Ad Placeholder Image

Perbandingan Pes, Leptospirosis, dan Hantavirus: Penyakit yang Ditularkan Melalui Tikus

9 menit
Ditinjau oleh  dr. Fauzan Azhari SpPD   12 Mei 2026

Meski sama-sama bersumber dari tikus, ketiga penyakit ini memiliki karakteristik medis yang berbeda sehingga membutuhkan penanganan dan proteksi yang tepat bagi kesehatan keluarga. 

Perbandingan Pes, Leptospirosis, dan Hantavirus: Penyakit yang Ditularkan Melalui TikusPerbandingan Pes, Leptospirosis, dan Hantavirus: Penyakit yang Ditularkan Melalui Tikus

DAFTAR ISI


Tikus bukan sekadar hewan pengganggu. Di balik keberadaannya yang kerap diabaikan, hewan pengerat ini menyimpan risiko kesehatan serius bagi manusia. 

Di Indonesia, ada tiga penyakit utama yang dapat ditularkan melalui tikus: Penyakit Pes (Plague), Leptospirosis, dan Hantavirus.

Ketiganya memiliki penyebab, cara penularan, dan tingkat bahaya yang berbeda, namun sama-sama berpotensi mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan tepat.

Gejala awal ketiganya sering terlihat mirip, mulai dari demam tinggi mendadak, sakit kepala, dan nyeri otot. Hal ini membuat diagnosis dini menjadi tantangan tersendiri. 

Kamu perlu pahami perbedaan ketiganya, agar lebih waspada dan bertindak cepat jika diperlukan.

Ringkasan Perbandingan Ketiga Penyakit yang Ditularkan Melalui Tikus

Sebelum membahas lebih dalam, berikut perbandingan singkat antara ketiga penyakit ini:

AspekPes (Plague)LeptospirosisHantavirus
PenyebabBakteri Yersinia pestisBakteri Leptospira spp.Virus Hantaan, Seoul, dll. (famili Hantaviridae)
Vektor UtamaRattus rattus, R. norvegicus, tikus liarRattus norvegicus, R. rattus, mamalia lainApodemus spp., Rattus spp., berbeda per spesies virus
Cara PenularanGigitan pinjal atau kutu tikus (Xenopsylla cheopis), kontak langsung, dropletKontak air/tanah yang terkontaminasi urin tikus melalui luka kulitMenghirup aerosol urin, feses, atau saliva tikus
Masa Inkubasi1–7 hari2–30 hari (rata-rata 5–14 hari)1–8 minggu
Angka Kematian30–100% (tanpa pengobatan), <10% (dengan antibiotik)5–15% (berat), <1% (ringan)30–50% (HPS), 5–15% (HFRS)
VaksinTerbatas, tidak tersedia di IndonesiaAda untuk hewan, sedangkan untuk manusia terbatasTidak ada untuk manusia

Cari tahu selengkapnya, ini Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar, Kenali Gejala dan Cara Pencegahannya

Penyakit Pes (Plague)

Pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis dan dikenal sebagai salah satu penyakit paling mematikan dalam sejarah manusia. 

Wabah pes di abad pertengahan, yang dikenal sebagai “Black Death”, pernah menewaskan sepertiga populasi Eropa, sekitar 75-200 juta jiwa. 

Meski kini jauh lebih terkendali, pes belum sepenuhnya hilang dari dunia.

1. Bagaimana penularannya?

Penularan utamanya bukan langsung dari tikus ke manusia, melainkan melalui gigitan pinjal (kutu tikus) yang sebelumnya menggigit tikus terinfeksi. 

Setelah manusia tergigit pinjal pembawa Y. pestis, bakteri masuk ke aliran darah. 

Penularan langsung melalui kontak dengan jaringan hewan terinfeksi atau lewat droplet (percikan ludah) juga bisa terjadi, terutama pada bentuk pes pneumonik.

Jenis tikus yang menjadi reservoir utama adalah Rattus rattus (tikus rumah hitam), Rattus norvegicus (tikus got), dan berbagai tikus liar lainnya.

