21 August 2018

WHO: Kecanduan Game Merupakan Gangguan Mental

kecanduan game

 

Halodoc, Jakarta: Enggak bisa dipungkiri sih, anak zaman now lahir dan tumbuh di era kehidupan yang tak lepas dari peran teknologi. Alhasil, kebiasaan nge-game atau bermain video games merupakan hal yang tak asing dilihat tiap harinya. Nah, yang mesti diwaspadai, ternyata kecanduan game kini digolongkan sebagai gangguan mental, lho. Kok bisa?

Kecanduan, Gangguan Mental?

Main game pada dasarnya memang menyenangkan, mengusir jenuh, hingga bisa mengisi waktu luang. Namun, kalau kegiatan mengasyikan ini sudah menyita banyak waktu, bahkan membuat Si Kecil kecanduan, bisa repot masalahnya.

Pasalnya, World Health Organization (WHO), telah menetapkan bahwa kecanduan game atau game disorder sebagai gangguan mental. Para ahli di WHO menambahkan kecanduan game ke dalam International Statistical Classification of Diseases (ICD).

Baca juga: Anak-anak Sering Main Game? Hati-Hati 7 Dampak Ini

ICD sendiri merupakan sistem yang berisi daftar penyakit beserta gejala, tanda, dan penyebab yang dikeluarkan WHO. Nah, kecanduan game ini kini telah dimasukan para ahli ke dalam daftar disorders due to addictive behavior. Dengan kata lain, penyakit yang disebabkan karena kebiasaan atau kecanduan. Lalu, kecanduan seperti apa sih yang mesti diwaspadai?

Kecanduan game ini bisa dikatakan sebagai penyakit bila memenuhi tiga hal:

- Bila gamer (pemain game) tak bisa mengendalikan kebiasaan bermain game.

- Mulai memprioritaskan game di atas kegiatan lainnya.

- Terus bermain game meski ada konsekuensi negatif yang jelas terlihat.

Nah, ketiga tanda di atas mesti terjadi atau terlihat selama satu tahun sebelum diagnosis dibuat. Untungnya, enggak semua jenis game bersifat adiktif dan bisa menyebabkan gangguan. Pasalnya, kata ahli dari WHO,  nge-game hanya disebut sebagai gangguan mental bila kegiatan itu bisa mengganggu atau merusak kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan, sosial, dan pendidikan.

Kiat Membatasi Anak yang Gemar Nge-game

Menurut penelitian, banyak dampak negatif yang bisa mengancam anak-anak yang sering menghabiskan waktunya bermain video game. Lalu, bagaimana sih cara membatasi anak bermain game?

1. Tidak Ada Komputer di Kamarnya

 

 

Kiat yang satu ini bisa dibilang paling “manjur”. Singkat saja caranya, jangan taruh komputer atau televisi di kamar Si Kecil. Tujuannya jelas, agar memudahkan ibu atau pengasuh anak untuk memantau waktu bermain video game. Jangan salah, anak bisa saja mencuri-curi waktu bermain game di kamarnya tanpa sepengetahuan  orangtua.

Bila Si Kecil bermain game dari smartphone, tablet, atau konsol game portabel, mintalah ia untuk menyimpan dulu alat-alat tersebut selama tidur, makan, atau mengerjakan tugas sekolah. Namun, kalau anak masih “membandel”, kamu bisa kok menyimpan alat-alat tersebut. Lalu ibu bisa memberikannya sebagai reward setelah Si Kecil selesai mengerjakan tugas sekolah.

Baca Juga: Masuk Asian Games 2018, Ini yang Disebut E-Sport

 

2. Pakai Fitur Parental Control

 

Cobalah manfaatkan fitur parental control, sebab cara membatasi anak bermain game juga cukup ampuh melalui kiat ini. Kini sudah hampir di setiap game terdapat fitur yang memperbolehkan dirimu mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan game tersebut. Nah, melalui fitur ini, dirimu bisa mengatur waktu Si Kecil memainkan game tersebut.

3. Tegaskan Peraturan Sebelum Bermain

 

 

Sebelum Si Kecil bermain video game, mintalah dirinya untuk memerhatikan waktu. Lalu, orangtua bisa membuat peraturan terkait durasi permainan. Misalnya, menegaskan dirinya bahwa satu jam dari sekarang ia harus berhenti memainkannya. Dengan begitu, Si Kecil jadi tak bisa beralasan.

Si Kecil punya keluhan kesehatan atau gangguan mental seperti kecanduan game? Enggak perlu panik, kamu bisa lho berdiskusi dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!