Ad Placeholder Image

PCOS Resmi Berganti Nama Jadi PMOS, Ini Perubahan yang Perlu Kamu Ketahui

7 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   13 Mei 2026

PCOS berganti nama menjadi PMOS diharapkan dapat mengurangi stigma, serta membantu tenaga kesehatan untuk menegakkan diagnosis dengan lebih akurat. 

PCOS Resmi Berganti Nama Jadi PMOS, Ini Perubahan yang Perlu Kamu KetahuiPCOS Resmi Berganti Nama Jadi PMOS, Ini Perubahan yang Perlu Kamu Ketahui

DAFTAR ISI


Selama ini, kamu mungkin sudah familiar dengan istilah PCOS atau Polycystic Ovary Syndrome

Kondisi hormonal yang memengaruhi 1 dari 8 perempuan di seluruh dunia ini kerap dikaitkan dengan siklus haid tidak teratur, jerawat membandel, hingga kesulitan hamil.

Namun, per 12 Mei 2026, nama itu resmi tidak lagi digunakan.

Dalam sebuah publikasi di jurnal The Lancet yang dipresentasikan di European Congress of Endocrinology di Praha, para ahli dari 56 organisasi medis dan advokasi pasien di seluruh dunia sepakat mengganti nama PCOS menjadi PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome)

Bukan sekadar ganti label, perubahan nama ini sekaligus menjadi koreksi ilmiah yang sudah ditunggu selama puluhan tahun. 

Lalu, apa sebenarnya PMOS itu? Mengapa namanya diubah dan apa dampaknya bagi perempuan Indonesia yang selama ini hidup dengan kondisi tersebut? 

Simak informasi selengkapnya pada artikel berikut ini. 

Mengapa Nama PCOS Diubah Menjadi PMOS?

Nama Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) pertama kali digunakan pada 1935.  

Penggunaan istilah PCOS seringkali menyalahartikan gangguan hormonal yang kompleks ini sebagai masalah kista ovarium semata. Terutama pada kata ‘polycystic’ yang bermakna banyak kista. 

Reduksi makna tersebut berdampak buruk pada akurasi diagnosis dan efektivitas pengobatan yang diterima pasien. 

Kenyataannya, perempuan dengan PCOS tidak memiliki kista pada ovarium. Ketika dilakukan USG, yang terlihat adalah folikel-folikel kecil yang terhenti perkembangannya, bukan kista patologis. 

Akibat kesalahan istilah ini, banyak pasien dan bahkan dokter yang keliru memahami kondisinya. 

Hal ini memicu beberapa kondisi seperti: 

  • Keterlambatan diagnosis, sehingga pasien  tidak terdiagnosis tepat waktu. 
  • Stigma dengan label ‘cysts’ membuat banyak perempuan khawatir berlebihan soal kista yang sebetulnya tidak ada. 
  • Terhambatnya penelitian karena framing nama yang salah, memengaruhi arah riset dan kebijakan kesehatan yang ada. 
  • PCOS sering dianggap sebagai masalah organ reproduksi, padahal kondisi ini memengaruhi fungsi tubuh lainnya. 

Nama baru, PMOS, dipilih setelah proses konsensus global selama 11 tahun yang melibatkan lebih dari 22.000 orang, termasuk pasien, dokter, dan peneliti dari seluruh dunia. 

Ada beberapa alasan mengapa nama ini dianggap lebih akurat, antara lain:

  • Poly–endocrine. Mencerminkan gangguan hormonal kompleks dan melibatkan banyak kelenjar endokrin.
  • Metabolic. Mengakui dampak metabolik seperti resistensi insulin, risiko diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular.
  • Ovarian. Tetap mengakui peran ovarium tanpa berlebihan menekankan aspek reproduksi. 
  • Syndrome. Menggambarkan kumpulan gejala yang bervariasi antar individu.

Yuk, Mengenal Fungsi Ovarium dan Gangguan yang Bisa Terjadi. 

Apa Itu PMOS dan Siapa yang Berisiko? 

PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome) adalah gangguan hormonal kronis yang kompleks, ditandai oleh fluktuasi hormon yang berdampak pada metabolisme, kesehatan reproduksi, kondisi kulit, berat badan, dan kesehatan mental.

Data yang dipublikasikan The Lancet menyebut bahwa secara global, PMOS memengaruhi lebih dari 170 juta perempuan atau sekitar 1 dari 8 perempuan usia reproduktif. 

Di Indonesia, prevalensi kondisi ini diperkirakan mencapai 5–10% perempuan usia subur. 

Artinya ada jutaan perempuan Indonesia yang hidup dengan kondisi ini, banyak di antaranya belum terdiagnosis.

Kondisi ini biasanya mulai muncul sejak usia remaja, seiring dimulainya siklus menstruasi. 

Faktor genetik berperan besar pada kondisi tersebut. Jika saudara perempuan kamu memiliki PMOS, risiko kamu untuk mengalaminya pun lebih tinggi. 

Namun faktor gaya hidup seperti pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan stres kronis juga dapat memperburuk gejala.