2. Gejala yang perlu diwaspadai

Pes memiliki tiga bentuk klinis dengan gejala berbeda:

  • Pes Bubonik (paling umum). Demam tinggi mendadak, menggigil, sakit kepala, dan munculnya benjolan nyeri (bubo) di ketiak, selangkangan, atau leher. Ini adalah pembesaran kelenjar getah bening akibat infeksi bakteri.
  • Pes Septisemik. Demam, menggigil, mual, muntah, diare, dan nyeri perut. Pada kasus berat, bisa menyebabkan gangren (jaringan tubuh mati) dan gangguan pembekuan darah.
  • Pes Pneumonik (paling berbahaya). Batuk, nyeri dada, sesak napas, dan dahak berdarah. Bentuk ini bisa menular dari manusia ke manusia dan harus ditangani segera.

3. Situasi di Indonesia

Indonesia pernah mencatat kasus pes pada era kolonial, terutama di Jawa.

Namun saat ini, Indonesia tidak termasuk negara endemis pes aktif.

WHO tidak mencantumkan Indonesia dalam laporan endemis pes terkini, dan kasus aktif sangat jarang ditemukan. 

Namun meski demikian, Kemenkes RI tetap melakukan pemantauan secara berkala sebagai langkah kewaspadaan.

Cari tahu juga, ini Daftar Penyakit yang Disebabkan oleh Virus.  

Penyakit Leptospirosis

Leptospirosis disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans

Di Indonesia, penyakit ini adalah masalah kesehatan masyarakat yang nyata dan sering melonjak saat musim banjir. 

Bakteri ini hidup di ginjal tikus dan dikeluarkan melalui urine ke lingkungan sekitar, termasuk air banjir yang kita injak setiap musim hujan.

1. Bagaimana penularannya?

Manusia terinfeksi ketika kulit yang luka atau lecet, bahkan luka yang sangat kecil bersentuhan dengan air atau tanah yang terkontaminasi urine tikus.

Mukosa (selaput lendir) seperti mata, hidung, dan mulut juga bisa menjadi jalur masuk bakteri. Itulah mengapa, beraktivitas di air banjir tanpa pelindung sangat berisiko.

Selain tikus (Rattus norvegicus dan Rattus rattus), hewan lain seperti anjing, sapi, babi, dan kuda juga bisa menjadi reservoir bakteri ini.

2. Gejala yang perlu diwaspadai

Leptospirosis berkembang dalam dua fase:

  • Fase 1 (hari 1–7). Demam mendadak, menggigil, nyeri otot hebat terutama di betis, sakit kepala, mata merah tanpa kotoran mata (conjunctival suffusion), mual, dan muntah. Fase ini sering dikira flu biasa.
  • Fase 2 (hari 7–14+). Sebagian pasien sembuh di fase ini. Namun sebagian berkembang menjadi Sindrom Weil yang berat, ditandai dengan kulit dan mata menguning (ikterus), gagal ginjal akut, perdarahan, dan meningitis.

3. Situasi di Indonesia

Leptospirosis berstatus endemis di Indonesia. KLB (Kejadian Luar Biasa) sering terjadi pasca banjir di Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. 

Angka kematian saat KLB berkisar 2,5–16,7%. Dalam kurun 2019–2022, Indonesia rata-rata melaporkan 800–1.200 kasus per tahun dengan angka kematian sekitar 7–10%.

Penyakit Hantavirus

Hantavirus adalah virus yang dibawa oleh berbagai spesies tikus liar. 

Namanya mulai ramai diperbincangkan setelah wabah di kapal pesiar MV Hondius pada 2026, yang menewaskan tiga orang dan memicu kewaspadaan internasional.

1. Bagaimana penularannya?

Cara penularan utama hantavirus adalah dengan menghirup aerosol, partikel udara sangat kecil, yang berasal dari urin, feses, atau saliva tikus yang terinfeksi. 

