyakit mental, antara lain:

  • Situasi kehidupan yang penuh tekanan, seperti masalah keuangan, kematian orang yang dicintai, ataupun perceraian.

  • Penyakit yang sedang diidap, seperti diabetes.

  • Kerusakan otak sebagai akibat dari cedera serius (cedera otak traumatis), seperti pukulan di kepala.

  • Pengalaman traumatik, seperti perang, bencana alam, dan musibah.

  • Penggunaan alkohol atau obat-obatan terlarang.

  • Riwayat masa kanak-kanak yang tidak baik, seperti pernah dilecehkan atau diabaikan.

  • Hanya memiliki sedikit teman atau sedikit hubungan sehat.

  • Penyakit mental sebelumnya.

Pada kasus Vindra Yuniko, pelaku penyiraman air keras di Jakbar, ia pernah mengalami luka robek di bagian kepala akibat kecelakaan kerja tersebut. Selain itu, menurut penuturan psikolog yang mewawancarainya, sejak kecil Vindra juga kurang mendapat perhatian dari kedua orangtuanya. Vindra pun juga mengaku kecanduan miras. Beberapa faktor tersebut sebenarnya dapat meningkatkan risiko Vindra mengalami penyakit mental.

Baca juga: Penjelasan Stres dan Trauma Dapat Menjadi Penyebab Skizofrenia Paranoid

Hubungan Penyakit  Mental dengan Tindak Kekerasan

Lantas, apakah ada hubungannya antara penyakit mental dengan tindak kekerasan? Hubungan di antara kedua hal tersebut sebenarnya cukup rumit. Penelitian menunjukkan bahwa hanya ada sedikit hubungan antara penyakit mental dan kekerasan bila penggunaan narkoba tidak terlibat.

Penyakit mental seperti skizofrenia kadang-kadang dapat dikaitkan dengan perilaku agresif atau kekerasan. Namun, pengidap skizofrenia tidak akan menjadi agresif atau berbahaya bila mereka:

  • Menerima perawatan yang efektif.

  • Tidak menyalahgunakan alkohol atau narkoba.

Pengidap skizofrenia lebih cenderung membahayakan diri sendiri daripada orang lain.

Namun, ada sedikit kemungkinan seseorang yang mengidap penyakit mental menjadi berbahaya bila mereka:

  • Tidak menerima perawatan yang efektif.

  • Memiliki riwayat kekerasan sebelumnya.

  • Penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan lainnya.

  • Sedang mengalami gejala psikotik aktif (dan merespons halusinasi atau delusi).

  • Dipicu oleh rasa takut (misalnya, jika mereka berpikir mereka dalam bahaya).

  • Mengalami gejala psikotik untuk pertama kalinya atau pengalaman yang tidak dikenal.

Pada kasus penyiraman air keras di Jakbar, pelaku juga memiliki kecanduan bermain gim, bahkan sering bermain gim yang bergenre aksi, seperti perang dan konflik. Hal inilah yang memicu pelaku melakukan penyiraman air keras pada korbannya.

Baca juga: WHO: Kecanduan Game Merupakan Gangguan Mental

Jadi, bila kamu memiliki tanda atau gejala penyakit mental, sebaiknya segera temui profesional kesehatan mental atau psikolog. Kamu juga bisa membicarakan masalah yang kamu alami pada psikolog Halodoc untuk membantu meredakan stres kamu, lho. Hubungi dokter melalui fitur Chat with A Doctor dan berbicara melalui Video/Voice Call dan Chat kapan dan di mana saja. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Mental illness.
Better Health Channel. Diakses pada 2019. Mental illness and violence.