
Mengenal Terapi Fokal untuk Kanker Prostat dan Efektivitasnya
Riset terbaru menunjukkan bahwa terapi fokal berpotensi menjadi alternatif pengobatan kanker prostat yang efektif dengan risiko efek samping lebih rendah dibandingkan operasi maupun radioterapi.

DAFTAR ISI
- Apa Itu Terapi Fokal untuk Kanker Prostat?
- Studi 10 Tahun Tunjukkan Hasil yang Menjanjikan
- Mengapa Efek Sampingnya Lebih Rendah?
- Siapa yang Bisa Menjalani Terapi Fokal?
- Mengapa Terapi Ini Belum Banyak Digunakan?
- Apakah Terapi Fokal Akan Mengubah Penanganan Kanker Prostat?
- Apakah Terapi Fokal Sudah Tersedia di Indonesia?
- Kapan Harus Memeriksakan Diri?
Kanker prostat merupakan salah satu jenis kanker yang paling sering menyerang pria. Selama ini, pengobatan utama kanker prostat umumnya meliputi operasi pengangkatan prostat (prostatektomi) atau radioterapi. Kedua terapi tersebut terbukti efektif mengendalikan kanker, tetapi tidak sedikit pasien yang mengalami efek samping, seperti inkontinensia urine dan gangguan fungsi seksual.
Kabar baiknya, sebuah penelitian jangka panjang dari Inggris menunjukkan bahwa terapi fokal (focal therapy) berpotensi menjadi alternatif pengobatan yang sama efektifnya dalam mengendalikan kanker prostat, tetapi dengan risiko efek samping yang lebih rendah.
Lantas, apa itu terapi fokal dan siapa saja yang bisa mendapatkan manfaatnya? Berikut penjelasannya.
Apa Itu Terapi Fokal untuk Kanker Prostat?
Terapi fokal adalah metode pengobatan yang hanya menghancurkan jaringan prostat yang mengandung sel kanker, tanpa mengangkat seluruh kelenjar prostat.
Pendekatan ini berbeda dengan operasi radikal yang mengangkat seluruh prostat atau radioterapi yang memberikan radiasi ke area yang lebih luas.
Dalam praktiknya, terapi fokal dapat dilakukan menggunakan beberapa teknologi, seperti:
- High-Intensity Focused Ultrasound (HIFU), yaitu gelombang ultrasonik berintensitas tinggi yang menghasilkan panas untuk menghancurkan sel kanker.
- Cryotherapy, yaitu teknik pembekuan jaringan kanker menggunakan suhu yang sangat rendah.
Karena hanya menargetkan bagian prostat yang terkena kanker, jaringan sehat di sekitarnya dapat lebih terjaga sehingga risiko komplikasi menjadi lebih kecil.
Simak juga informasi lain mengenai BPH Benign Prostatic Hyperplasia – Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya berikut ini.
Studi 10 Tahun Tunjukkan Hasil yang Menjanjikan
Penelitian yang dipimpin oleh Imperial College London mengikuti hampir 3.500 pria dengan kanker prostat selama 10 tahun setelah menjalani terapi fokal.
Sebagian besar peserta penelitian memiliki kanker prostat dengan risiko sedang hingga tinggi yang masih terbatas di dalam prostat.
Hasilnya menunjukkan bahwa:
- Hanya dua pasien yang meninggal akibat kanker prostat selama masa tindak lanjut 10 tahun.
- Tingkat pengendalian kanker dinilai setara dengan operasi maupun radioterapi.
- Risiko efek samping seperti kebocoran urine dan gangguan fungsi ereksi kurang dari setengah dibandingkan terapi standar.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa terapi fokal mampu memberikan pengendalian kanker dalam jangka panjang tanpa meningkatkan risiko kekambuhan pada pasien yang tepat.
Mengapa Efek Sampingnya Lebih Rendah?
Pada operasi pengangkatan prostat maupun radioterapi, jaringan sehat di sekitar prostat dapat ikut terdampak.
Padahal, di sekitar prostat terdapat saraf dan otot yang berperan penting dalam:
- Mengontrol buang air kecil,
- Mempertahankan fungsi ereksi,
- Menjaga kualitas hidup setelah pengobatan.
Karena terapi fokal hanya menargetkan area kanker, sebagian besar struktur penting tersebut dapat dipertahankan.
Inilah alasan mengapa pasien yang menjalani terapi fokal cenderung memiliki risiko lebih rendah mengalami:
- Inkontinensia urine
- Disfungsi ereksi
- Gangguan kualitas hidup setelah terapi.
Nah, berikut Ini Rekomendasi Dokter Urologi di Halodoc yang bisa dihubungi jika kamu mengalami gangguan saat buang air kecil.
