• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengidap Diabetes, Perhatikan Aturan Ini saat Puasa

Mengidap Diabetes, Perhatikan Aturan Ini saat Puasa

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Puasa di bulan Ramadan telah dikenal dapat membawa efek baik bagi kesehatan. Namun, pengidap penyakit kronis, seperti diabetes, menjalani puasa tanpa konsultasi dengan dokter bisa jadi malah berbahaya. Dikhawatirkan akan ada efek samping dari obat-obatan yang digunakan, atau penyakit diabetes itu sendiri. Oleh karena itu, pengidap diabetes sebaiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu, jika ingin berpuasa.

Lantas, boleh tidak sih pengidap diabetes berpuasa? Jika melihat pedoman dari The International Islamic Fiqh Academy dan The Islamic Organization for Medical Sciences, pengidap diabetes dibagi menjadi 4 kategori, berdasarkan boleh tidaknya berpuasa. Kategori tersebut didasarkan pada keparahan kondisi dan faktor lainnya, sehingga ada yang boleh berpuasa dan ada yang sebaiknya tidak berpuasa.

Baca juga: 2 Tips Cegah Kenaikan Gula Darah Saat Puasa

Pengidap Diabetes yang Boleh dan Tidak Boleh Berpuasa

Masih soal kategori pengidap diabetes dari pedoman yang disebutkan sebelumnya, berikut pembagian kategorinya:

1. Pengidap Diabetes Berisiko Rendah, Boleh Berpuasa

Dalam kategori ini, pengidap diabetes dinilai sebagai pasien sehat dengan diabetes yang terkontrol oleh diet dan obat-obatan, dengan kadar HbA1C <7 persen. Pengidap diabetes dalam kategori ini aman dan diperbolehkan berpuasa.

2. Pengidap Diabetes Berisiko Sedang, Boleh Puasa dengan Hati-Hati

Kategori ini adalah pengidap diabetes dengan risiko sedang. Kondisi terkontrol oleh diet, obat-obatan atau short acting insulin, dengan kadar HbA1C <8 persen. Masih diperbolehkan berpuasa, tetapi harus hati-hati dan selalu mengontrol kadar gula darah secara rutin.

3. Pengidap Diabetes Berisiko Tinggi, Diperbolehkan Tidak Berpuasa

Pada kategori ini, pengidap diabetes dinilai memiliki risiko tinggi, sehingga diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Beberapa kondisi yang membuat pengidap diabetes termasuk dalam kategori risiko tinggi adalah:

  • Nilai gula darah puasa atau gula darah sebelum puasa 150-300 mg/dl.
  • Kadar HbA1C 8-10 persen.
  • Memiliki komplikasi mikrovaskuler (gangguan retina, ginjal, saraf) atau makrovaskuler.
  • Tinggal sendirian atau mendapat terapi sulfonilurea atau insulin.
  • Berusia lanjut, di atas 75 tahun.
  • Mengalami penurunan fungsi ingatan berat, demensia, atau mendapat pengobatan yang memengaruhi daya ingat.
  • Mengidap penyakit penyerta yang berat, seperti gagal jantung, stroke, kanker, atau darah tinggi yang tidak terkontrol.

Baca juga: Berapa Nilai Normal Kadar Gula Darah Puasa?

4. Pengidap Diabetes Berisiko Sangat Tinggi, Tidak Disarankan Puasa

Pada kategori ini, pengidap diabetes dinilai memiliki risiko sangat tinggi, sehingga disarankan untuk tidak berpuasa. Beberapa kondisi yang membuat pengidap diabetes termasuk dalam kategori risiko sangat tinggi adalah:

  • Pemeriksaan gula darah tinggi, dengan rata-rata nilai gula darah puasa atau gula darah sebelum puasa >300 mg/dl.
  • Kadar HbA1C >10 persen.
  • Hipoglikemia berat selama 3 bulan terakhir, atau berulang.
  • Adanya komplikasi diabetes ketoasidosis atau hiperglikemia hiperosmolar.
  • Diabetes tipe 1.
  • Adanya penyakit akut.
  • Pekerja fisik berat.
  • Sedang hamil.
  • Mengalami penurunan fungsi ingatan berat, demensia, atau mendapat pengobatan yang mempengaruhi daya ingat.
  • Sedang menjalani dialisis (cuci darah).

Aturan yang Harus Diperhatikan Pengidap Diabetes saat Puasa

Sebenarnya, tidak ada aturan perubahan makanan untuk pengidap diabetes selama puasa Ramadan. Pengidap diabetes dianjurkan untuk lebih banyak mengonsumsi makanan yang menghasilkan energi secara lambat seperti gandum, kacang-kacangan, nasi, dan semolina, juga menghindari makanan dengan kandungan asam jenuh yang tinggi. 

Baca juga: Pengidap Diabetes, Hindari 4 Makanan Ini Saat Puasa

Porsi makanan saat puasa juga harus disesuaikan, yaitu 50 persen saat sahur, 40 persen saat berbuka dan 10 persen setelah tarawih. Pastikan juga asupan cairan saat berpuasa tercukupi dengan baik setelah buka puasa dan tarawih. Jangan lupa juga untuk selalu rutin melakukan pemeriksaan gula darah, untuk mengetahui kondisi diabetes.

Perlu diketahui bahwa penusukan jarum ke dalam kulit untuk pemeriksaaan gula darah tidak membatalkan puasa. Jadi, periksalah secara teratur gula darah kamu, terutama jika merasakan sakit atau ada gejala dari gula darah rendah atau tinggi. Agar lebih mudah, download dan gunakan aplikasi Halodoc untuk pesan layanan pemeriksaan laboratorium untuk cek gula darah di rumah. Pengidap diabetes dianjurkan membatalkan puasa jika kadar gula darah <70 mg/dl atau >300 mg/dl.

Referensi:
USA: OMICS Group eBooks. Diakses pada 2020. Khaled, Meghit Boumediene. Ramadan Fasting and Diabetes dalam Effects of Ramadan Fasting on Health and Athletic Performance. 
BMJ Open Diabetes Research and Care. Diakses pada 2020. Ibrahim, Mahmoud. Abu Al Magd, Megahed. A Annabi, Firas. et al. Recommendations for management of diabetes during Ramadan: update 2015.