Radang Vagina, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Radang vagina adalah kondisi yang menyebabkan peradangan pada area vagina dan vulva.

DAFTAR ISI
- Ketahui Penyebab Radang Vagina
- Faktor Risiko Radang Vagina
- Waspadai Gejala Radang Vagina
- Diagnosis Radang Vagina
- Pengobatan Radang Vagina
- Bahaya Komplikasi Radang Vagina
- Ini Cara Mencegah Radang Vagina
- Kapan Harus ke Dokter?
- Hubungi Dokter Ini untuk Jika Muncul Gejala Radang Vagina
Radang vagina, atau yang dikenal sebagai vaginitis, adalah kondisi yang bisa menyebabkan rasa tidak nyaman, seperti gatal, nyeri, hingga keputihan yang tidak normal.
Masalah ini bisa dialami siapa saja, baik karena infeksi, iritasi, atau ketidakseimbangan bakteri alami di area intim.
Walaupun terdengar mengkhawatirkan, radang vagina biasanya bisa diatasi dengan perawatan yang tepat.
Penting untuk mengenali penyebabnya agar penanganannya sesuai. Yuk, pelajari lebih lanjut apa saja penyebab radang vagina dan bagaimana cara mengatasinya!
Ketahui Penyebab Radang Vagina
Radang vagina adalah kondisi yang menyebabkan peradangan pada area vagina dan vulva.
Penyebabnya beragam, mulai dari infeksi hingga iritasi akibat produk tertentu.
Berikut beberapa penyebab umum radang vagina:
1. Infeksi Jamur (Kandidiasis Vaginal)
Infeksi ini terjadi akibat pertumbuhan berlebih jamur Candida, yang sebenarnya ada secara alami di vagina.
Ketika jumlahnya tak terkendali, jamur ini bisa menyebabkan keputihan kental berwarna putih mirip susu, gatal yang parah, dan rasa terbakar saat buang air kecil atau berhubungan seksual.
Infeksi jamur ini juga merupakan salah satu penyebab paling umum dari radang vagina.
Selain itu, yuk Kenali Anatomi Vagina dan Gangguan yang Sering Muncul.
2. Bacterial Vaginosis (BV)
Bacterial Vaginosis muncul ketika keseimbangan bakteri baik dan jahat di vagina terganggu.
Biasanya, bakteri baik seperti Lactobacillus melindungi vagina, tetapi saat jumlah bakteri jahat meningkat, bisa muncul gejala seperti keputihan encer dan bau amis yang lebih terasa setelah berhubungan intim, serta rasa gatal ringan atau perih.
Meski bukan infeksi menular seksual, aktivitas seksual bisa meningkatkan risiko Bacterial Vaginosis.
3. Trikomoniasis
Ini adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh parasit Trichomonas vaginalis.
Banyak wanita tidak langsung merasakan gejala, tapi saat muncul, biasanya berupa keputihan berbusa berwarna kuning-hijau, bau menyengat, rasa gatal intens, dan nyeri saat buang air kecil atau berhubungan seksual.
Penting untuk segera diobati karena jika dibiarkan, trikomoniasis bisa meningkatkan risiko terkena infeksi lain.
4. Iritasi atau Alergi
Area vagina sangat sensitif, jadi bahan-bahan kimia dalam produk kebersihan pribadi bisa memicu iritasi.
Misalnya, sabun wangi, deterjen pakaian, pembalut berparfum, atau pelumas tertentu bisa menyebabkan kemerahan, gatal, dan sensasi terbakar.
Bahkan celana dalam berbahan sintetis yang kurang menyerap keringat bisa memperparah iritasi. Menghindari pemicu ini bisa membantu mencegah peradangan.
5. Perubahan Hormon
Hormon estrogen berperan penting dalam menjaga kelembapan dan elastisitas dinding vagina.
Saat kadar hormon ini menurun, misalnya saat menopause, setelah melahirkan, atau saat menyusui, jaringan vagina bisa menjadi lebih tipis, kering, dan rentan iritasi.
Kondisi ini disebut vaginitis atrofi dan sering disertai rasa nyeri saat berhubungan seksual atau gatal terus-menerus.
Faktor Risiko Radang Vagina
Radang vagina bisa dialami siapa saja, namun terdapat beberapa faktor yang bisa meningkatkan risikonya.