Siapa yang Bisa Menjalani Terapi Fokal?
Meski hasilnya menjanjikan, terapi fokal tidak cocok untuk semua pasien kanker prostat.
Dokter biasanya mempertimbangkan terapi ini pada pasien yang memiliki:
- Kanker yang masih terbatas di dalam prostat,
- Lokasi kanker hanya berada pada satu area tertentu,
- Belum terjadi penyebaran ke organ lain,
- Hasil MRI dan biopsi menunjukkan kanker dapat ditargetkan secara spesifik.
Sebaliknya, terapi fokal umumnya tidak dianjurkan bila kanker:
- Muncul di beberapa bagian prostat sekaligus,
- Sudah menyebar ke luar prostat,
- Memiliki karakteristik yang memerlukan terapi lebih agresif.
Oleh karena itu, pemeriksaan menyeluruh tetap diperlukan sebelum menentukan pilihan terapi.
Mengapa Terapi Ini Belum Banyak Digunakan?
Meskipun telah diperkenalkan lebih dari dua dekade lalu, penggunaan terapi fokal masih relatif terbatas.
Salah satu penyebabnya adalah belum tersedianya bukti jangka panjang mengenai efektivitas dan keamanan terapi ini. Regulator kesehatan sebelumnya juga masih menunggu data yang lebih kuat sebelum merekomendasikannya sebagai terapi rutin.
Hasil penelitian terbaru ini menjadi salah satu bukti penting yang diharapkan dapat mendorong lebih banyak rumah sakit menyediakan terapi fokal bagi pasien yang memenuhi syarat.
Pemerintah Inggris bahkan telah mengalokasikan pendanaan untuk memperluas layanan terapi fokal di sejumlah pusat kesehatan.
Apakah Terapi Fokal Akan Mengubah Penanganan Kanker Prostat?
Para peneliti menilai terapi fokal berpotensi mengubah pendekatan pengobatan kanker prostat di masa depan.
Selain mampu mengurangi efek samping, terapi ini juga dapat mendukung program skrining kanker prostat yang lebih luas.
Selama ini, salah satu kekhawatiran terhadap skrining massal adalah risiko pasien menjalani terapi yang justru menimbulkan dampak buruk terhadap kualitas hidup.
Jika tersedia pilihan terapi yang lebih aman seperti terapi fokal, manfaat deteksi dini diperkirakan akan semakin besar.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa penelitian acak berskala besar (randomized controlled trial) masih diperlukan untuk membandingkan terapi fokal secara langsung dengan operasi maupun radioterapi.
Apakah Terapi Fokal Sudah Tersedia di Indonesia?
Saat ini, terapi fokal untuk kanker prostat belum menjadi terapi standar yang tersedia secara luas di Indonesia.
Pilihan pengobatan tetap akan disesuaikan dengan berbagai faktor, seperti:
- Stadium kanker,
- Tingkat keganasan sel kanker,
- Usia pasien,
- Kondisi kesehatan secara keseluruhan,
- Serta hasil pemeriksaan MRI, biopsi, dan PSA.
Dokter urologi akan menentukan terapi yang paling sesuai, mulai dari pemantauan aktif (active surveillance), operasi, radioterapi, terapi hormon, hingga terapi lain sesuai kondisi pasien.
Kapan Harus Memeriksakan Diri?
Kanker prostat pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala. Oleh sebab itu, pria berusia di atas 50 tahun atau yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker prostat disarankan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Segera konsultasikan ke dokter apabila mengalami gejala seperti:
- sulit atau nyeri saat buang air kecil,
- aliran urine melemah,
- sering buang air kecil terutama pada malam hari,
- terdapat darah pada urine atau air mani,
- nyeri panggul atau punggung bawah yang tidak diketahui penyebabnya.
Semakin dini kanker prostat terdeteksi, semakin besar peluang mendapatkan pengobatan yang efektif dengan hasil yang optimal.
Terapkan pola makan sehat, olahraga teratur, dan hindari merokok untuk mengurangi risiko kanker prostat. Konsultasikan dengan dokter mengenai pilihan pengobatan yang sesuai jika terdiagnosis kanker prostat.
Yuk, tanyakan saja langsung pada dokter spesialis urologi di Halodoc. Dokter dapat membantu memberikan saran dan pengobatan yang paling sesuai untuk kondisimu.
Dapatkan juga obat atau produk kesehatan lainnya yang kamu butuhkan di Toko Kesehatan Halodoc. Produknya 100% asli (original) dan tepercaya. Tak perlu keluar rumah, produk diantar dalam waktu 1 jam