Ini bisa terjadi saat kamu menyapu area yang terkontaminasi tanpa masker, atau ketika membuka ruangan lama yang tidak pernah dibersihkan.

Satu hal yang membedakan hantavirus dari dua penyakit lainnya yakni strain Andes, yang terlibat dalam wabah MV Hondius. 

Strain Andes adalah satu-satunya hantavirus yang diketahui bisa menular dari manusia ke manusia, meski hanya pada kontak yang sangat dekat. 

Tiap strain hantavirus sangat spesifik terhadap satu spesies tikus tertentu. Apodemus spp. dan Rattus spp. adalah inang utama di Asia, termasuk Seoul virus yang ditemukan pada tikus got (Rattus norvegicus) di Indonesia.

2. Gejala yang perlu diwaspadai

Hantavirus menyebabkan dua sindrom utama:

  • HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome). Demam, nyeri otot, lalu berkembang cepat menjadi sesak napas berat dan gagal napas akut. Angka kematian mencapai 30–50%.
  • HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome). Demam, perdarahan, dan gagal ginjal akut. Angka kematian 5–15%.

Gejala awal muncul dalam 1–8 minggu setelah paparan. 

Hingga saat ini belum ada vaksin maupun obat antivirus yang khusus untuk mengatasi hantavirus.

Artinya, dokter tidak bisa langsung ‘membunuh’ virusnya. Penanganan yang dilakukan adalah suportif, yaitu membantu tubuh bertahan dengan cara menjaga fungsi organ vital seperti paru-paru dan ginjal tetap bekerja, sambil menunggu sistem imun tubuh melawan infeksi sendiri. 

3. Situasi di Indonesia

Seoul virus, salah satu strain hantavirus telah terdeteksi pada populasi Rattus norvegicus di Indonesia. 

Meskipun kasus hantavirus pada manusia belum banyak dilaporkan secara resmi, potensi risiko tetap ada mengingat tingginya populasi tikus urban di kota-kota besar.

Supaya kamu lebih waspada, Ini 6 Fakta tentang Hantavirus Pulmonary Syndrome. 

Apakah Ketiganya Disebabkan oleh Jenis Tikus yang Sama?

Jawabannya sebagian iya, sebagian tidak.

Rattus norvegicus (tikus got) dan Rattus rattus (tikus rumah hitam) adalah dua spesies tikus urban yang paling relevan untuk ketiga penyakit ini di Indonesia.

Keduanya bisa berperan sebagai:

  • Inang pinjal pembawa Y. pestis (penyebab pes).
  • Reservoir Leptospira (penyebab leptospirosis).
  • Reservoir Seoul virus (salah satu strain hantavirus).

Namun ada perbedaan penting yang perlu dipahami:

  • Pes. Penularannya tidak langsung dari tikus ke manusia, melainkan membutuhkan pinjal sebagai perantara.
  • Leptospirosis. Penularannya melalui lingkungan yang terkontaminasi (air/tanah), bukan gigitan hewan.
  • Hantavirus. Setiap strain sangat spesifik terhadap satu spesies tikus. Strain Andes misalnya, hanya ditemukan pada tikus Sigmodon di Amerika Selatan, bukan pada tikus got yang umum di Indonesia.

Perbandingan Gejala

Ketiganya memiliki gejala awal yang sangat mirip yakni demam tinggi mendadak, nyeri otot, dan sakit kepala. 

Inilah yang membuat diagnosis dini sulit dilakukan secara klinis dan pemeriksaan laboratorium seperti kultur, PCR, dan serologi tetap diperlukan untuk kepastian.

Berikut perbandingan gejala lengkapnya:

GejalaPes (Plague)LeptospirosisHantavirus
Demam tinggi mendadak
Nyeri otot✅✅ (terutama betis)
Sakit kepala
Pembengkakan kelenjar (bubo)✅ (khas)
Ikterus (kulit/mata kuning)Jarang✅✅ (khas Weil’s disease)✅ tipe Seoul
Gagal ginjal❌ (kecuali sepsis berat)✅✅ (khas HFRS)
Perdarahan✅ (tipe septisemik)
Sesak napas / gangguan paru✅✅ (pes pneumonik)Kadang✅✅ (HPS)
Conjunctival suffusion (mata merah)✅ (khas)
MeningitisJarang

Perbandingan Diagnosis dan Pengobatan

Karena gejalanya yang mirip, diagnosis pasti hanya bisa ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium. 