Gejala PMOS

Berikut ini gejala PMOS yang  perlu kamu perhatikan:

  • Siklus haid tidak teratur, sangat jarang, atau bahkan tidak haid sama sekali.
  • Hiperandrogenisme. Kondisi di mana kadar hormon androgen tinggi yang menyebabkan jerawat persisten, tumbuhnya rambut di wajah atau tubuh (hirsutisme), dan rambut kepala yang rontok.
  • Berat badan sulit dikendalikan, terutama penumpukan lemak di area perut.
  • Resistensi insulin. Kondisi di mana sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik, meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
  • Gangguan kesuburan dan kesulitan hamil.
  • Perubahan suasana hati, kecemasan, dan depresi.
  • Kulit gelap (akantosis nigrikans) di lipatan leher, ketiak, atau selangkangan.

Kamu alami haid tidak teratur? Ini Obat Pelancar Haid yang Aman Secara Medis. 

Cara Mengatasi PMOS

Hingga saat ini PMOS belum bisa disembuhkan sepenuhnya, namun gejalanya bisa dikelola dengan baik melalui pendekatan yang bersifat individual dan komprehensif. 

Penanganan disesuaikan dengan gejala dominan dan tujuan pengobatan masing-masing pasien. 

Berikut ini beberapa cara mengatasi PMOS: 

1. Perubahan gaya hidup (lini pertama)

  • Olahraga rutin minimal 30 menit per hari untuk  membantu memperbaiki sensitivitas insulin dan siklus haid.
  • Pola makan seimbang dengan indeks glikemik rendah untuk membantu mengontrol kadar gula darah.
  • Manajemen stres dan tidur yang cukup, karena stres kronis dapat memperburuk ketidakseimbangan hormon.
  • Menjaga berat badan ideal. Penurunan berat badan 5–10% saja sudah terbukti memperbaiki siklus haid dan kesuburan.

2. Pengobatan medis

  • Kontrasepsi oral kombinasi. Ini merupakan pengobatan lini pertama untuk mengatasi gangguan menstruasi dan hiperandrogenisme
  • Metformin. Digunakan untuk membantu menurunkan resistensi insulin dan memperbaiki siklus haid.
  • Letrozole atau clomiphene citrate. Diberikan untuk induksi ovulasi pada pasien yang ingin hamil.
  • Spironolakton. Membantu mengatasi jerawat dan hirsutisme akibat kadar androgen tinggi.
  • Program bayi tabung (IVF). Bisa menjadi pilihan lanjutan jika terapi ovulasi tidak berhasil. 

Semua pengobatan harus dilakukan di bawah pengawasan dokter.

Konsultasikan kondisimu dengan dokter spesialis kandungan atau spesialis endokrinologi untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Apa Dampak Perubahan Nama Ini bagi Pasien di Indonesia?

Perubahan dari PCOS ke PMOS bukan berarti kondisinya berubah, yang berubah adalah cara dunia memahami dan mendekati kondisi ini. 

Bagi perempuan Indonesia, ini membawa beberapa dampak penting seperti:

  • Diagnosis lebih cepat dan akurat. Dengan nama yang mencerminkan gambaran klinis sesungguhnya, dokter diharapkan lebih mudah mengenali kondisi ini lebih awal, bahkan pada remaja.
  • Penanganan yang lebih holistik. PMOS tidak hanya ditangani oleh dokter kandungan, tetapi juga melibatkan dokter spesialis endokrin, ahli gizi, psikolog, dan spesialis lain sesuai kebutuhan.
  • Berkurangnya stigma. Istilah “cysts” (kista) selama ini membuat banyak perempuan salah paham dan merasa malu. Nama baru yang lebih akurat diharapkan mengurangi stigma ini.
  • Perubahan sistem klasifikasi penyakit. Dalam tiga tahun ke depan, PMOS akan diintegrasikan ke dalam pedoman klinis, kurikulum pendidikan kedokteran, dan sistem klasifikasi penyakit internasional (ICD) secara bertahap.

Pedoman tata laksana PCOS pertama khusus Indonesia telah diterbitkan pada 2025 oleh Perhimpunan Endokrinologi Reproduksi dan Fertilitas Indonesia, yang ke depannya akan diperbarui menyesuaikan nama dan kerangka baru PMOS.

Kesimpulan

Pergantian nama dari PCOS menjadi PMOS adalah langkah maju yang signifikan dalam dunia medis. 

Setelah hampir 90 tahun menggunakan nama yang keliru, dunia akhirnya mengakui bahwa kondisi ini jauh lebih kompleks dari sekadar “kista di ovarium”. 

PMOS adalah gangguan hormonal dan metabolik yang berdampak pada seluruh tubuh dan kualitas hidup perempuan.

Jika kamu atau orang terdekatmu mengalami gejala yang mengarah ke PMOS seperti haid tidak teratur, jerawat persisten, atau kesulitan hamil, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan dokter. 

Diagnosis dini adalah kunci untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan mencegah komplikasi jangka panjang.

Konsultasi dengan dokter spesialis kandungan kini lebih mudah dan praktis melalui Halodoc. 

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.  

Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?

Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc. 

  • Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah. 
  • Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
  • Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis!
  • Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc  (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
  • Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
  • Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
  • Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada. 
  • Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.
  • Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.
Referensi: 
Endocrine Society. Diakses pada 2026. Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome: New name to improve diagnosis and care of condition affecting 170 million women worldwide. 
The Lancet. Diakses pada 2026. Polyendocrine metabolic ovarian syndrome, the new name for polycystic ovary syndrome: a multistep global consensus process.
University of Colorado. Diakses pada 2026. Global Experts Establish New Name for PCOS to Reflect Multisystem Disease.
StatNews. Diakses pada 2026. PCOS’s new name is PMOS, a small letter change that required a big scientific process.