
Pemanis Buatan Diduga Berkaitan dengan Penurunan Daya Ingat, Benarkah?
Studi terbaru menunjukkan bahwa konsumsi pemanis buatan dalam jumlah tinggi berkaitan dengan penurunan daya ingat dan kemampuan berpikir yang lebih cepat, terutama pada orang berusia di bawah 60 tahun dan pengidap diabetes.

DAFTAR ISI
- Studi: Konsumsi Pemanis Buatan Tinggi Dikaitkan dengan Penurunan Fungsi Kognitif
- Seberapa Besar Perbedaannya?
- Jenis Pemanis Buatan Apa Saja yang Diteliti?
- Siapa yang Berisiko Lebih Tinggi?
- Apakah Pemanis Buatan Berbahaya untuk Otak?
- Apakah Masih Aman Menggunakan Pemanis Buatan?
- Cara Menjaga Kesehatan Otak Selain Membatasi Gula
- Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?
Pemanis buatan sering menjadi pilihan bagi orang yang ingin mengurangi konsumsi gula, terutama bagi pengidap diabetes atau mereka yang sedang menjalani program penurunan berat badan. Selain rendah kalori, bahan ini banyak ditemukan pada minuman diet, makanan ringan, hingga produk bebas gula.
Namun, sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology menemukan bahwa konsumsi pemanis buatan dalam jumlah tinggi mungkin berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif yang lebih cepat, termasuk daya ingat dan kemampuan berpikir.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hasil penelitian ini belum membuktikan bahwa pemanis buatan secara langsung menyebabkan gangguan fungsi otak. Lalu, bagaimana sebenarnya temuan tersebut?
Studi: Konsumsi Pemanis Buatan Tinggi Dikaitkan dengan Penurunan Fungsi Kognitif
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari University of São Paulo, Brasil, melibatkan 12.772 orang dewasa yang diikuti selama sekitar delapan tahun.
Selama penelitian, peserta diminta melaporkan pola makan mereka, termasuk konsumsi pemanis rendah atau tanpa kalori. Peneliti juga melakukan pemeriksaan berkala untuk menilai berbagai aspek fungsi kognitif, seperti:
- Kemampuan mengingat,
- Kelancaran berbicara (verbal fluency),
- Kecepatan memproses informasi.
Selanjutnya, peserta dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan rata-rata konsumsi pemanis buatan setiap hari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta dengan konsumsi pemanis buatan paling tinggi mengalami penurunan fungsi kognitif yang lebih cepat dibandingkan kelompok dengan konsumsi paling rendah.
Ketahui lebih lanjut tentang Minuman Tidak Sehat – Jenis dan Bahaya Bagi Tubuh berikut ini.
Seberapa Besar Perbedaannya?
Setelah memperhitungkan berbagai faktor yang dapat memengaruhi kesehatan otak, seperti usia, jenis kelamin, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung, peneliti menemukan bahwa:
- Kelompok dengan konsumsi pemanis buatan tertinggi mengalami penurunan fungsi kognitif sekitar 62 persen lebih cepat dibandingkan kelompok dengan konsumsi terendah;
- Kelompok dengan konsumsi sedang juga mengalami penurunan sekitar 35 persen lebih cepat.
Peneliti memperkirakan perbedaan tersebut setara dengan tambahan sekitar 1,6 tahun penuaan otak dibandingkan kelompok dengan konsumsi paling rendah.
Sementara itu, jika butuh saran tentang pola makan sesuai kondisi tubuhmu, Ini Rekomendasi Dokter Gizi di Halodoc yang Bisa Dihubungi.
Jenis Pemanis Buatan Apa Saja yang Diteliti?
Penelitian ini mengevaluasi tujuh jenis pemanis rendah kalori yang umum digunakan, yaitu:
- Aspartam,
- Sakarin,
- Acesulfame-K,
- Eritritol,
- Xylitol,
- Sorbitol,
- Tagatose.
Dari ketujuh jenis tersebut, enam pemanis dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif yang lebih cepat, terutama pada aspek daya ingat, yaitu:
- Aspartam,
- Sakarin,
- Acesulfame-K,
- Eritritol,
- Sorbitol,
- Xylitol.
Sementara itu, tagatose menjadi satu-satunya pemanis dalam penelitian yang tidak menunjukkan hubungan dengan penurunan fungsi kognitif.