Berikut perbandingan metode diagnosis dan penanganannya:

AspekPes (Plague)LeptospirosisHantavirus
Metode DiagnosisKultur, PCR, serologiMAT, PCR, ELISAPCR, IgM ELISA
PengobatanStreptomisin, doksisiklin, siprofloksasin (antibiotik)Penisilin, doksisiklin, amoksisilin (antibiotik)Suportif (belum ada antivirus spesifik)
PencegahanKendalikan tikus & pinjalHindari banjir, gunakan APD, doksisiklin profilaksisKendalikan tikus, pastikan ventilasi ruangan baik

Berikut ini perbedaan mendasar dalam pengobatan: 

Pes dan leptospirosis dapat diobati dengan antibiotik jika didiagnosis tepat waktu. 

Sementara hantavirus belum memiliki antivirus spesifik, penanganan sepenuhnya suportif dan berfokus pada menjaga fungsi pernapasan serta organ vital lainnya.

Hal tersebut yang membuat hantavirus lebih sulit ditangani.

Kesimpulan

Pes, leptospirosis, dan hantavirus adalah tiga pengingat nyata bahwa tikus bukan sekadar hama rumah biasa. 

Ketiganya menjadi ancaman serius, terutama ketika kebersihan lingkungan tidak dijaga dan populasi tikus tidak dikendalikan.

Langkah pencegahan paling efektif tetaplah mengendalikan populasi tikus, menjaga kebersihan lingkungan, dan menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat maupun sisa-sisanya. 

Jika kamu mengalami demam tinggi mendadak, terutama setelah terpapar banjir, aktivitas luar ruang, atau berada di area dengan banyak tikus, segera periksakan diri ke dokter dan informasikan riwayat paparan tersebut.

Untuk konsultasi lebih lanjut dengan dokter spesialis, kamu bisa menggunakan layanan Halodoc kapan saja dan di mana saja.

Punya Pertanyaan Tentang Hantavirus? Tanya ke HILDA Aja!

Mau tahu lebih jauh mengenai perkembangan kasus atau informasi lainnya mengenai hantavirus? Tanya HILDA aja!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) dapat menjawab pertanyaan umum tentang informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan, termasuk seputar penyakit hantavirus.

HILDA adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan, kasih gambaran langkah awal, arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan, hingga menemukan obat yang dibutuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.  

Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?

Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc. 

  • Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah. 
  • Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
  • Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis!
  • Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc  (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
  • Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
  • Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
  • Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada. 
  • Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.
  • Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.
Referensi: 
WHO. Diakses pada 2026. Plague Fact Sheet
WHO. Diakses pada 2026. Leptospirosis Fact Sheet
WHO. Diakses pada 2026. Hantavirus Disease Fact Sheet.
CDC Diakses pada 2026. Plague.
CDC Diakses pada 2026. Leptospirosis.
CDC Diakses pada 2026. Hantavirus. 
Kemenkes RI. Diakses pada 2026. Hantavirus: Virus dari Tikus yang Mematikan, Siapkah Indonesia Menghadapinya?
Kemenkes RI. Diakses pada 2026. Antisipasi Peningkatan Kasus, Kemenkes Perkuat Kewaspadaan Virus Hanta. 
PLOS Medicine. Diakses pada 2026. Plague: past, present, and future. 
PLOS Medicine. Diakses pada 2026. Global Morbidity and Mortality of Leptospirosis: A Systematic Review
BMC Journal. Diakses pada 2026. The validity of a behavioural multiple-mini-interview within an assessment centre for selection into specialty training. 
A Cell Press Journal. Diakses pada 2026. Hebbian activity-dependent plasticity in white matter.