Faktor risiko radang vagina meliputi:
- Mengalami fluktuasi hormon, seperti saat hamil, menyusui, atau menopause.
- Penurunan kadar estrogen.
- Sering berganti pasangan atau berhubungan seks tanpa kondom.
- Penggunaan antibiotik berlebihan.
- Membersihkan vagina terlalu sering, terutama dengan sabun berpewangi yang mengandung bahan kimia keras.
- Menggunakan pakaian yang terlalu ketat dan lembap.
- Daya tahan tubuh lemah.
Memahami faktor risiko ini bisa membantumu lebih waspada dan menjaga kesehatan area intim dengan lebih baik.
Waspadai Gejala Radang Vagina
Radang vagina, atau vaginitis, adalah kondisi yang bisa bikin tidak nyaman dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Oleh karena itu, penting untuk mengenali gejalanya sejak dini.
Berikut ini gejala radang vagina yang harus kamu waspadai:
- Keputihan tidak normal, berwarna abu-abu dengan bau amis.
- Gatal yang terus-menerus di area vagina atau vulva.
- Merasa sakit atau sensasi terbakar saat pipis.
- Bau amis tak sedap yang menyengat pada vagina.
- Nyeri atau terbakar saat berhubungan seks.
- Muncul bercak darah di luar siklus menstruasi.
- Area vagina terasa kering.
Jika kamu mengalami gejala tersebut, segera konsultasi pada dokter untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.
Diagnosis Radang Vagina
Apabila kamu mengalami keputihan tidak normal, gatal, atau nyeri di area intim, penting untuk memeriksakannya ke dokter.
Biasanya, dokter akan mulai dengan bertanya tentang gejala yang kamu rasakan dan melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat tanda-tanda peradangan.
Untuk memastikan penyebabnya, dokter bisa mengambil sampel cairan vagina dan memeriksanya di laboratorium untuk mendeteksi bakteri, jamur, atau parasit.
Tes pH vagina juga bisa dilakukan untuk mengetahui apakah ada ketidakseimbangan yang memicu radang.
Kalau dicurigai ada kondisi lain, misalnya infeksi menular seksual (IMS), dokter mungkin menyarankan tes darah atau urine.
Proses ini penting agar dokter bisa memberikan pengobatan yang sesuai dengan penyebab radang.
Pengobatan Radang Vagina
Pengobatan radang vagina tergantung pada penyebabnya.
Pada umumnya, dokter akan meresepkan obat yang sesuai untuk mengatasi infeksi atau peradangan yang terjadi. Misalnya:
- Infeksi bakteri: Diberikan antibiotik, baik dalam bentuk pil atau krim yang dioleskan ke vagina.
- Infeksi jamur: Diobati dengan antijamur, seperti krim atau supositoria yang dimasukkan ke dalam vagina.
- Trikomoniasis (infeksi parasit): Biasanya diatasi dengan antibiotik khusus, seperti metronidazole atau tinidazole.
- Iritasi atau alergi: Menghindari pemicu, seperti produk kebersihan yang mengandung pewangi, dan menggunakan krim steroid ringan untuk mengurangi peradangan.
- Atrofi vagina (karena penurunan hormon): Dapat ditangani dengan terapi hormon, seperti krim estrogen yang membantu mengurangi kekeringan dan iritasi.
Selain pengobatan medis, dokter juga menyarankan untuk menjaga kebersihan area intim, mengenakan pakaian dalam berbahan katun, dan menghindari douching agar keseimbangan bakteri baik tetap terjaga.
Jika gejalanya tidak membaik atau sering kambuh, penting untuk kontrol ulang supaya penanganannya lebih tepat.
Bahaya Komplikasi Radang Vagina
Apabila tidak segera diobati, radang vagina bisa menyebabkan berbagai komplikasi yang mengganggu kesehatan.
Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi, antara lain:
- Infeksi bakteri atau parasit naik ke rahim, saluran tuba, atau ovarium
- Penyakit radang panggul (PID)
- Gangguan kesuburan
- Klamidia
- Gonore
- Risiko persalinan prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah, atau ketuban pecah dini.
- Menurunkan kualitas hidup sehari-hari.
Oleh sebab itu, penting untuk segera berkonsultasi ke dokter kalau gejala radang vagina muncul atau terus berulang.