Siapa yang Berisiko Lebih Tinggi?
Hubungan antara konsumsi pemanis buatan dan penurunan fungsi otak tampak lebih kuat pada dua kelompok tertentu.
1. Orang berusia di bawah 60 tahun
Peneliti menemukan hubungan yang lebih jelas pada peserta berusia kurang dari 60 tahun. Sebaliknya, hubungan tersebut tidak terlihat secara signifikan pada kelompok usia di atas 60 tahun.
Alasan pastinya masih belum diketahui dan memerlukan penelitian lebih lanjut.
2. Pengidap diabetes
Hubungan tersebut juga lebih kuat ditemukan pada pengidap diabetes.
Hal ini diduga karena kelompok ini lebih sering menggunakan pemanis buatan sebagai pengganti gula untuk membantu mengontrol kadar gula darah.
Namun, para peneliti belum dapat memastikan apakah penurunan fungsi kognitif dipengaruhi oleh pemanis buatan, kondisi diabetes itu sendiri, atau kombinasi berbagai faktor lainnya.
Apakah Pemanis Buatan Berbahaya untuk Otak?
Jawabannya belum dapat dipastikan. Penelitian ini merupakan studi observasional, sehingga hanya menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi pemanis buatan dan penurunan fungsi kognitif.
Artinya, penelitian ini tidak dapat membuktikan bahwa pemanis buatan menjadi penyebab langsung penurunan daya ingat.
Selain itu, terdapat beberapa keterbatasan penelitian, antara lain:
- Data konsumsi makanan berasal dari laporan peserta sehingga berpotensi kurang akurat;
- Tidak semua jenis pemanis buatan yang beredar di pasaran ikut diteliti;
- Masih banyak faktor gaya hidup lain yang dapat memengaruhi kesehatan otak, seperti pola makan secara keseluruhan, kualitas tidur, aktivitas fisik, dan pendidikan.
Karena itu, diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan hubungan sebab akibat.
Apakah Masih Aman Menggunakan Pemanis Buatan?
Hingga saat ini, berbagai badan kesehatan dunia, termasuk Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta otoritas keamanan pangan internasional, masih mengizinkan penggunaan berbagai pemanis buatan selama dikonsumsi sesuai batas asupan harian yang dapat diterima (Acceptable Daily Intake/ADI).
Bagi sebagian orang, seperti pengidap diabetes, pemanis rendah kalori tetap dapat membantu mengurangi konsumsi gula tambahan jika digunakan secara bijak.
Namun, para ahli menyarankan agar pemanis buatan tidak dijadikan alasan untuk mengonsumsi makanan atau minuman olahan secara berlebihan.
Cara Menjaga Kesehatan Otak Selain Membatasi Gula
Untuk menjaga fungsi otak tetap optimal seiring bertambahnya usia, beberapa langkah berikut lebih terbukti bermanfaat berdasarkan berbagai penelitian:
- Mengonsumsi makanan bergizi seimbang, terutama sayur, buah, ikan, dan biji-bijian utuh;
- Rutin berolahraga setidaknya 150 menit setiap minggu;
- Menjaga kualitas tidur;
- Mengendalikan tekanan darah, kolesterol, dan gula darah;
- Tetap aktif secara sosial dan melatih kemampuan berpikir melalui membaca, belajar, atau aktivitas yang merangsang otak;
- Membatasi konsumsi makanan dan minuman ultra-proses, termasuk yang mengandung gula atau pemanis tambahan dalam jumlah berlebihan.
Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?
Segera konsultasikan dengan dokter apabila mengalami gejala yang mengganggu fungsi kognitif, seperti:
- Sering lupa hingga mengganggu aktivitas sehari-hari;
- Kesulitan berkonsentrasi;
- Mudah bingung terhadap tempat atau waktu;
- Sulit menemukan kata saat berbicara;
- Perubahan perilaku atau kepribadian tanpa penyebab yang jelas.
Pemeriksaan sejak dini dapat membantu menemukan penyebab penurunan daya ingat dan menentukan penanganan yang tepat.
Kamu kini juga bisa langsung tanya dokter di Halodoc untuk mendapatkan informasi kesehatan yang tepat atau untuk konsultasi gangguan kesehatan yang sedang kamu rasakan.
Dokter tersedia 24 jam dan dapat dihubungi dari mana saja. Tunggu apa lagi? Pakai Halodoc sekarang!