Dengan penanganan yang tepat, komplikasi ini bisa dicegah!
Ini Cara Mencegah Radang Vagina
Dengan menjaga kebersihan dan menerapkan kebiasaan sehat, kamu bisa melindungi area intim dari iritasi dan infeksi.
Yuk, simak beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Jaga kebersihan area intim.
- Bersihkan vagina dengan air hangat tanpa sabun yang mengandung pewangi atau bahan kimia keras.
- Gunakan pakaian dalam yang menyerap keringat.
- Pilih celana dalam berbahan katun yang lembut.
- Hindari douching atau membilas vagina dengan cairan pembersih khusus.
- Gunakan kondom saat berhubungan seksual untuk mengurangi risiko infeksi menular seksual (IMS).
- Ganti pakaian basah atau berkeringat segera.
- Konsumsi makanan yang kaya probiotik, seperti yogurt atau kimchi.
Dengan menjalani kebiasaan sehat ini, risiko mengalami radang vagina bisa berkurang drastis.
Jika ada keluhan atau gejala yang mengganggu, jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter.
Kapan Harus ke Dokter?
Beberapa tanda bisa menjadi sinyal kalau kamu butuh pemeriksaan lebih lanjut agar kondisinya tidak memburuk, di antaranya yaitu:
- Gejala seperti gatal dan keputihan yang tidak normal berlangsung lebih dari seminggu.
- Keputihan berbau menyengat atau berubah warna, seperti hijau, kuning, atau abu-abu, dan disertai bau tak sedap.
- Rasa sakit saat berhubungan atau buang air kecil.
- Pendarahan di luar siklus menstruasi.
- Demam yang menyertai gejala radang vagina.
Apabila kamu mengalami salah satu atau beberapa gejala ini, jangan tunda untuk ke dokter.
Diagnosis dan pengobatan yang cepat bisa mencegah komplikasi dan mempercepat pemulihan. Lebih baik periksa lebih awal daripada membiarkan gejalanya memburuk.
Hubungi Dokter Ini untuk Jika Muncul Gejala Radang Vagina
Apabila kamu mengalami gejala radang vagina, sebaiknya segera periksakan dirimu pada dokter spesialis melalui Halodoc.
Dengan pengalaman lebih dari 9 tahun, mereka bisa membantu mengidentifikasi penyebabnya serta meresepkan obat untuk mengurangi nyeri.
Ini daftar rekomendasinya:
1. dr. Frieda Sp.D.V.E

Kamu bisa menghubungi dr. Frieda Sp.D.V.E yang merupakan alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya pada 2015 dan Universitas Sebelas Maret pada 2022.
Ia kini berpraktik di Bogor, Jawa Barat dan tergabung sebagai tergabung sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) dengan nomor STR 3321602322166922.
Dengan pengalaman selama 9 tahun, dr. Frieda Sp.D.V.E memberikan layanan konsultasi di Halodoc terkait langkah mengatasi gejala radang vagina.
Kamu juga bisa bertanya padanya seputar penanganan jerawat, masalah kulit bayi dan anak-anak, penyakit kelamin, dan layanan estetika.
Chat dr. Frieda Sp.D.V.E mulai dari Rp 59.000,- di Halodoc
2. dr. Ryski Meilia Novarina Sp.D.V.E

Rekomendasi dokter lainnya yaitu dr. Ryski Meilia Novarina Sp.D.V.E., lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang pada 2010 dan Universitas Airlangga pada 2016.
Saat ini, ia berpraktik di Gresik, Jawa Timur dan tergabung sebagai tergabung sebagai anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) dengan nomor STR 3521602422110819.
Berbekal pengalaman selama 13 tahun, dr. Ryski Meilia Novarina Sp.D.V.E mampu menjawab pertanyaan kamu seputar cara mengobati radang vagina.
Ia juga bisa memberikan solusi terkait penyakit kelamin dan kulit secara aman dan akurat.
Chat dr. Ryski Meilia Novarina Sp.D.V.E mulai dari Rp 59.000,- di Halodoc
Jika dokter sedang tidak tersedia atau offline, kamu tak perlu khawatir.
Sebab kamu tetap bisa membuat janji konsultasi di lain waktu melalui aplikasi Halodoc atau berkonsultasi dengan dokter lainnya.
Tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga!


